4
July
2008

Membedah Kesesatan Agama Syi’ah0

Ahlusunnah mencintai dan mengasihi ahlul bait, mencintai dan mengasihi para sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Akan tetapi mereka (Ahlusunnah) juga meyakini bahwa tidak ada yang ma’shum melainkan hanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Di antara keyakinan mereka juga: wahyu telah terputus dengan wafatnya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, tidak ada yang mengetahui hal yang gaib kecuali hanya Allah subhanahu wa ta’ala, dan tidak seorang pun dari para manusia yang telah mati bangkit kembali sebelum hari kiamat. Jadi, kita Ahlusunnah menjunjung tinggi keutamaan ahlul bait dan selalu mendoakan mereka agar senantiasa mendapatkan rahmat Allah subhanahu wa ta’ala, tidak lupa kita juga berlepas diri dari musuh-musuh mereka.

Di pihak lain, orang-orang Rafidhah (Rafidhah adalah salah satu julukan kelompok Syi’ah yang menolak kekhilafahan Abu Bakar dan Umar, atau dalam versi lain mengatakan karena mereka menolak agama Islam.  Selain berlebih-lebihan dalam mengagung-agungkan imam-imam mereka, dengan mengatakan bahwasanya mereka itu ma’shum dan lebih utama dari para nabi dan para rasul, mereka juga melekatkan sifat-sifat tuhan di dalam diri para imam, hingga mengeluarkan mereka dari batas-batas kemakhlukan! Tidak diragukan lagi bahwa ini merupakan sikap ghuluw (berlebih-lebihan) yang paling besar, paling jelek, paling rusak dan paling kufur.

Di antara sikap ekstrem mereka, klaim mereka bahwa para imam mengetahui hal-hal yang gaib, dan mereka mengetahui segala yang ada di langit dan di bumi, tidak terkecuali. Mereka mengetahui apa-apa yang ada dalam hati, apa-apa yang ada dalam tulang belakang kaum pria dan apa-apa yang ada dalam rahim kaum wanita. Mereka juga mengetahui apa yang telah lalu dan yang akan datang hingga hari kiamat.

Dalam kitab Wasail asy-Syiah karangan al-Hurr al-’Amily (jilid I, hal 371) dan di dalam kitab al-Mazar karangan al-Mufid (hal 58 ) disebutkan: Dari Yunus bin Dzobyan, berkata Abu Abdillah, “Barang siapa yang ziarah ke makam Husain pada malam pertengahan bulan Sya’ban, malam Idul Fitri dan malam hari Arafah dalam satu tahun, niscaya Allah akan tuliskan baginya pahala 1000 ibadah haji yang mabrur, 1000 ibadah umrah yang diterima dan akan dikabulkan baginya 1000 doa yang berkenaan dengan kebutuhan-kebutuhan dia di dunia dan akhirat.”

Sulaim bin Qois dalam kitabnya hal 245 dengan ‘gagahnya’ berdusta dengan perkataannya, Bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah berkata kepada Ali, “Wahai Ali, sesungguhnya engkau adalah ilmu pengetahuan Allah yang paling agung sesudahku, engkau adalah tempat bersandar yang paling besar di hari kiamat. Barang siapa bernaung di bawah bayanganmu niscaya akan meraih kemenangan. Karena hisab (penghitungan amal) para makhluk berada di tanganmu, tempat kembali mereka adalah kepadamu. Mizan (timbangan amalan), shirath (jalan yang mengantarkan para hamba ke surga), dan al-mauqif (tempat berkumpulnya semua makhluk di hari akhir) semua itu adalah milikmu. Maka barang siapa yang bersandar kepadamu, niscaya akan selamat dan barang siapa yang menyelisihimu niscaya akan celaka dan binasa! Ya Allah, saksikanlah 3x!”

