May
2008
Bahaya Faham Murji’ah
Dan sebab mereka dinamakan Murjiah adalah karena mereka mengakhirkan ‘amal dari Al Iman, karena irja’ maknanya adalah ta’khir (mengakhirkan), dikatakan: Arjaituhu wa arjaituhu idza akhkhartuhu (bila saya mengakhirkannya).
Murjiah dalam bab Al Iman ada dua macam, yaitu Ghalatul Murjiah (Murjiah ahli Kalam) dan Murjiah Fuqaha’
Adapun Murjiah ahli kalam, maka sungguh Jahm Ibnu Sofwan dan yang mengikutinya telah mengatakan: Al Iman itu adalah sekedar tashdieq (pembenaran) dengan hati dan mengatahuinya dan mereka tidak menjadikan amalan hati sebagai bagian dari Al Iman, serta mereka mengira bahwa seseorang bisa jadi dia itu mu’min kamilul iman dengan hatinya, sedangkan dia itu menghina Allah dan Rasul-Nya, memusuhi auliyaallah dan terhadap musuh-musuh Allah, dia menghancurkan masjid dan menghinakan mushhaf dan mu’munin dengan puncak penghinaan serta memuliakan orang-orang kafir dengan puncak pemuliaan.
Mereka berkata: Ini semua adalah maksiat yang tidak menafikan keimanan yang ada di hatinya, akan tetapi ia melakukan hal ini sedangkan ia secara bathin di sisi Allah adalah mu’min. Mereka juga berkata: Sebab diberlakukan baginya Ahkamul Kuffar di dunia ini adalah karena ucapan-ucapan ini adalah tanda terhadap kekafiran.
Dan bila dinyatakan terhadap mereka bahasa Al Kitab, As Sunnah dan Ijma telah menyatakan bahwa seorang tertentu dari mereka itu kafir pada hakekat sebenarnya lagi di adzab di akhirat. Maka mereka berkata ini adalah dalil yang menunjukkan lenyapnya tashdiq ilmu dari hatinya. Kekafiran menurut mereka adalah hanya satu hal, yaitu kejahilan, dan iman juga adalah hanya satu hal, yaitu pengetahuan atau pendustaan hati dan pembenarannya. Sesungguhnya mereka berselisih apakah tashdiqul qalbi itu hal lain al ilmu atau ia itu suatu yang sama. Dan pendapat ini walaupun pendapat yang paling rusak yang dikatakan dalam hal al iman, namun ia telah dianut oleh banyak kalangan dari Ahlu Kalam yang Murjiah.
Dan salaf sendiri seperti Waki Ibnu Jarrah, Ahmad Ibnu Hambal, Abu ‘Ubaid dan yang lainnya telah mengkafirkan orang yang mengatakan pendapat ini, dan mereka berkata: Iblis kafir dengan nash Al Qur’an sedang dia hanya dikafirkan dengan sebab istikbarnya serta sikap penolakan untuk sujud (menghormati) Adam bukan karena ia mendustakan berita, begitu juga Fir’aun dan kaumnya. Allah ta’ala berfirman: “Dan mereka mengingkarinya karena kezaliman dan kesombongan (mereka) padahal mereka meyakini (kebenaran) nya.” An-Naml: 14.
( Baca Selengkapnya / 175 halaman )
