17
July
2008

Bacaan Al-Qur’an yang Tartil0

Tartil adalah membaca perlahan-lahan dan tidak tergesa-gesa. Diantaranya, memperhatikan potongan ayat, permulaan dan kesempurnaan makna, sehingga seorang pembaca akan berpikir terhadap apa yang sedang ia baca. Allah Ta’ala berfirman, “Dan bacalah Al_Qur’an itu dengan perlahan-lahan.” (QS. Al-Muzammil: 4).

Ibnu Katsir berkata, “Bacalah dengan perlahan-lahan, karena hal itu akan membantu untuk memahami Al-Qur’an dan men-tadabburi-nya. Dengan cara seperti itulah Rasulullah membaca Al-Qur’an. Aisyah berkata, “Beliau membaca Al-Qur’an dengan tartil sehingga seolah-olah menjadi surat yang paling panjang.” Beliau senantiasa memutus-mutus bacaannya ayat demi ayat.

Tata cara membaca Al-Qur’an yang dinukil dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dan para sahabat menunjukkan pentingnya perlahan-lahan dalam membaca dan memperindah suara bacaan. Zaid bin Tsabit radiallahu ‘anhu pernah ditanya, “Bagaimana pendapatmu tentang bacaan Al-Qur’an dalam tujuh hari?” Ia menjawab, “Baik, dan jika saya membacanya dalam setengah bulan atau satu bulan lebih saya sukai, mengapa demikian?” Orang tadi bertanya, “Saya akan bertanya demikian itu.” Zaid berkata, “Agar saya dapat men-tadabbur-i dan berhenti dalam setiap bacaan.”

Ibnu Hajar berkata, “Sesungguhnya orang yang membaca dengan tartil dan mencermatinya, ibarat orang yang bershadaqah dengan satu permata yang sangat berharga, sedangkan orang yang membca dengan cepat ibarat bershadaqah beberapa permata, namun nilainya sama dengan satu permata. Boleh jadi, satu nilai lebih banyak daripada beberapa nilai atau sebaliknya.”

( Baca Selengkapnya )

18
June
2008

Gambaran Artistik Al-Qur’an0

         ( Sayyid Qutb )

Sungguh, aku telah membaca Al-Qur’an tatkala aku masih kecil. Saat itu pikiranku masih belum bisa menggapai makna-maknanya.  Pemahamanku juga masih belum bisa meliputi maksud-maksudnya. Namun saat itu aku mendapatkan sesuatu dalam diriku.  Ketika itu imajinasiku sebagai anak kecil senantiasa membayangkan gambaran-gambaran yang ada dalam ungkapan-ungkapan Al-Qur’an. Meskipun gambaran-gambaran itu sangat lugu, namun jiwaku senantiasa merindukannya dan perasaanku bisa menikmatinya. Yang demikian itu aku alami dalam waktu yang cukup lama. Aku merasa senang sekali dan gandrung. Diantara gambaran-gambaran lugu yang sempat terbayang dalam anganku kala itu ialah yang muncul saat aku membaca ayat berikut: 
“Dan diantara manusia ada yang menyembah kepada Allah ‘diatas satu sisi saja’. Apabila kebaikan menimpa padanya maka ia pun menjadi tenang dengannya. Namun jika cobaan menimpanya maka ia ‘membalikkan wajahnya’. Dia itu  orang yang akan merugi di dunia dan juga di akhirat”. (QS Al-Hajj : 11) 
Tidak mungkin ada orang yang akan bisa tertawa andaikata ia membayangkan seperti bayanganku berikut ini:  Aku membayangkan seseorang yang sedang berdiri di tepian tempat yang tinggi: dudukan yang tinggi – yang biasa aku lihat di kampung – atau puncak dari sebuah bukit yang sempit – yang biasa aku lihat disamping lembah – dan dia sedang melakukan shalat. Akan tetapi, dia tidak mendapatkan tempat yang cukup. Karenanya dia bergoyang-goyang setiap kali melakukan gerakan shalat dan hampir-hampir dia terjatuh. Saya saat itu bisa melihatnya dan aku tirukan gerakan-gerakan shalatnya dengan rasa riang tetapi dengan penuh rasa heran! Dan diantara gambaran-gambaran lugu lainnya ialah yang muncul saat aku membaca ayat berikut:   “Dan bacakanlah kepada mereka berita mengenai orang yang Kami telah memberikan kepadanya ayat-ayat Kami lalu ia melepaskan diri darinya dan syetan pun mengikutinya, sehingga ia termasuk orang-orang yang sesat. Andai saja Kami kehendaki tentu Kami akan meninggikannya dengan ayat-ayat Kami. Akan tetapi, ia mengekalkan diri kepada dunia dan memperturutkan hawa nafsunya. Perumpamaan orang itu ialah seperti anjing: apabila dihalau ia menjulurkan lidahnya dan apabila dibiarkan ia juga menjulurkan lidahnya”. (QS Al-A’raf : 176)  Saat itu aku sama sekali belum bisa memahami makna ataupun maksud ayat ini. Akan tetapi, dalam anganku muncul sebuah gambaran: gambaran seorang laki-laki dengan mulut ternganga dan lidah yang panjang, menjulur-julurkan lidahnya tanpa henti, dan saya tidak jauh darinya. Aku tidak suka melihatnya. Aku tidak paham mengapa dia menjulur-julurkan lidahnya. Dan aku tidak berani dekat-dekat dengannya! Gambaran-gambaran semacam itu sangat banyak dan bermacam-macam, yang terbayang sewaktu aku masih kecil. Aku bisa menikmati khayalan-khayalan itu. Karenanya aku jadi gandrung untuk membaca Al-Qur’an. Aku senantiasa mencari gambaran dalam lembaran-lembaran Al-Qur’an, setiap kali aku membacanya 

