21
December
2008

Memperbaiki Ummat dengan Da’wah Tauhid

Tauhid merupakan manhajnya Allah swt, yang disyariatkan kepada segenap para Nabi ‘alaihimu shalatu wassalam. Tak seorang Rasulpun yang mendakwahi umatnya melainkan mengawalinya dengan tauhid, walaupun dakwah-dakwah mereka (disamping dakwah tauhid) mencakup semua kebaikan bagi manusia. Sebagaimana sabda Nabi Shallallahu’alaihi wa sallam:

“Sesungguhnya tidak ada seorang nabipun sebelumku melaikan wajib baginya untuk menunjukkan kebaikan yang dia ketahui kepada ummatnya dan memperingatkan mereka dari kejelekan yang dia ketahui.” (Riwayat Muslim)

Maka para Nabi membawa setiap kebahagiaan dan perkara yang membahagiakan manusia, akan tetapi mereka memulai dari perkara yang terpenting, kemudian perkara penting berikutnya.
Barangsiapa memperhatikan Al Qur’an, niscaya dia akan melihat bahwa dakwah setiap Nabi memiliki kesamaan yang sangat erat dalam permasalahan pokok yang agung; diantaranya (kesamaan dalam masalah, ed.) tauhid, penetapan tentang kenabian, penetapan adanya hari kebangkitan dan pembalasan.

Namun inti tema dakwah mereka dan menjadi sebab pergolakan antara mereka dengan umatnya adalah tauhid, yaitu tauhidul ibadah (mengesakan ibadah hanya kepada Allah). Karena tidak akan engkau lihat di dalam Al Qur’an, pertentangan antara nabi dengan ummatnya dalam perkara Tauhid Rubiyyah (keyakinan bahwa hanya Allah sebagai pencipta, pemberi rezki dan pengatur alam semesta) dan Tauhid Asma’ wa Sifat. Tiada keraguan sedikitpun bahwa mereka mendustakan dan mengingkari hari kebangkitan, akan tetapi yang sangat mereka dustakan adalah dakwah kepada pemurnian agama hanya kepada Allah Tabaraka wa Ta’ala. Maka engkau lihat ini adalah dakwah seluruh para Nabi.

Sebagaimana Allah terangkan dalam kitab-Nya, perkara yang didahulukan oleh para Nabi adalah memperbaiki Tauhid, memperbaiki kekurangan pada Tauhidul Ibadah. Karena yang dilakukan pertamakali oleh Syaitan ketika merencanakan tipu dayanya kepada bani Adam –setelah dia mengatur tipu dayanya kepada Adam dengan menjerumuskannya memakan buah pohon (di surga)- adalah tipu daya dalam perkara Tauhidul Ibadah.

Dikala syetan membujuk kaum Nuh ‘alaihissalam agar menggantungkan gambar orang-orang shaleh dan membuat patung-patung mereka, maka merekapun melakukannya. Tatkala generasi (pertama) yang mengenal orang-orang shaleh itu telah tiada, syetan datang kepada mereka pada kesempatan yang lain seraya berkata: “Tidaklah ditancapkan patung orang-orang shaleh ini melainkan untuk diibadahi.”

Nuh ‘alaihissalam senantiasa mendakwahi kaumnya selama 950 tahun, sebagaimana Allah kisahkan dalam kitab-Nya yang mulia. Jadilah kaum Nuh sebagai kaum yang jelek, paling dhalim dan paling melempaui batas. Nuh ‘alaihissalam mendakwahi kaumnya selama 950 tahun namun tidaklah beriman kepadanya kecuali sedikit. Berapa banyak generasi dan abad yang telah dilalui oleh Nuh? Sembilan ratus lima puluh tahun. Toh demikian tidaklah menambah mereka kecuali penentangan dan kesombongan. Maka Nuh mendoakan kejelekan, sehingga Allah Tabaraka wa Ta’ala membinasakan mereka. Dan Allah mengeluarkan dari anak cucu Nuh, berupa anak cucu yang tunduk kepada Allah. Namun syetan menyambar mereka dengan sangat cepat, kemudian menjerumus-kan mereka ke dalam lumpur kesyirikan terhadap Allah ‘azza wa jalla.

