2
July
2008

Mengenal Imam Mahdi yang Ditunggu

Berita akan munculnya sosok penegak sunnah nan adil itu telah disampaikan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam banyak hadits. Bahkan tak sedikit dari para ulama yang menyatakan bahwa haditsnya mencapai derajat mutawatir secara makna, sehingga tiada lagi celah bagi siapapun untuk mengingkarinya. Di antara ulama yang menyatakan kemutawatiran hadits-haditsnya adalah Abul Hasan Muhammad bin Husain As-Sijzi (wafat 363 H), Muhammad Al-Barzanji (wafat 1103 H), As-Safarini, As-Sakhawi, Asy-Syaukani, Shiddiq Hasan Khan, Al-Kattani, dan lain-lain rahimahumullah. Para ulama yang menyebutkan keshahihan hadits tentang Al-Mahdi sangat banyak, dari kalangan ulama terdahulu maupun belakangan. Asy-Syaikh Al-Albani rahimahullahu telah menyebutkan sebagian nama mereka, di antaranya 16 ulama yang saya sebutkan sebagiannya: Abu Dawud, Al-Qurthubi, Ibnu Taimiyyah, Adz-Dzahabi, Ibnul Qayyim, dan Ibnu Hajar rahimahumullah.

Sehingga ini menjadi salah satu akidah Ahlus Sunnah wal Jamaah. As-Safarini mengatakan: “Telah banyak riwayat yang menyebutkan akan munculnya Al-Mahdi sehingga mencapai derajat mutawatir secara makna. Dan itu telah tersebar di kalangan Ahlus Sunnah sehingga teranggap sebagai aqidah mereka….” –beliau menyebut hadits, atsar serta nama para sahabat yang meriwayatkannya, lalu beliau berkata– “Dan telah diriwayatkan dari para sahabat yang disebutkan dan selain mereka dengan riwayat yang banyak, juga dari para tabi’in setelah mereka, yang dengan semua itu memberi faedah ilmu yang pasti. Maka mengimani munculnya Mahdi adalah wajib sebagaimana telah ditetapkan oleh para ulama dan tertulis dalam akidah Ahlus Sunnah wal Jamaah. (Lawami’ul Anwar Al-Bahiyyah, 2/84)

Akan tetapi sebagian ulama, cendekiawan dan sarjana telah berlebih-lebihan dalam penolakan mereka, terhadap akan hadirnya Imam Mahdi. Hal ini benar-benar terjadi sehingga mereka mendakwakan bermacam-macam perkara, mulai  dari hujah yang dapat diterima oleh akal, hingga kepada hujah-hujah yang tidak dapat diterima oleh akal sehat kita. Semua ini menunjukkan penolakan yang berlebih-lebihan dan penuh emosi, tanpa dapat memikirkan mana yang benar dan mana yang salah. Akhirnya mereka menjadi sesat dan seterusnya mencoba menyesatkan pula orang lain.

Penolakan ini bermula dari yang sederhana hinggalah kepada yang melampau. Hal ini sebenarnya adalah suatu yang sudah lumrah dalam kehidupan kita sehari-hari, di mana-mana pun jua, pada mana-mana bangsa, pada mana-mana agama pun. Semuanya ada yang bersikap kurang bijak dan tidak menunjukkan kematangan ilmu dan pengalaman.

Terdapat banyak faktor yang menyebabkan mereka menjadi demikian, mengeluarkan pendapat yang jauh bercanggah dengan jumhur ulama dan sebenarnya menimbulkan lebih banyak lagi perpecahan pendapat di kalangan umat Islam, antaranya rasa rendah diri kepada dunia Barat yang sedang ‘memerintah’ dunia ketika itu. Pertentangan yang amat hebat antara tamadun Islam yang hampir rata dengan bumi dengan tamadun Barat yang sedang marak mengembangkan sayapnya ke seluruh dunia menyebabkan para cerdik pandai ini mencari-cari kesalahan di dalam umat Islam sendiri. Hasilnya, mereka nampak bahwa kepercayaan kepada munculnya Imam Mahdi adalah salah satu puncak yang meyebabkan kemunduran umat Islam. Maka disalahkanlah Imam Mahdi itu karena menyebabkan umat Islam mundur, dan tamadunnya hampir runtuh.

( Baca Selengkapnya )

Leave a comment

You must be logged in to post a comment.