Na’udzubillah…

( Baca Selengkapnya )

3
July
2008

Dzikir Berjamaah termasuk Bid’ah0

Dzikir adalah salah satu ibadah kepada Allah, sebagaimana halnya ibadah shalat harus sesuai dengan yang diajarkan oleh Nabi shollallahu’alaihiwasallam, demikian juga halnya dengan dzikir kepada Allah Azza wa Jalla.

Dalil-dalil yang berkenaan dengan keutamaan dan anjuran berzikir kepada Allah, bukan hanya diperoleh oleh orang yang membaca takbir, tasbih, tahlil, dan tahmid saja, akan tetapi diperoleh pula oleh setiap orang yang beramal shaleh dengan tulus dan ikhlas karena Allah. Karena arti zikir adalah mengingat, dan setiap orang yang menjalankan keta’atan kepada Allah, berarti ia telah mengingat Allah Azza wa Jalla.

Tidak ada dalil satupun yang menganjurkan atau membolehkan berzikir berjama’ah, sebagaimana yang sekarang sedang marak digalakkan di negeri kita tercinta Indonesia, dengan satu suara, satu bacaan, dan dikomando oleh satu orang. Adapun dzikir dengan pemahaman yang lebih luas, yang mencakup segala amal kebaikan, -misalnya pengajian- maka boleh dan bahkan dianjurkan untuk dilakukan dengan berjama’ah.
Dzikir yang dianjurkan dalam syari’at Islam ialah dzikir yang dilakukan dengan cara merendahkan suara, atau kalaupun mengeraskannya, maka suaranya tidak boleh sampai mengganggu orang lain yang sedang beribadah pula.
Menangis ketika berdzikir adalah salah satu sifat terpuji, asalkan menangisnya benar-benar karena Allah, oleh karena itu dalam banyak dalil disebutkan bahwa yang terpuji ialah orang yang berzikir lalu menangis, sedangkan ia dalam kesunyian, bukan di keramaian orang.

Dzikir berjama’ah telah diklaim sebagai amalan sunnah Nabi SAW, sedangkan shalat tarawih berjamaah, dan berdoa’ tanpa mengusapkan kedua telapak tangan ke wajah telah diklaim sebagai amalan bid’ah. Banyak orang merasa berang tatkala dikatakan kepadanya:Dzikir berjama’ah adalah bid’ah. Banyak pemuka masyarakat yang kaget tatkala dikatakan bahwa tasawuf adalah bid’ah. Dengan mengucapkan: Subhanallah, inikah bukti dari apa yang dikabarkan oleh sahabat Abdullah bin Mas’ud, dalam ucapannya:

كيف أنتم إذا لبستكم فتنة يهرم فيها الكبير ويربو فيها الصغير ويتخذها الناس سنة، فإذا غيرت قالوا: غيرت السنة. قيل: متى ذلك يا أبا عبد الرحمن؟ قال: إذا كثرت قراؤكم وقلت فقهاؤكم وكثرت أموالكم وقلت أمناؤكم والتمست الدنيا بعمل الآخرة

“Bagaimanakah sikapmu, bila kamu telah dilanda oleh suatu fitnah terus menerus, sehingga orang-orang dewasa mencapai usia pikun, dan anak kecil mencapai usia dewasa dalam suasana seperti itu, dan masyarakat telah menganggap fitnah itu sebagai suatu amalan sunnah, sehingga bila fitnah itu diingkari (ditentang), mereka berkata: Amalan sunnah telah diubah (ditentang).” Dikatakanlah kepadanya: Kapankah yang demikian itu dapat terjadi, wahai Abu Abdirrahman? Beliau menjawab: “Bila ahli qira’at (bacaan) kalian telah banyak, sedangkan ahli fiqih (pemahaman) dari kalian hanya sedikit, harta kalian telah melimpah, dan orang-orang yang memiliki rasa amanat jumlahnya jarang dijumpai, dan bila kehidupan dunia digapai dengan sarana amalan akhirat (ibadah).”