( Baca Selengkapnya )

18
December
2008

Hikmah Mengingat Kematian

Ubadah bin Shamid r.a. meriwayatkan bahwa Rasulullah saw. bersabda, “Allah berfirman: Apabila hamba-Ku senang untuk bertemu dengan-Ku, Aku juga senang untuk bertemu dengannya. Dan jika dia tidak suka untuk bertemu dengan-Ku, Aku juga tidak suka untuk bertemu dengannya.” (HR. Bukhari, hadits shahih)

Aisyah r.a. meriwayatkan bahwa Rasulullah saw. bersabda, “Barangsiapa senang untuk bertemu dengan Allah, maka Allah juga senang untuk bertemu dengannya. Dan barangsiapa benci untuk bertemu dengan Allah, maka Allah juga benci untuk bertemu dengannya.” Aku bertanya, “Wahai Nabi Allah, apakah –yang dimaksud dengan benci untuk bertemu dengan Allah adalah—membenci kematian? Setiap kita membenci kematian.”

Nabi saw menjawab, “Bukan seperti itu, melainkan orang mukmin ketika mendapatkan kabar gembira bahwa ia memperoleh rahmat, ridha, dan surga Allah, maka ia senang untuk bertemu dengan Allah. Alah pun senang untuk bertemu dengannya. Adapun orang kafir ketika mendapatkan kabar gembira bahwa ia akan mendapatkan azab dan murka Allah, maka ia benci untuk bertemu dengan Allah. Allah pun benci untuk bertemu dengannya.” (HR. Muslim, hadits shahih)

Hidup di dunia ini tidaklah selamanya. Akan datang masanya kita berpisah dengan dunia berikut isinya. Perpisahan itu terjadi saat kematian menjemput, tanpa ada seorang pun yang dapat menghindar darinya. Karena Ar-Rahman telah berfirman:

كُلُّ نَفْسٍ ذَائِقَةُ الْمَوْتِ وَنَبْلُوكُمْ بِالشَّرِّ وَالْخَيْرِ فِتْنَةً وَإِلَيْنَا تُرْجَعُونَ
“Setiap yang berjiwa pasti akan merasakan mati, dan Kami menguji kalian dengan kejelekan dan kebaikan sebagai satu fitnah (ujian), dan hanya kepada Kami lah kalian akan dikembalikan.” (Al-Anbiya`: 35)

أَيْنَمَا تَكُونُوا يُدْرِكُكُمُ الْمَوْتُ وَلَوْ كُنْتُمْ فِي بُرُوجٍ مُشَيَّدَةٍ
“Di mana saja kalian berada, kematian pasti akan mendapati kalian, walaupun kalian berada di dalam benteng yang tinggi lagi kokoh.” (An-Nisa`:78): 8)

Kematian akan menyapa siapa pun, baik ia seorang yang shalih atau durhaka, seorang yang turun ke medan perang ataupun duduk diam di rumahnya, seorang yang menginginkan negeri akhirat yang kekal ataupun ingin dunia yang fana, seorang yang bersemangat meraih kebaikan ataupun yang lalai dan malas-malasan. Semuanya akan menemui kematian bila telah sampai ajalnya, karena memang:

كُلُّ مَنْ عَلَيْهَا فَانٍ
“Seluruh yang ada di atas bumi ini fana (tidak kekal).” (Ar-Rahman: 26)

Mengingat mati akan melembutkan hati dan menghancurkan ketamakan terhadap dunia. Karenanya, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam memberikan hasungan untuk banyak mengingatnya. Beliau bersabda dalam hadits yang disampaikan lewat shahabatnya yang mulia Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu:

أَكْثِرُوْا ذِكْرَ هَاذمِ اللَّذَّاتِ
“Perbanyaklah kalian mengingat pemutus kelezatan (yakni kematian).” (HR. At-Tirmidzi, An-Nasa`i, Ibnu Majah. )

( Baca Selengkapnya )

16
December
2008

Inna Lillaahi Wa Inna Ilaihi Rooji’uun

Telah dipanggil ke rahmatullah, putera kami Abdullah Yusuf AlFaqih (Aya) bin Ahmad Zuhdi, pada hari Ahad malam Senin pukul 18 05 WIB, tanggal 17 Dzulhijjah 1429 H, dalam usia 5 tahun. Jenazah dimakamkan pada malam itu juga pukul 22 00 di Pemakaman Umum Regency. Kami mengucapkan Jazakumullah khoiron katsiiron atas amal sholih ikhwan dan akhwat dalam pengurusan jenazah putera kami, mulai dari pemandian, pensholatan dan pemakaman almarhum

11
December
2008

Setan adalah Musuh orang Beriman

Dalam Al Qur’an, setan adalah nama umum untuk seluruh makhluk yang berusaha keras menyesatkan manusia hingga Hari Pembalasan nanti. Iblis adalah setan pertama yang membangkang kepada Allah ketika Dia menciptakan Adam. Allah telah memperingatkan manusia agar tidak tergoda oleh setan, sebagai mana dia telah berhasil memperdayakan kedua orang tua manusia yang pertama, Adam dan Hawa ‘alaihimas salam.

