July
2008

“Dan seandainya Robbimu mau, niscaya Dia jadikan manusia itu umat yang satu, tetapi mereka senantiasa berselisih, kecuali yang dirahmati Robbimu.” (QS. Hud: 118-119).
Imam Ibnu Katsir rahimahullah berkata, “Allah mengabarkan bahwa Dia mampu menjadikan manusia seluruhnya satu umat, baik dalam keimanan atau kekufuran, sebagaimana firmanNya yang lain, ‘Seandainya Robbimu kehendaki niscaya berimanlahlah semua manusia di bumi.’ Lalu firmanNya ‘tetapi mereka senantiasa berselisih, kecuali yang dirahmati Robbimu’ artinya perbedaan akan senantiasa terjadi antara manusia, baik tentang agama, keyakinan, millah, madzhab, dan pendapat-pendapat mereka. Berkata Ikrimah, ‘Mereka berbeda dalam petunjuk’.
Pada mulanya Islam hanyalah satu, yaitu yang dicontohkan dan diajarkan oleh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, lalu dilanjutkan oleh orang-orang beriman setelahnya yakni para sahabat Ridhwanullah ‘Alaihim Ajma’in. Kelak, jalan inilah yang ditempuh oleh Ahlus Sunnah wal Jamaah. Adapun jalan yang tidak dicontohkan oleh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dan para sahabatnya adalah jalan syetan yang dilakukan para ahli bid’ah yang sesat, yang akan memecah belah umat Islam, sebagaimana yang digambarkan oleh Al Qur’an dan Al Hadits.
Allah Ta’ala berfirman:
“Dan sesungguhnya inilah jalanKu yang lurus, maka ikutilah dia; dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan (yang lain), yang akan memecahbelahkan kamu dari jalanNya. Yang demikian itu diperintahkan Allah kepadamu agar kamu bertaqwa.” (QS. Al An’am: 153)
Sejarah Islam sangat didominasi oleh perjalan hidup para pelakunya, terutama Muhammad Rasulullah saw. Kita mengenal banyak sosok pahlawan Islam di dalam diri sahabat-sahabat Rasulullah saw. Mereka itu tak hanya dari kalangan laki-laki, tapi juga banyak sahabat wanita. Namun sayangnya banyak buku yang sudah ditulis tentang para pelaku sejarah permulaan Islam, tak banyak menampilkan tokoh wanita shahabiyah, seperti para isteri Rasulullah saw. saja. Padahal peran para sahabat wanita itu tidak kalah besar dibanding sahabat laki-laki.
Para isteri dikenal sebagai pemimpin rumah tangga yang sukses, da’i penyebar agama Islam, pengusaha sukses, bahkan anggota pasukan perang yang gigih membela Rasulullah SAW dengan darah dan nyawanya.
Ketika rombongan keluarga Nabi SAW dan Abu Bakar Ash-Shiddiq ra. sampai di Madinah, Rasulullah SAW sedang membangun masjid dan ruangan-ruangan di sekeliling masjid itu. Lalu Nabi SAW menempatkan mereka di sebuah rumah milik Haritsah bin Nu’man ra. Rasulullah SAW menyempurnakan pernikahannya dengan ‘Aisyah ra di ruangan itu. Dan Rasulullah SAW pun dimakamkan di tempat yang sama. Haritsah bin Nu’man memiliki beberapa rumah di sekitar masjid Nabawi. Apabila Rasulullah SAW menikahi seseorang, maka Haritsah akan pindah dari rumahnya demi beliau, sehingga akhirnya semua rumahnya digunakan untuk Rasulullah SAW dan isteri-isteri beliau. Nabi SAW membuat pintu masuk ke masjid melalui pintu kamar ‘Aisyah. Diriwayatkan bahwa ketika beliau sedang beri’tikaf, beliau menjengukkan kepalanya dari masjid lewat pintu ‘Aisyah. lalu ‘Aisyah mencuci kepala beliau sementara dia sedang haid.
Pagi itu, Rasulullah bergegas menuju keramaian. Setelah sampai, menceritakan kejadian luar biasa yang dialaminya tadi malam. Beliau bercerita, Tadi malam, Jibril datang padaku. Ia mengajakku pergi ke suatu tempat. Didatangkan untukku seekor binatang yang berbentuk lebih besar dari keledai, langkahnya sejauh pandangan matanya. Aku menungganginya dengan disertai Jibril.
