10
September
2008

Maka syuro dalam Islam itu hanya untuk orang-orang yang berilmu dan bukan untuk orang awam berdasarkan dalil-dalil di atas, dimana Al Bukhori mengatakan: ” … bermusyawarah dengan orang-orang yang terpercaya dari kalangan orang-orang berilmu …” dan Al Bukhori mengatakan mengenai Abu Bakar: ” … memanggil para pemimin dan ulama’ kaum muslimin …” dan Al Bukhori mengatakan tentang Umar: ” … Dahulu para qurro’ …” dan mereka itu adalah para ulama’ sahabat. Dan ada dalil-dalil lain yang menunjukkan bahwa hendaknya tidak diajak bermusyawarah kecuali orang yang memiliki ilmu dan keahlian, di antaranya adalah:
1. Firman Alloh ta’ala:
فَاسْأَلُوا أَهْلَ الذِّكْرِ إِنْ كُنْتُمْ لا تَعْلَمُونَ Maka bertanyalah kepada orang yang berilmu jika kalian tidak mengetahui. (An Nahl : 43 dan An Anbiya’ : 7)
2. Firman Alloh ta’ala:
وَلا يُنَبِّئُكَ مِثْلُ خَبِيرٍ
Dan tidak dapat memberi informasi kepadamu sebagaimana (orang) yang (memiliki ) banyak pengetahuan. (Fathir : 14) 3. Firman Alloh ta’ala:
وَإِذَا جَاءَهُمْ أَمْرٌ مِنَ الأَمْنِ أَوْ الْخَوْفِ أَذَاعُوا بِهِ وَلَوْ رَدُّوهُ إِلَى الرَّسُولِ وَإِلَى أُوْلِي الأَمْرِ مِنْهُمْ لَعَلِمَهُ الَّذِينَ يَسْتَنْبِطُونَهُ مِنْهُمْ
Dan apabila datang kepada mereka suatu berita tentang keamanan atau ketakutan, mereka lalu menyiarkannya. Dan seandainya mereka menyerahkannya kepada Rosul dan Ulil Amri di antara mereka, tentulah orang-orang yang ingin mengetahui kebenarannya (akan dapat) mengetahuinya dari mereka (Rosul dan Ulil Amri). (An Nisa’: 83) Karena kembali kepada Al Qur’an dan As Sunnah itu artinya adalah kembali kepada para ulama’ yang memahami keduanya. Hal semakna dengan ini adalah firman Alloh ta’ala:
وَمَا اخْتَلَفْتُمْ فِيهِ مِنْ شَيْءٍ فَحُكْمُهُ إِلَى اللَّهِ Tentang sesuatu apapun kamu berselisih, maka putusannya (terserah) kepada Alloh. (Syuro: 10)
( Baca Selengkapnya )
bachirahmad
Aqidah
No Comments »
10
September
2008