Allah SWT berfirman: ”Hai anak Adam, janganlah sekali-kali kamu dapat ditipu oleh setan sebagaimana ia telah mengeluarkan kedua ibu bapakmu dari surga, ia menanggalkan dari keduanya pakaiannya untuk memperlihatkan kepada keduanya ‘auratnya. Sesungguhnya ia dan pengikut-pengikutnya melihat kamu dari suatu tempat yang kamu tidak melihat mereka. Sesungguhnya Kami telah menjadikan setan-setan itu pemimpin bagi orang-orang yang tak beriman. (QS. Al-A’raf: 27)

Oleh karena itulah dengan rahmat-Nya, Allah memerintahkan manusia untuk menjadikan setan sebagai musuhnya, karena memang hakikatnya setan adalah musuh nyata manusia. Dia berfirman, yang artinya, Sesungguhnya setan itu adalah musuh yang nyata bagimu, maka jadikanlah ia musuh(mu), karena sesungguhnya setan-setan itu hanya mengajak golongannya supaya mereka menjadi penghuni neraka yang menyala-nyala. (QS. Fathir: 6). Sedangkan tindakan seseorang terhadap musuhnya telah jelas, yaitu berusaha dengan segenap kemampuan agar segala keburukan menimpa musuhnya dan segala kebaikan terlepas darinya.

Imam Ibnul Qayim rahimahullah mengomentari ayat di atas dengan perkataan, Perintah Allah untuk menjadikan setan sebagai musuh ini sebagai peringatan, agar (manusia) mengerahkan segala kemampuan untuk memerangi dan melawan setan. Sehingga setan itu seolah-olah musuh yang tidak pernah berhenti dan tidak pernah lalai

Memang setan merupakan musuh yang tidak pernah berhenti dan tidak pernah lalai. Bahkan selalu menyertai dan menghadang manusia di atas setiap jalan kebaikan. Karena memang pada setiap diri manusia itu ada setan dari kalangan jin yang berusaha menyesatkannya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: „Tidaklah seorangpun di antara kamu kecuali disertakan padanya jin yang selalu menyertainya“. Para sahabat bertanya, “Kepada Anda juga wahai Rasulullah?” Beliau menjawab, “Juga kepada saya, tetapi Allah membantuku melawannya, sehingga dia masuk Islam. Maka dia tidak memerintahkanku kecuali dengan kebaikan.

( Baca Selengkapnya )

10
December
2008

Pakar Jerman Pelajari Manajemen Kerumunan Haji

[ Republika, 9 Desember 2008 ] MEKAH – Dua mahasiswa peraih gelar doktor di sebuah universitas Jerman dalam waktu dekat akan mempertahankan proyek desertasi tiga tahun mereka yang bertema manajemen kerumunan Haji di Jembatan Jamarat.

Dua calon doktor ini mengatakan tertarik pada topik mempelajari manajemen kerumuna–sedikitnya 2,5 juta–jamaah di Jembatan Jamrat. Tak lain karena jumlah yang luar biasa padat bila dibanding dengan kerumunan terpadat di tempat-tempat lain dunia yang maksimal hanya mencapai 200 ribuan orang.

Proyek studi mereka fokus pada pengelolaan dan pemantauan pergerakan jamaah di Mina melalui layar TV super sensitif. Dalam desertasi tersebut, mereka juga mempelajari parameter dan pertimbangan yang diambil pemerintah Arab Saudi untuk memanajemen kerumunan Haji dalam ruang geografi yang terbatas, yakni Mekah, Madinah, dan Jedah.

Penelitian ini juga fokus terhadap metode rasional yang digunakan untuk menghindari kerumunan pejalan kaki, yang saling berdesakan sehingga menginjak jamaah lain yang pernah terjadi di area Jamrat. Proyek besar sekaligus studi terhadap Haji dari prespektif Islam itu telah rupanya menggelitik mereka. Kini, seperti yang dilansir oleh Saudi Gazette.com, keduanya tengah berpikir untuk memeluk Islam./it