13
September
2008

Mencari Malam Lailatul Qadr0

Pada suatu hari Rasulullah Sallallahu Alaihi Wasallam bercerita kepada para sahabatnya tentang pejuang dari Bani Israil yang bernama Sam’un. Selama 1000 bulan atau delapan puluh tiga tahun ia tidak pernah meletakkan senjata atau beristirahat dari perang Fii Sabilillah. Ia hanya berperang dan berperang demi menegakkan agama Allah tanpa mengenal rasa lelah. Para sahabat ketika mendengar cerita tersebut, mereka merasa kecil hati dan merasa iri dengan amal ibadah dan perjuangan orang tersebut. Mereka ingin melakukan amal ibadah dan perjuangan yang sedemikian rupa, tapi bagaimana mungkin untuk melakukannya sedang umur kehidupan mereka jarang yang mencapai usia lebih dari enam puluh atau tujuh puluh tahun. Di dalam hadist disebutkan oleh Rasulullah Sallallahu Alaihi Wasallam: “Usia ummatku sekitar enam puluh atau tujuh puluh tahun”. karena itulah mereka bersedih dan kecil hati.

Ketika para sahabat sedang berfikir dan merenungkan tentang hal itu, dimana mereka merasa kecil hati karena tidak mungkin berbuat hal yang telah diperbuat oleh orang Bani Israil yang telah disebutkan oleh Rasulullah Sallallahu Alaihi Wasallam, maka datanglah malaikat Jibril kepada Rasulullah Sallallahu Alaihi Wasallam membawa wahyu dan kabar kembira kepada Rasulullah Sallallahu Alaihi Wasallam dan para sahabatnya. Berkata malaikat Jibril Alaihis Salaam: “Allah Subhanahu Wa Ta’ala telah menurunkan kepadamu ya Rasulullah surat Al Qadr, dimana di dalamnya terdapat kabar gembira untukmu dan ummatmu, dimana Allah menurunkan malam Lailatul Qadr, dimana orang yang beramal pada malam Lailatul Qadr mendapatkan pahala lebih baik dan lebih besar daridari pada seribu bulan. Maka amal ibadah yang di kerjakan ummatmu pada malam Lailatul Qadr lebih baik dari pada seorang ahli ibadah dari kalangan Bani Israil yang beribadah selama delapan puluh tahun”. Lalu malaikat jibril membacakan surat Al Qadr. Maka dengan turunnya wahyu tersebut yang penuh dengan kabar gembira, Rasulullah Rasulullah Sallallahu Alaihi Wasallam dan para sahabatnya merasa senang dan gembira dengan adanya Lailatul Qadr.

( Baca Selengkapnya )

12
September
2008

Bid’ah: Peringatan Nuzulul Qur’an0

Pada bulan Ramadhan banyak umat Islam yang menggelar acara peringatan Nuzulul Qur’an. Untuk itu perlu kiranya kali ini menyoroti masalah Nuzulul Qur’an, hukum memperingatinya dan fungsi utama diturunkannya Al-Qur’an. Peringatan Nuzulul-Qur’an tidak pernah dilakukan oleh Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam, para shahabat, tabi’in, tabi’ut-tabi’in ataupun para ulama mu’tabar nan masyhur dalam Islam. Peringatan tersebut hanyalah diadakan oleh generasi belakang dalam Islam.

Hukumnya adalah bid’ah terlarang. Bukankah Islam ini dijalankan melalui dalil dan contoh ? Apabila tidak ada dalil dan contoh (baik bersifat umum atau khusus), maka tidak boleh kita mengada-adakannya. Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam telah bersabda :