Telah berfirman Allah ta’ala :
شَرَعَ لَكُم مِّنَ الدِّينِ مَا وَصَّى بِهِ نُوحاً وَالَّذِي أَوْحَيْنَا إِلَيْكَ وَمَا وَصَّيْنَا بِهِ إِبْرَاهِيمَ وَمُوسَى وَعِيسَى أَنْ أَقِيمُوا الدِّينَ وَلَا تَتَفَرَّقُوا فِيهِ كَبُرَ عَلَى الْمُشْرِكِينَ مَا تَدْعُوهُمْ إِلَيْهِ اللَّهُ يَجْتَبِي إِلَيْهِ مَن يَشَاءُ وَيَهْدِي إِلَيْهِ مَن يُنِيبُ“
“Dia telah mensyari’atkan bagi kamu tentang agama, (seperti) apa yang telah diwasiatkan-Nya kepada Nuh dan apa yang telah Kami wahyukan kepadamu dan apa yang telah Kami wasiatkan kepada Ibrahim, Musa dan Isa yaitu: Tegakkanlah agama dan janganlah kamu berpecah belah tentangnya. Amat berat bagi orang-orang musyrik agama yang kamu seru mereka kepadanya. Allah menarik kepada agama itu orang yang dikehendaki-Nya dan memberi petunjuk kepada (agama)-Nya orang yang kembali (kepada-Nya).” (Asy Syura: 13).
Di dalam menegakkan din ini harus sesuai dengan cara rasulullah menegakkan dien sebagai uswah dan suri tauladan kita, yaitu harus dengan cara ikhlas, kaffah dan berjama’ah. Dan diperkuat dengan firman Allah ta’ala :
وَاعْتَصِمُواْ بِحَبْلِ اللّهِ جَمِيعاً وَلاَ تَفَرَّقُواْ وَاذْكُرُواْ نِعْمَتَ اللّهِ عَلَيْكُمْ إِذْ كُنتُمْ أَعْدَاء فَأَلَّفَ بَيْنَ قُلُوبِكُمْ فَأَصْبَحْتُم بِنِعْمَتِهِ إِخْوَاناً وَكُنتُمْ عَلَىَ شَفَا حُفْرَةٍ مِّنَ النَّارِ فَأَنقَذَكُم مِّنْهَا كَذَلِكَ يُبَيِّنُ اللّهُ لَكُمْ آيَاتِهِ لَعَلَّكُمْ تَهْتَدُونَ
“Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai, dan ingatlah akan nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa Jahiliyah) bermusuh-musuhan, maka Allah mempersatukan hatimu, lalu menjadilah kamu karena nikmat Allah, orang-orang yang bersaudara; dan kamu telah berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu dari padanya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu, agar kamu mendapat petunjuk.” (Ali Imran: 103).
Dan hadits rasulullah saw.
. عليكم بالجماعة واياكم والفرقة“
Hendaklah kalian berjama’ah dan janganlah kalian berpecah belah”. (Musnad Ahmad 4/278, Shahih At Tirmidzi 2/232).
( Baca Selengkapnya )
bachirahmad
Aqidah
No Comments »
9
September
2008

Disebutkan dalam Shahihain sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda : “Barangsiapa puasa bulan Ramadhan karena iman dan mengharap pahala dari (Allah), niscaya diampuni dosa-dosanya yang telah lalu. “ Dan dalam Musnad Imam Ahmad dengan sanad hasan disebutkan: “Dan (dosanya) yang Kemudian”. “Barangsiapa mendirikan shalat pada malam Lailatul Qadar, karena iman dan mengharap pahala dari Allah niscaya diampuni dosa-dosanya yang telah lalu, dan barangsiapa mendirikan shalat malam di bulan Ramadhan karena iman dan mengharap pahala dari (Allah), niscaya diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.” An-Nasa’i menambahkan: “Diampuni dosanya, baik yang telah lalu maupun yang datang belakangan. “
Ibnu Hibban dan AlBaihaqi meriwayatkan dari Abu Sa’id, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alihi wasallam bersabda : “Barangsiapa berpuasa di bulan Ramadhan dan mengetahui batas-batasnya (ketentuan-ketentuannya) serta memelihara hal-hal yang harus dijaga, maka dihapus dosanya yang telah lalu.”
Ampunan dosa tergantung pada terjaganya sesuatu yang harus dijaga seperti melaksanakan kewajiban-kewajiban dan meninggalkan segala yang haram. Mayoritas ulama berpendapat bahwa ampunan dosa tersebut hanya berlaku pada dosa-dosa kecil, hal itu berdasarkan hadits riwayat Muslim, bahwasanya Nabi shallallahu ‘alihi wasallam bersabda : “Shalat lima waktu, Jum’at sampai dengan Jum’at berikutnya dan Ramadhan sampai Ramadhan berikutnya adalah penghapus dosa yang terjadi di antara waktu-waktu tersebut, selama dosa-dosa besar ditinggalkan. “
( Baca Selengkapnya )
bachirahmad
Taushiyah
No Comments »
9
September
2008