 .( Baca Selengkapnya )

7
April
2008

Larangan Menjual Bacaan Al Qur’an0

Sudah lazim kita jumpai di masyarakat kita, para qari Al Qur’an tampaknya membacanya sebagai suatu pekerjaan. Setiap kali ada acara pernikahan, ‘peringatan kelahiran dan kematian’, serta acara pengajian mereka segera datang dan membacanya. Bahkan ada tradisi untuk memperlombakan keindahan suara mereka, dan meyakini itu semua adalah salah satu bentuk ibadah kepada Allah SWT. Meskipun terkadang mereka membacanya, tanpa ketelitian dan kehati-hatian dalam pengucapan lafalnya dan juga tanpa ada penghormatan terdapat bacaannya, karena dalam membacanya mereka lebih mengutamakan keindahan suara.

Dan ketika qari’ membaca, para qari’ lain terlihat saling berbisik di telinga kawannya. Mereka membicarakan hal-hal di luar bacaan Al Qur’an itu. Ada sebagian bacaan yang mereka pakai, yang dinamakan tekhzanat yang artinya melenggak-lenggokkan lafal sehingga menimbulkan kepeningan, hampir-hampir telinga tidak kuat mendengarkannya. Hal itu dilakukan ketika mereka akan berhenti pada suatu penggalan atau yang sejenisnya.

Di antara yang tampak dari mereka juga, bahwa mereka sebenarnya telah hafal Al Qur’an, tetapi sayangnya mereka tidak memahaminya, tidak memberi petunjuk kepada kita semua, dan juga tidak memberikan satu dalil pun untuk dakwah. Mereka hanya cukup menghafalnya saja.

Pada saat mereka datang ke acara tersebut, pertama kali yang tampak dari mereka adalah meminta upah dan mengumpulkan sedekah dari orang-orang agar orang-orang itu mengambil berkah dari mereka. Kemudian para qari’ itu mendoakan mereka, bapak-bapak mereka yang telah meninggal, dan mendoakan orang yang bersedekah kepada mereka agar mereka sukses, mendapatkan pertolongan, dan lain sebagainya. Setelah mereka mengumpulkan sedekah itu, kemudian membagi-bagikannya di antara mereka sendiri, dan tidak ada seorang fakir miskin pun yang menerima bagian dari sedekah itu.