من عمل عملا ليس عليه أمرنا فهو رد
“Barangsiapa yang mengamalkan satu amalan bukan atas perintah/agama kami maka itu tertolak.” [HR Muslim dari ‘Aisyah].
Apabila ada yang mengatakan bahwa hal itu dilakukan untuk syi’ar agama Islam, maka kita katakan : Justru pada awal perkembangan Islam dulu – jika hal itu merupakan amalan yang disyari’atkan oleh Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam – tentu alasan itu lebih layak untuk diamalkan. Islam masih dalam tahap penyebaran. Namun tetap saja beliau shallallaahu ‘alaihi wasallam, para shahabat, dan para ulama setelahnya TIDAK melaksanakannya. Itu merupakan pertanda yang jelas bahwa amalan peringatan Nuzulul-Qur’an bukan merupakan syari’at Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam (walau sebagian orang menganggapnya BAIK). Imam Asy-Syafi’i telah berkata :

من استحسن فقد شرع
(Barangsiapa yang telah menganggap baik suatu amal ibadah (tanpa berlandaskan dalil), maka sungguh ia telah membuat syariat). Dan membuat syari’at itu haram hukumnya, karena hal itu merupakan otoritas Allah ta’ala saja.

( Baca Selengkapnya )

10
September
2008

I’tikaf di Masjid Bachir Ahmad0

Alhamdulillah dimulai sejak tahun 1420 H ( atau 1999 M) Dewan Kemakmuran Masjid Bachir Ahmad melayani para jama’ah yang hendak mengamalkan sunnah Rasulullah SAW, yaitu i’tikaf pada 10 hari terakhir di bulan Ramadhan. Ibadah i’tikaf lebih banyak dilakukan di malam hari, dimulai pukul 22 00 hingga pkl. 03 00 dini hari menjelang sahur. Adapun uraian kegiatannya meliputi Sholat ‘Isya diikuti dengan sholat tarawih ( pkl. 22 00 - 23 30 ), yang dilanjutkan dengan kajian kitab

Pada Ramadhan 1429 H kali inipun insya Allah kami akan menyelenggarakannya mulai hari Sabtu malam Ahad, tanggal 21 Ramadhan 1429 H atau 20 September 2008. Biasanya jama’ah memasuki masjid menjelang waktu sholat Maghrib.

Semoga Allah swt menerima ibadah shaum kita, tarawih kita, tadarus kita, i’tikaf kita, zakat fitrah kita, serta amal-amal sholih kita lainnya, di bulan Ramadhan yang penuh berkah ini. Aamiin

( Baca Petunjuk Ringkas tentang I’tikaf )

10
September
2008

Konsep Jama’ah dan Imamah (2)0

Maka syuro dalam Islam itu hanya untuk orang-orang yang berilmu dan bukan untuk orang awam berdasarkan dalil-dalil di atas, dimana Al Bukhori mengatakan: ” … bermusyawarah dengan orang-orang yang terpercaya dari kalangan orang-orang berilmu …” dan Al Bukhori mengatakan mengenai Abu Bakar: ” … memanggil para pemimin dan ulama’ kaum muslimin …” dan Al Bukhori mengatakan tentang Umar: ” … Dahulu para qurro’ …” dan mereka itu adalah para ulama’ sahabat. Dan ada dalil-dalil lain yang menunjukkan bahwa hendaknya tidak diajak bermusyawarah kecuali orang yang memiliki ilmu dan keahlian, di antaranya adalah:

1. Firman Alloh ta’ala:

 فَاسْأَلُوا أَهْلَ الذِّكْرِ إِنْ كُنْتُمْ لا تَعْلَمُونَ Maka bertanyalah kepada orang yang berilmu jika kalian tidak mengetahui. (An Nahl : 43 dan An Anbiya’ : 7)

2. Firman Alloh ta’ala:

 وَلا يُنَبِّئُكَ مِثْلُ خَبِيرٍ

Dan tidak dapat memberi informasi kepadamu sebagaimana (orang) yang (memiliki ) banyak pengetahuan. (Fathir : 14) 3. Firman Alloh ta’ala:

 وَإِذَا جَاءَهُمْ أَمْرٌ مِنَ الأَمْنِ أَوْ الْخَوْفِ أَذَاعُوا بِهِ وَلَوْ رَدُّوهُ إِلَى الرَّسُولِ وَإِلَى أُوْلِي الأَمْرِ مِنْهُمْ لَعَلِمَهُ الَّذِينَ يَسْتَنْبِطُونَهُ مِنْهُمْ

