18
June
2008

Gambaran Artistik Al-Qur’an

         ( Sayyid Qutb )

Sungguh, aku telah membaca Al-Qur’an tatkala aku masih kecil. Saat itu pikiranku masih belum bisa menggapai makna-maknanya.  Pemahamanku juga masih belum bisa meliputi maksud-maksudnya. Namun saat itu aku mendapatkan sesuatu dalam diriku.  Ketika itu imajinasiku sebagai anak kecil senantiasa membayangkan gambaran-gambaran yang ada dalam ungkapan-ungkapan Al-Qur’an. Meskipun gambaran-gambaran itu sangat lugu, namun jiwaku senantiasa merindukannya dan perasaanku bisa menikmatinya. Yang demikian itu aku alami dalam waktu yang cukup lama. Aku merasa senang sekali dan gandrung. Diantara gambaran-gambaran lugu yang sempat terbayang dalam anganku kala itu ialah yang muncul saat aku membaca ayat berikut: 
“Dan diantara manusia ada yang menyembah kepada Allah ‘diatas satu sisi saja’. Apabila kebaikan menimpa padanya maka ia pun menjadi tenang dengannya. Namun jika cobaan menimpanya maka ia ‘membalikkan wajahnya’. Dia itu  orang yang akan merugi di dunia dan juga di akhirat”. (QS Al-Hajj : 11) 
Tidak mungkin ada orang yang akan bisa tertawa andaikata ia membayangkan seperti bayanganku berikut ini:  Aku membayangkan seseorang yang sedang berdiri di tepian tempat yang tinggi: dudukan yang tinggi – yang biasa aku lihat di kampung – atau puncak dari sebuah bukit yang sempit – yang biasa aku lihat disamping lembah – dan dia sedang melakukan shalat. Akan tetapi, dia tidak mendapatkan tempat yang cukup. Karenanya dia bergoyang-goyang setiap kali melakukan gerakan shalat dan hampir-hampir dia terjatuh. Saya saat itu bisa melihatnya dan aku tirukan gerakan-gerakan shalatnya dengan rasa riang tetapi dengan penuh rasa heran! Dan diantara gambaran-gambaran lugu lainnya ialah yang muncul saat aku membaca ayat berikut:   “Dan bacakanlah kepada mereka berita mengenai orang yang Kami telah memberikan kepadanya ayat-ayat Kami lalu ia melepaskan diri darinya dan syetan pun mengikutinya, sehingga ia termasuk orang-orang yang sesat. Andai saja Kami kehendaki tentu Kami akan meninggikannya dengan ayat-ayat Kami. Akan tetapi, ia mengekalkan diri kepada dunia dan memperturutkan hawa nafsunya. Perumpamaan orang itu ialah seperti anjing: apabila dihalau ia menjulurkan lidahnya dan apabila dibiarkan ia juga menjulurkan lidahnya”. (QS Al-A’raf : 176)  Saat itu aku sama sekali belum bisa memahami makna ataupun maksud ayat ini. Akan tetapi, dalam anganku muncul sebuah gambaran: gambaran seorang laki-laki dengan mulut ternganga dan lidah yang panjang, menjulur-julurkan lidahnya tanpa henti, dan saya tidak jauh darinya. Aku tidak suka melihatnya. Aku tidak paham mengapa dia menjulur-julurkan lidahnya. Dan aku tidak berani dekat-dekat dengannya! Gambaran-gambaran semacam itu sangat banyak dan bermacam-macam, yang terbayang sewaktu aku masih kecil. Aku bisa menikmati khayalan-khayalan itu. Karenanya aku jadi gandrung untuk membaca Al-Qur’an. Aku senantiasa mencari gambaran dalam lembaran-lembaran Al-Qur’an, setiap kali aku membacanya 

 .( Baca Selengkapnya )

Leave a comment

You must be logged in to post a comment.