21
August
2008

Tokoh Pembaharu Islam Indonesia0

Pembawa obor Islam yang mula-mula ke Indonesia adalah kaum saudagar, yang disamping mereka berniaga berjual-beli, langsung menyiarkan agama Islam. Tetapi setelah Indonesia jatuh ke bawah cerpu telapak kaki penjajah Belanda, mereka menetapkan saja bahwa Islam masuk ke Indonesia di dalam kurun Ketiga Belas Masehi, karena di abad itulah berdiri Kerajaan Islam di Pasai, Aceh. Padahal sudah barang tentu bahwa bukanlah kerajaan yang berdiri lebih dahulu sebelum ada rakyat.

Tetapi di permulaan abad keenam belas, yaitu tahun 1511, didorong oleh rasa benci yang sangat mendalam diantara kerajaan-kerajaan Kristen bekas Perang Salib dan sesudah runtuhnya Kerajaan Islam di Andalus, bangsa Portugis telah menyerang Malaka sehingga jatuh. Dan diakhir abad itu, yaitu tahun 1596, masuklah Belanda ke pelabuhan Banten yang permai, terletak di Pulau Jawa sebelah Barat. Setelah itu, satu demi satu masuklah pengaruh mereka menaklukkan, kadang-kadang secara kekerasan dan kadang-kadang secara tipuan, baik di Jawa atau di Sumatera atau di pulau-pulau yang lain.

Maka dengan segala daya dan upaya, tipu dan daya, berusahalah mereka menghapus pengaruh Islam yang menjadi sendi kekuatan bangsa Indonesia itu, baik denganpedang ataupun dengan siasat lain. Maka dalam masa 442 tahun di Semenanjung Tanah Melayu (yang telah mencapai kemerdekaannya 31 Agustus 1957 yang lalu), dan 350 tahun di Indonesia, mereka berusaha keras memadamkan cahaya Islam. Tetapi Allah tidak mau melainkan disempurnakanNya juga cahayaNya, bagaimanapun juga orang kafir menolaknya!

Hampir 4 abad lamanya kami berjuang untuk tetap hidup, kami berjuang untuk mempertahankan supaya agama kami jangan hapus karena pengaruh kekuasaan asing yang berbeda agama itu. Segala sesuatu telah diambil dengan paksa dari tangan kami, sejak dari kekuasaan raja-raja kami sampai kepada kekayaan tanah kami yang subur dan pusaka nenek moyang kami. Sehinga yang tinggal pada kami hanyalah satu saja lagi, yang mereka tidak sanggup mengambilnya, yaitu Iman dan kepercayaan kami yang dalam dan teguh, yaitu “Tidak ada Tuhan selain Allah dan Muhammad Rasulullah!”.

( Baca Selengkapnya )

28
July
2008

Belajar dari Ibunda seluruh Mukminin0

Sejarah Islam sangat didominasi oleh perjalan hidup para pelakunya, terutama Muhammad Rasulullah saw. Kita mengenal banyak sosok pahlawan Islam di dalam diri sahabat-sahabat Rasulullah saw. Mereka itu tak hanya dari kalangan laki-laki, tapi juga banyak sahabat wanita. Namun sayangnya banyak buku yang sudah ditulis tentang para pelaku sejarah permulaan Islam, tak banyak menampilkan tokoh wanita shahabiyah, seperti para isteri Rasulullah saw. saja. Padahal peran para sahabat wanita itu tidak kalah besar dibanding sahabat laki-laki.

Para isteri dikenal sebagai pemimpin rumah tangga yang sukses, da’i penyebar agama Islam, pengusaha sukses, bahkan anggota pasukan perang yang gigih membela Rasulullah SAW dengan darah dan nyawanya.