Aqidah dan manhaj ahli Tauhid menjelaskan tentang jati diri dan apa-apa yang disepakati bersama, yang merupakan ajaran Islam yang dianut dan atas dasar itulah ahli tauhid berkumpul dan beramal. Maka setelah memuji dan memohon pertolongan kepada Alloh ta’ala kami katakan:
1. Kami bersaksi bahwa tidak ada yang berhak diibadahi selain Alloh dan tidak ada tugas bagi kita selain beribadah kepada-Nya. Alloh ta’ala berfirman:
قال الله تعالى: وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْأِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ
“Dan tidaklah Aku ciptakan jin dan manusia kecuali hanya untuk beribadah kepada-Ku”. (Adz Dzariyat: 56)
Dan ibadah yang harus diperuntukkan hanya kepada Alloh itu adalah mencakup semua hal yang diperintahkan Alloh baik berupa perbuatan maupun ucapan, baik yang lahir mapun yang batin. Alloh ta’ala berfirman:
قال الله تعالى: قُلْ إِنَّ صَلاتِي وَنُسُكِي وَمَحْيَايَ وَمَمَاتِي لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ . لا شَرِيكَ لَهُ وَبِذَلِكَ أُمِرْتُ وَأَنَا أَوَّلُ الْمُسْلِمِينَ
“Katakanlah: Sesungguhnya sholatku, ibadahku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Alloh, Robb semesta alam, tiada sekutu baginya; dan demikian itulah yang diperintahkan kepadaku dan aku adalah orang yang pertama-tama menyerahkan diri (kepada Alloh)”. (QS. [6] Al An’am: 162-163)
Kesaksian ini dalam Islam merupakan amalan yang dilakukan pertama kali, terakhir kali dan sepanjang hidup, baik secara lahir dan maupun batin. Dan ini juga merupakan pokok aqidah yang diserukan oleh semua Rasul. Allah berfirman:
“Dan sungguhnya Kami telah mengutus rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan): “Sembahlah Allah (saja), dan jauhilah Thaghut itu. (QS. [16] An Nahl: 36)”.
Barangsiapa mengucapkannya dan menetapi syarat-syaratnya, serta melaksanakan haknya maka dia adalah seorang muslim. Dan barangsiapa tidak melaksanakan syarat-syaratnya, atau melakukan salah satu dari pembatal-pembatalnya tanpa udzur yang telah disepakati oleh para ulama ahlus sunnah wal jama’ah, maka dia kafir meskipun dia mengaku sebagai seorang Muslim.
( Baca Selengkapnya )
bachirahmad
Aqidah
No Comments »
8
September
2008

Tujuan ibadah puasa adalah untuk menahan nafsu dari berbagai syahwat, sehingga ia siap mencari sesuatu yang menjadi puncak kebahagiaannya, menerima sesuatu yang menyucikannya, yang di dalamnya terdapat kehidupannya yang abadi, mematahkan permusuhan nafsu terhadap lapar dan dahaga serta mengingatkannya dengan keadaan orang-orang yang menderita kelaparan di antara orang-orang miskin, menyempitkan jalan setan pada diri hamba dengan menyempitkan jalan aliran makanan dan minuman, puasa adalah untuk Robb semesta alam, tidak seperti amalan-amalan yang lain, ia berarti meninggalkan segala yang dicintai karena kecintaannya kepada Allah Ta ‘ala, ia merupakan rahasia antara hamba dengan Robbi-nya, sebab para hamba mungkin bisa diketahui bahwa ia meninggalkan hal-hal yang membatalkan puasa secara nyata, tetapi keberadaan dia meninggalkan hal-hal tersebut karena Sembahannya, maka tak seorangpun manusia yang mengetahuinya, dan itulah hakikat puasa. Puasa yang disyari’atkan adalah puasanya anggota badan dari dosa-dosa, dan puasanya perut dari makan dan minum. Sebagaimana makan dan minum membatalkan dan merusak puasa, demikian pula halnya dengan dosa-dosa, ia memangkas pahala puasa dan merusak buahnya, sehingga memposisikannya pada kedudukan orang yang tidak berpuasa.
Karena itu, orang yang benar-benar berpuasa adalah orang yang puasa segenap anggota badannya dari melakukan dosa-dosa, lisannya berpuasa dari dusta, kekejian dan mengada-ada, perutnya berpuasa dari makan dan minum …..
( Baca Selengkapnya )
bachirahmad
Syari'ah
No Comments »