Ya Allah lindungilah kami dan keturunan kami dari fitnah ini, dan tunjukkanlah kami kepada jalan yang lurus.
( Baca Selengkapnya )

20
June
2008

Malapetaka Akhir Zaman0


Oleh :
Syaikh Abdullah bin Abdurrahman Al-Jibrin

Allah Ta’ala berfirman:
“Alif laaf miim. Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan:”Kami telah beriman”, sedang
mereka tidak diuji lagi? Dan sesungguhnya Kami telah menguji orang-orang sebelum mereka, maka sesungguhnya

Allah mengetahui orang-orang yang benar dan sesungguhnya Dia mengetahui orang-orang yang dusta.”  (Al- Ankabut: 1-3)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam telah mengabarkan kepada kita semua tentang fitnah-fitnah (malapetaka) yang
bakal terjadi. Dan juga menjelaskan jalan selamat darinya, yaitu berpegang teguh dengan Kitabullah dan Sunnah
Rasul-Nya. Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu menuturkan bahwa ia mendengar Rasulullah
shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Ketahuilah bahwasanya bakal terjadi fitnah-fitnah (malapetaka)!” Kami bertanya: “Bagaimana jalan keluarnya wahai Rasulullah?” Beliau bersabda: “Berpegang teguh dengan Kitabullah, sebab di dalamnya disebutkan sejarah orang-orang sebelum kalian, dan khabar tentang yang akan datang setelah kalian, dan di dalamnya juga terdapat hukum terhadap perselisihan di antara kalian. Ia adalah pemisah antara hak dan bathil, dan sekali-kali bukanlah senda gurau. Barangsiapa mening-galkannya karena keangkuhan, niscaya Allah akan membinasakannya. Dan
barangsiapa mencari petunjuk dari selainnya, niscaya Allah akan menye-satkannya. Ia adalah tali Allah yang kokoh.
Dan ia adalah bacaan yang penuh hikmah. Dan ia adalah jalan Allah yang lurus.” (HR. Ahmad dan At-Tirmidzi).

Pada hari ini kita berada dalam kancah peperangan melawan fitnah (cobaan dan godaan) yang sangat besar. Fitnah bagaikan potongan malam kelam. Harta adalah fitnah (cobaan), anak-anak adalah fitnah (cobaan), wanita adalah fitnah (godaan), bercampur baur dengan orang-orang kafir dan munafik adalah fitnah (bencana), ajakan kepada kebatilan dan menjauhi kebenaran adalah fitnah (malapetaka), teman pergaulan yang jahat adalah fitnah (bencana), seruan kepada perkara sia-sia, sesat dan batil adalah fitnah (bencana). Dan masih banyak lagi yang lain.

Ketika seorang insan jatuh terperosok ke dalam bahaya dan musibah, maka dihadapannya ada dua pilihan:
Ia segera mencari jalan-jalan keselamatan dan berusaha mengeluarkan diri dari musibah tersebut hingga ia bisa
selamat. Tidak syak lagi hal ini merupakan keharusan yang harus ditempuh bagi orang yang berakal.
Atau ia hanya bisa pasrah menerima dan membiarkan dirinya binasa. Ini adalah tindakan orang bodoh yang
pasrah dan tidak mencari jalan selamat.

( Unduh e-Kitab )

20
June
2008

Prinsip Dasar Keimanan0

Ilmu tauhid adalah ilmu yang paling mulia dan paling agung kedudukannya. Setiap muslim wajib mempelajari, mengetahui dan memahaminya, karena cakupan ilmu ini adalah tentang Allah swt, asma-asma, sifat-sifat, dan hak-hak-Nya yang harus dipenuhi oleh hamba-Nya. Ilmu tauhid juga merupakan kunci menuju Allah swt, dan kunci syari’at-Nya. Oleh karena itu para Rasul bersepakat untuk mendakwahkannya kepada seluruh umat manusia.