Ketika rombongan keluarga Nabi SAW dan Abu Bakar Ash-Shiddiq ra. sampai di Madinah, Rasulullah SAW sedang membangun masjid dan ruangan-ruangan di sekeliling masjid itu. Lalu Nabi SAW menempatkan mereka di sebuah rumah milik Haritsah bin Nu’man ra. Rasulullah SAW menyempurnakan pernikahannya dengan ‘Aisyah ra di ruangan itu. Dan Rasulullah SAW pun dimakamkan di tempat yang sama. Haritsah bin Nu’man memiliki beberapa rumah di sekitar masjid Nabawi. Apabila Rasulullah SAW menikahi seseorang, maka Haritsah akan pindah dari rumahnya demi beliau, sehingga akhirnya semua rumahnya digunakan untuk Rasulullah SAW dan isteri-isteri beliau. Nabi SAW membuat pintu masuk ke masjid melalui pintu kamar ‘Aisyah. Diriwayatkan bahwa ketika beliau sedang beri’tikaf, beliau menjengukkan kepalanya dari masjid lewat pintu ‘Aisyah. lalu ‘Aisyah mencuci kepala beliau sementara dia sedang haid.

(  Baca Selengkapnya )

18
July
2008

Jihad Umar Mukhtar0

Dahulu Libya merupakan bagian dari negara Islam yang berada pada naungan Khilafah Utsmaniyah, dan walinya saat itu Al Mahdi As Sanusi. Namun keadaan Daulah Utsmaniyah mulai melemah semenjak akhir-akhir abad 18 M, dikarenakan serangan dari Salibisme Barat dalam ambisinya untuk meruntuhkan Khilafah Islamiyah dan menguasai dunia Islam.

Dalam melaksanakan rencana ini Salibisme Barat bekerja sama dengan Masoni, hingga Palestina dapat dijajah dan dihadiahkan pada Yahudi bahkan membantunya dalam mendirikan pemukiman bagi bangsa Yahudi. Begitu juga halnya dengan Libya ( Tripolis Barat ) salah satu dunia Islam yang dijajah oleh penjajah Itali dengan persekongkolan jahat yang didalangi oleh Zionisme Metre Salim.

Armada Itali menyerbu pelabuhan di kota Ben Ghozi. Dengan kapal perangnya Itali menyerang kota tersebut dengan senjata-senjata berat, hingga memporak-porandakan penduduk, menghancurkan rumah-rumah dan mengubur nyawa yang tak terhitung jumlahnya. Dengan keadaan ini, mulailah penduduk Libya bangkit melawan penjajah, memanfaatkan sebagian persenjataan bekas tentara-tentara Utsmani dan menyerang Itali. Namun mereka para Mujahid sangat membutuhkan seorang komandan yang tangguh dan cerdas untuk menyatukan shof-shof mereka. Dan didapatilah seorang komandan dari mujahid yang agung, beliau adalah Umar Mukhtar.

Beliau adalah Umar Mukhtar bin Umar Al Manfy, seorang yang paling terkenal sebagai mujahid di Tripolis Barat dalam menentang penjajah Itali. Dilahirkan di Al Bathnan yaitu di Burqoh pada tahun 1862 M dari kedua orang tua yang saleh, ayah beliau meninggal saat pergi ke Hijaz dalam perjalanan Ibadah Haji.

Umar Mukhtar tumbuh dalam ketaatan dien, beliau hafal Al qur’an saat umurnya belum genap 13 tahun. Beliau juga mendalami Syari’ah Islamiyah sebagaimana mendalami siroh sohabat tentang kepahlawanan mereka di medan pertempuran. Sudah ma’ruf sepanjang hidup beliau dijalani dalam ketaqwaan kepada Allah, juga tentang Ghirohnya berperang demi Islam. Untuk itu beliau dipilih oleh Wali Libya sebagai Qodhi di daerah Qusyur.

Itali mengetahui rencana dan tujuan Umar Mukhtar dan jama’ahnya akan menuju Libya, maka mereka mengirim pasukan dengan persenjataan lengkap untuk menghalangi perjalanan beliau, maka terjadilah pertempuran yang sengit antara keduanya. Allah telah mentaqdirkan keselamatan pada Umar Mukhtar dan jama’ahnya hingga mampu membunuh tentara Italia dalam jumlah yang besar, tanpa menafikan beberapa syuhada’ yang dipilih oleh Allah. Sampailah Umar Mukhtar dengan selamat di Libya.

Umar Mukhtar tahu bahwa suatu revolusi militer membutuhkan seorang komandan yang mempunyai perhatian besar untuk membangunnya. Pertama kali yang ditancapkan dalam dada mereka adalah iman yang mantap, sebagai penopang kekuatan dalam menghadapi penjajah. Maka sebagian besar dari komandan-komandan dan para mujahidin Libya sepakat memilih Umar Mukhtar untuk ditarbiyah secara Islami dan meniupkan dalam hatinya Ruhul Jihad, dibesarkan hatinya untuk berani mencapai syahid di jalan Allah, dan mendorong kepada para mujahiddin untuk menghancurkan tentara Itali tanpa mengharapkan sesuatu kecuali dari Ihda Husnayaini ” An Nashru wa As Siyadah atau Al Mautu wa As Syahadah “.