Pembacaan Al Qur’an adalah murni ibadah dan salah satu cara pendekatan hamba kepada Robbnya. Hukum asal pembacaan Al Qur’an dan ibadah-ibadah murni yang sejenisnya adalah hendaknya seorang Muslim melakukannya dengan tujuan untuk mendapatkan keridaan Allah dan memohon pahala dari sisi-Nya, sehingga makhluk tidak mengharapkan darinya satu imbalan atau ucapan terima kasih.

Maka dari itu para ulama salaf tidak mengenal adanya menyewa orang untuk membaca Al Qur’an dalam pesta atau acara pernikahan, dan tidak pernah diriwayatkan dari seorang imam pun bahwa dia telah menyuruh atau memberi keringanan untuk melakukan hal itu. Dan tidak pernah diketahui pula dari salah satu imam itu bahwa dia pernah mengambil upah dari membaca Al Qur’an, baik di pesta atau upacara-upacara lain, tetapi mereka membaca Al Qur’an dengan mengharapkan apa yang ada di sisi Allah swt.

( Baca Selengkapnya )

28
November
2007

Shaykh Muhammad `Abdul Kareem0

RATTIL QUR’AN


Qori
Shaykh Muhammad `Abdul Kareem

( Download Real Player )

No. Surah Dengar Simpan Size Lama
3b Aal `Imraan 142-200 1 1 2.8 MB 22′ 26″
15 al-Hijr 1 1 1.5 MB 11′ 58″
18 al-Kahf 1 1 3.2 MB 26′ 15″
29 al-`Ankaboot 1 1 2.1 MB 17′ 05″
31 Luqmaan 1 1 1.1 MB 8′ 54″
33 al-Ahzaab 1 1 2.8 MB 22′ 37″
44 Fussilat 1 1 2.9 MB 15′ 29″
48 al-Fath 1 1 1.2 MB 10′ 04″
50 Qaaf 1 1 0.8 MB 6′ 25″
52 at-Toor 1 1 0.7 MB 6′ 02″
54 al-Qamar 1 1 0.8 MB 6′ 32″
56 al-Waaqi`ah 1 1 0.9 MB 7′ 21″
58 al-Mujaadilah 1 1 1.0 MB 8′ 07″
60 al-Mumtahinah 1 1 0.8 MB 6′ 35″
62 al-Jumu`ah 1 1 0.4 MB 3′ 11″
64 at-Taghaabun 1 1 0.5 MB 4′ 23″
66 at-Tahreem 1 1 0.6 MB 4′ 46″
68 al-Qalam 1 1 0.7 MB 5′ 35″
70 AL-Ma`aarij 1 1 0.5 MB 4′ 7″
72 al-Jinn 1 1 0.6 MB 4′ 40″
74 al-Muddaththir 1 1 0.6 MB 4′ 33″
76 al-Insaan 1 1 0.6 MB 5′ 5″
78 an-Naba’ 1 1 0.4 MB 3′ 34″
80 `Abasa 1 1 0.3 MB 2′ 33″
82 al-Infitaar 1 1 0.2 MB 1′ 26″
84 al-Inshiqaaq 1 1 0.2 MB 1′ 56″
86 at-Taariq 1 1 0.2 MB 1′ 20″
88 al-Ghaashiyah 1 1 0.2 MB 1′ 38″
90 al-Balad 1 1 0.2 MB 1′ 25″
92 al-Lail 1 1 0.2 MB 1′ 23″
94 ash-Sharh 1 1 0.1 MB 1′ 25″
96 al-`Alaq 1 1 0.2 MB 1′ 14″
98 al-Bayyinah 1 1 0.2 MB 1′ 45″
100 at-Teen 1 1 0.1 MB 0′ 46″
102 at-Takaathur 1 1 0.1 MB 0′ 35″
104 al-Humazah 1 1 0.1 MB 0′ 36″
106 Quraish 1 1 0.1 MB 0′ 24″
108 al-Kauthar 1 1 0.1 MB 0′ 15′
110 an-Nasr 1 1 0.1 MB 0′ 22′
112 al-Ikhlaas 1 1 0.1 MB 0′ 12″
114 an-Naas 1 1 0.1 MB 0′ 23″