Allah swt berfirman:
“Dan Kami tidak mengutus seorang Rasulpun sebelum kamu, melainkan Kami wahyukan kepadanya bahwasanya tidak ada Ilah (yang berhak diibadahi) melainkan Aku, maka sembahlah Aku olehmu sekalian.” (QS. Al-Anbiya : 25).
Allah swt menyaksikan serta menyatakan keesaan diri-Nya. Demikian juga para Malaikat dan para ulama.

Allah swt juga  berfirman:
“Allah menyatakan (bersaksi)  bahwasanya tidak ada Ilah yang berhak disembah melainkan Dia, yang menegakkan keadilan. Para Malaikat dan orang-orang yang berilmu (juga menyatakan yang demikian itu). Tidak ada Ilah yang berhak disembah melainkan Dia, yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (QS. Ali-Imran: 18).

Jika ilmu tauhid sedemikian pentingnya, maka setiap muslim tentu wajib mencurahkan perhatiannya terhadap ilmu ini dengan mempelajari dan mengajarkannya, dengan berpikir dan beriktikad agar dapat menegakkan dinullah atas dasar yang benar, serta untuk menenangkan jiwa dan mendapatkan kebahagiaan sebagai buah dan hasilnya.

( Unduh e-Book )
( Baca Selengkapnya )

20
June
2008

Ilmu: Keutamaan, Adab dan Larangannya0

Al Ilmu lawan kata al Jahlu (tidak tahu atau bodoh). (Lihat Lisanul Arab) Atau : mengenal sesuatu dalam keadaan aslinya dengan pasti. Ilmu yang dimaksud di sini adalah Ilmu syar’i yaitu ilmu tentang penjelasan dan petunjuk yang Allah Subhaa nahu Wa Ta’aalaa turunkan kepada rasul Nya (atau dengan kata lain Ilmu tentang al Qur`an dan as Sunnah). Ilmu yang disebut-sebut dalam (al Qur`an dan as Sunnah) dan mendapatkan pujian adalah ilmu wahyu

Namun demikian bukan berarti bahwa ilmu-ilmu yang lain tidak ada manfaatnya. Ilmu-ilmu lain dikatakan bermanfaat jika dilihat dari salah satu sisinya (yang baik) yaitu : jika membantu dalam ketaatan kepada Allah Subhaanahu Wa Ta’aalaa dan dalam menolong agama Allah serta bermanfaat bagi kaum muslimin.

Menuntut ilmu hukumnya menjadi fardlu ‘ain bagi setiap muslim, jika menjadi prasyarat untuk mengetahui sebuah ibadah atau mu’amalah yang hendak dikerjakan. Dalam kondisi seperti ini, wajib baginya untuk mengetahui bagaimana cara ibadah kepada Allah Subhaanahu Wa Ta’aalaa dan cara bermu’amalah. Tholabul ilmi pada asalnya (hukumnya) fardlu kifayah. Jika sudah ada sebagian orang yang mengerjakan maka bagi yang lain hukumnya sunnah. Hal-hal lain (berkaitan dengan tholabil ilmi ) yang tidak termasuk dalam fardlu ‘ain di atas hukumnya adalah fardlu kifayah. Seorang tholabul ilmi menyadari bahwa ia menjalankan sebuah kewajiban (fardlu kifayah) agar ia memperoleh pahala orang yang menjalankan kewajiban, disamping itu juga mendapatkan ilmu.

Janganlah mengikuti apa yang anda tidak mengetahui pengetahuan tentangnya. Maka apa yang setiap kita dengar atau kita lihat harus kita simpan dahulu didalam hati kita, bahkan kita wajib meneliti dan memikirkanya. apabila ternyata kita dapat mengetahuinya secara jelas, barulah kita yakini. Tetapi kalau tidak, kita tinggalkan seperti sediakala, dalam keadaan penuh keraguan, dugaan-dugaan serta prasangka yang tidak bisa dianggap (sebagai apa-apa).

( Unduh e-Book )