Dalam strategi menghadapi pasukan Itali dengan memakai politik perang gerilya, karena untuk perang secara terbuka dari segi pasukan dan peralatan perang tak seimbang. Beliau memilih Jabal Akhdhor sebagai markaz, daerah ini sangat strategis bagi perjuangan gerilya mujahidin, melihat bnyaknya gunung-gunung dan hutan yang menyulitkan bagi tentara Itaali untuk sampai kesana.

Pasukan Itali sudah puluhan kali meencoba menggempur markaz mujahidin ini, namun setiap serangan mereka hanya menambah kerugian nyawa dan harta saja alias gagal. Kesempatan ini dimanfaatkan mujahidin untuk merebut senjata mereka dan membuka sasaran baru untuk menghancurkan tentara salib.

( Baca Selengkapnya )

2
July
2008

Mengenal Imam Mahdi yang Ditunggu0

Berita akan munculnya sosok penegak sunnah nan adil itu telah disampaikan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam banyak hadits. Bahkan tak sedikit dari para ulama yang menyatakan bahwa haditsnya mencapai derajat mutawatir secara makna, sehingga tiada lagi celah bagi siapapun untuk mengingkarinya. Di antara ulama yang menyatakan kemutawatiran hadits-haditsnya adalah Abul Hasan Muhammad bin Husain As-Sijzi (wafat 363 H), Muhammad Al-Barzanji (wafat 1103 H), As-Safarini, As-Sakhawi, Asy-Syaukani, Shiddiq Hasan Khan, Al-Kattani, dan lain-lain rahimahumullah. Para ulama yang menyebutkan keshahihan hadits tentang Al-Mahdi sangat banyak, dari kalangan ulama terdahulu maupun belakangan. Asy-Syaikh Al-Albani rahimahullahu telah menyebutkan sebagian nama mereka, di antaranya 16 ulama yang saya sebutkan sebagiannya: Abu Dawud, Al-Qurthubi, Ibnu Taimiyyah, Adz-Dzahabi, Ibnul Qayyim, dan Ibnu Hajar rahimahumullah.

Sehingga ini menjadi salah satu akidah Ahlus Sunnah wal Jamaah. As-Safarini mengatakan: “Telah banyak riwayat yang menyebutkan akan munculnya Al-Mahdi sehingga mencapai derajat mutawatir secara makna. Dan itu telah tersebar di kalangan Ahlus Sunnah sehingga teranggap sebagai aqidah mereka….” –beliau menyebut hadits, atsar serta nama para sahabat yang meriwayatkannya, lalu beliau berkata– “Dan telah diriwayatkan dari para sahabat yang disebutkan dan selain mereka dengan riwayat yang banyak, juga dari para tabi’in setelah mereka, yang dengan semua itu memberi faedah ilmu yang pasti. Maka mengimani munculnya Mahdi adalah wajib sebagaimana telah ditetapkan oleh para ulama dan tertulis dalam akidah Ahlus Sunnah wal Jamaah. (Lawami’ul Anwar Al-Bahiyyah, 2/84)

Akan tetapi sebagian ulama, cendekiawan dan sarjana telah berlebih-lebihan dalam penolakan mereka, terhadap akan hadirnya Imam Mahdi. Hal ini benar-benar terjadi sehingga mereka mendakwakan bermacam-macam perkara, mulai  dari hujah yang dapat diterima oleh akal, hingga kepada hujah-hujah yang tidak dapat diterima oleh akal sehat kita. Semua ini menunjukkan penolakan yang berlebih-lebihan dan penuh emosi, tanpa dapat memikirkan mana yang benar dan mana yang salah. Akhirnya mereka menjadi sesat dan seterusnya mencoba menyesatkan pula orang lain.