Sejenak setelah kami dibawa terbang oleh Buraq, aku disuruh Jibril turun untuk melakukan shalat, lalu berkatalah beliau kepadaku, Tahukah engkau bahwa engkau shalat di Thaibah (Madinah) dan disitulah engkau kelak berhijrah. Kemudian perjalanan dilanjutkan, di suatu tempat Jibril menyuruhku turun untuk shalat. ‘Inilah Thuur Sina, tempat Musa bercakap-cakap langsung dengan Robbi-nya,’ kata Jibril kepadaku.
Demi mendengar cerita itu, ramailah orang-orang yang dari tadi berkumpul. Kamu bohong Muhammad, bagaimana mungkin kamu pergi ke Baitul Maqdis, kemudian ke langit hanya dalam semalam, teriak seseorang musyrik. Lihatlah wahai para pengkhianat Latta dan ‘Uzza, orang yang menurutmu Nabi, ternyata hanya seorang pembual, teriak yang lain.
Ya Rasulullah, benarkah apa yang engkau ceritakan itu? tanya salah seorang sahabat. Benar, jawab Rasul mantap. Tapi, apakah mungkin? ujar sahabat tadi dalam hatinya. Seseorang pergi menemui Abu Bakar menanyakan pendapatnya tentang cerita Rasulullah. Dengan mantap Abu Bakar menjawab, Aku mempercayainya tentang hal-hal yang lebih aneh dari itu, aku mempercayainya tentang kabar-kabar langit yang dibawanya (Rasulullah) di waktu pagi maupun senja.
Peristiwa isra’ mi’raj yang dilakukan nabi dalam tempo semalam menjadi senjata yang digunakan oleh orang-orang yang memusuhi Islam. Orang-orang tersebut baik dimasa sekarang maupun pada masa lalu menganggap bahwa isra’ mi’raj sebagai bualan dari nabi Muhammad. Benar-benar sesuatu yang tidak bisa dicerna akal, bahkan teknologi transportasi pada masa itu mustahil untuk melakukan perjalanan pulang pergi ke Al Aqsha dalam waktu semalam.
Namun tidak ada yang mustahil bagi Allah SWT, kekuasaan Allah meliputi segala sesuatu. Manusia dan makhluk ciptaan Allah semua tergantung pada-Nya. Disinilah nampak keterbatasan akal manusia, ada batasan dimana akal tidak mampu mencernanya. Walaupun akhir-akhir ini ada analisa yang mencoba memberikan penjelasan mengenai peristiwa isra’ mi’raj dari kacamata sains modern bagaimana cara Allah SWT yang menjalankan hambanya pada suatu malam dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa .
Surga itu adalah tempat kenikmatan yang kekal sempurna yang tidak ada didalamnya kekurangan sama sekali. Ia disediakan Allah SWT bagi mereka yang mentaati Perintah-Nya dan tidak mengingkari Kebenaran yang dibawa Rasul-Rasul-Nya, yakni orang-orang yang beramal shaleh semasa hidup didunia.
Ketahuilah wahai saudaraku-semoga Allah memberi taufiq kepada kita untuk menaati-Nya-bahwa surga adalah tempat orang-orang yang bertaqwa, tempat orang-orang yang dikaruniai nikmat dari Allah Ta’ala, dari kalangan para Nabi, shiddiqin, syuhada, dan orang-orang yang shaleh. Surga, adalah tempat yang tamannya berisi sungai-sungai yang mengalir di bawahnya. Dia adalah tempat yang tersusun dari bata-bata dan perak istananya. Misik yang terbaik tanahnya, pasirnya intan dan mutiara, Za’faran debunya dan mutiara yang dijalin kemah-kemahnya.
Di dalamnya terdapat hamba yang diberi karunia, yaitu orang-orang yang makan, tapi tidak mengeluarkan ingus dan tidak buang air, bahkan keringat yang mengalirpun memiliki aroma minyak kesturi/misik. Mereka yang bertaqwa bertempat tinggal dan tidak berpindah, hidup tidak mati. Wajah-wajah mereka cerah, tertawa lagi berseri. Di dalamnya diangkatlah hijab, hingga orang-orang akan melihat wajah Allah Ta’ala. Itu semua telah dikabarkan oleh Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam dan dalam Al-Qur’an Al-Kariim.
Tidak ada kenikmatan di dunia yang dapat menandingi kenikmatan yang disediakan Allah SWT didalamnya. Sebagaimana diriwayatkan di dalam hadits Qudsi oleh Imam Al Bukhari dari Abu Hurairah RA : Rasulullah SAW bersabda “Aku sediakan bagi hamba-hamba-Ku yang shaleh segala sesuatu yang tidak pernah terlihat oleh mata, tidak pernah terdengar oleh telinga dan tidak pernah terlintas dalam hati manusia”