Dan apabila datang kepada mereka suatu berita tentang keamanan atau ketakutan, mereka lalu menyiarkannya. Dan seandainya mereka menyerahkannya kepada Rosul dan Ulil Amri di antara mereka, tentulah orang-orang yang ingin mengetahui kebenarannya (akan dapat) mengetahuinya dari mereka (Rosul dan Ulil Amri). (An Nisa’: 83) Karena kembali kepada Al Qur’an dan As Sunnah itu artinya adalah kembali kepada para ulama’ yang memahami keduanya. Hal semakna dengan ini adalah firman Alloh ta’ala:

 وَمَا اخْتَلَفْتُمْ فِيهِ مِنْ شَيْءٍ فَحُكْمُهُ إِلَى اللَّهِ Tentang sesuatu apapun kamu berselisih, maka putusannya (terserah) kepada Alloh. (Syuro: 10)

( Baca Selengkapnya )

10
September
2008

Konsep Jama’ah dan Imamah (1)0

Telah berfirman Allah ta’ala :

شَرَعَ لَكُم مِّنَ الدِّينِ مَا وَصَّى بِهِ نُوحاً وَالَّذِي أَوْحَيْنَا إِلَيْكَ وَمَا وَصَّيْنَا بِهِ إِبْرَاهِيمَ وَمُوسَى وَعِيسَى أَنْ أَقِيمُوا الدِّينَ وَلَا تَتَفَرَّقُوا فِيهِ كَبُرَ عَلَى الْمُشْرِكِينَ مَا تَدْعُوهُمْ إِلَيْهِ اللَّهُ يَجْتَبِي إِلَيْهِ مَن يَشَاءُ وَيَهْدِي إِلَيْهِ مَن يُنِيبُ

Dia telah mensyari’atkan bagi kamu tentang agama, (seperti) apa yang telah diwasiatkan-Nya kepada Nuh dan apa yang telah Kami wahyukan kepadamu dan apa yang telah Kami wasiatkan kepada Ibrahim, Musa dan Isa yaitu: Tegakkanlah agama dan janganlah kamu berpecah belah tentangnya. Amat berat bagi orang-orang musyrik agama yang kamu seru mereka kepadanya. Allah menarik kepada agama itu orang yang dikehendaki-Nya dan memberi petunjuk kepada (agama)-Nya orang yang kembali (kepada-Nya).” (Asy Syura: 13).       

Di dalam menegakkan din ini harus sesuai dengan cara rasulullah menegakkan dien sebagai uswah dan suri tauladan kita, yaitu harus dengan cara ikhlas, kaffah dan berjama’ah. Dan diperkuat dengan firman Allah ta’ala :

وَاعْتَصِمُواْ بِحَبْلِ اللّهِ جَمِيعاً وَلاَ تَفَرَّقُواْ وَاذْكُرُواْ نِعْمَتَ اللّهِ عَلَيْكُمْ إِذْ كُنتُمْ أَعْدَاء فَأَلَّفَ بَيْنَ قُلُوبِكُمْ فَأَصْبَحْتُم بِنِعْمَتِهِ إِخْوَاناً وَكُنتُمْ عَلَىَ شَفَا حُفْرَةٍ مِّنَ النَّارِ فَأَنقَذَكُم مِّنْهَا كَذَلِكَ يُبَيِّنُ اللّهُ لَكُمْ آيَاتِهِ لَعَلَّكُمْ تَهْتَدُونَ

Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai, dan ingatlah akan nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa Jahiliyah) bermusuh-musuhan, maka Allah mempersatukan hatimu, lalu menjadilah kamu karena nikmat Allah, orang-orang yang bersaudara; dan kamu telah berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu dari padanya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu, agar kamu mendapat petunjuk.” (Ali Imran: 103).

Dan hadits rasulullah saw.

. عليكم بالجماعة واياكم والفرقة

Hendaklah kalian berjama’ah dan janganlah kalian berpecah belah”. (Musnad Ahmad 4/278, Shahih At Tirmidzi 2/232).

( Baca Selengkapnya )