Penolakan ini bermula dari yang sederhana hinggalah kepada yang melampau. Hal ini sebenarnya adalah suatu yang sudah lumrah dalam kehidupan kita sehari-hari, di mana-mana pun jua, pada mana-mana bangsa, pada mana-mana agama pun. Semuanya ada yang bersikap kurang bijak dan tidak menunjukkan kematangan ilmu dan pengalaman.

Terdapat banyak faktor yang menyebabkan mereka menjadi demikian, mengeluarkan pendapat yang jauh bercanggah dengan jumhur ulama dan sebenarnya menimbulkan lebih banyak lagi perpecahan pendapat di kalangan umat Islam, antaranya rasa rendah diri kepada dunia Barat yang sedang ‘memerintah’ dunia ketika itu. Pertentangan yang amat hebat antara tamadun Islam yang hampir rata dengan bumi dengan tamadun Barat yang sedang marak mengembangkan sayapnya ke seluruh dunia menyebabkan para cerdik pandai ini mencari-cari kesalahan di dalam umat Islam sendiri. Hasilnya, mereka nampak bahwa kepercayaan kepada munculnya Imam Mahdi adalah salah satu puncak yang meyebabkan kemunduran umat Islam. Maka disalahkanlah Imam Mahdi itu karena menyebabkan umat Islam mundur, dan tamadunnya hampir runtuh.

( Baca Selengkapnya )

27
June
2008

Mengenal Pribadi Rasulullah SAW0

 

Adalah Rasulullah SAW itu seorang yang agung yang senantiasa diagungkan, wajahnya berseri-seri layak bulan di malam purnamanya, tingginya cukup tidak terialu ketara, juga tidak terlalu pendek, dadanya bidang, rambutnya selalu rapi antara lurus dan bergelombang, dan memanjang hingga ke tepi telinganya, lebat, warnanya hitam, dahinya luas, alisnya lentik halus terpisah di antara keduanya, yang bila beliau marah kelihatannya seperti bercantum, hidungnya mancung, kelihatan memancar cahaya ke atasnya, janggutnya lebat, kedua belah matanya hitam, kedua pipinya lembut dan halus, mulutnya tebal, giginya putih bersih dan jarang-jarang, di dadanya tumbuh bulu-bulu yang halus, tengkuknya memanjang, berbentuk sederhana, berbadan besar lagi tegap, rata antara perutnya dan dadanya, luas dadanya, lebar antara kedua bahunya, tulang belakangnya besar, kulitnya bersih, antara dadanya dan pusatnya dipenuhi oleh bulu-bulu yang halus, pada kedua teteknya dan perutnya bersih dari bulu, sedang pada kedua lengannya dan bahunya dan di atas dadanya berbulu pula, lengannya panjang, telapak tangannya lebar, halus tulangnya, jari telapak kedua tangan dan kakinya tebal berisi daging, panjang ujung jarinya, rongga telapak kakinya tidak menyentuh tanah apabila beliau berjalan, dan telapak kakinya lembut serta licin tidak ada lipatan, tinggi seolah-olah air sedang memancar daripadanya, bila diangkat kakinya diangkatnya dengan lembut (tidak seperti jalannya orang menyombongkan diri), melangkah satu-satu dan perlahan-lahan, langkahnya panjang-panjang seperti orang yang melangkah atas jurang, bila menoleh dengan semua badannya, pandangannya sering ke bumi, kelihatan dia lebih banyak melihat ke arah bumi daripada melihat ke atas langit, jarang dia memerhatikan sesuatu dengan terlalu lama, selalu berjalan beriringan dengan sahabat-sahabatnya, selalu memulakan salam kepada siapa yang ditemuinya.  Adalah Rasulullah SAW itu kelihatannya seperti orang yang selalu bersedih, senantiasa banyak berfikir, tidak pernah beristirshat panjang, tidak berbicara bila tidak ada keperluan, banyak diamnya, memulakan bicara dan menghabiskannya dengan sepenuh mulutnva, kata-katanya penuh mutiara mauti manikam, satu-satu kalimatnya, tidak berlebih-lebihan atau berkurang-kurangan, lemah lembut tidak terlalu kasar atau menghina diri, senantiasa membesarkan nikmat walaupun kecil, tidak pernah mencela nikmat apa pun atau terlalu memujinya, tiada seorang dapat meredakan marahnya, apabila sesuatu dari kebenaran dihinakan sehingga dia dapat membelanya.

( Baca Selengkapnya )