30
May
2008

Ketika Amirul Mu’minin Umar bin Khatthab RA memecat Mu’awiyah dari jabatannya sebagai kepala daerah di Syria, ia menoleh kiri dan kanan mencari seseorang yang akan menjadi penggantinya. Sistem yang digunakan Umar untuk memilih pegawai dan pembantunya adalah suatu sistem yang mengandung segala kewaspadaan, ketelitian dan pemikiran yang matang, karena ia menaruh keyakinan bahwa setiap kesalahan yang dilakukan oleh setiap penguasa di tempat yang jauh sekali pun, yang akan ditanya oleh Allah swt. ialah dua orang: pertama Umar, dan kedua baru penguasa yang melakukan kesalahan itu. Karenanya syarat-2 yang dipergunakannya untuk menilai orang dan memilih para pejabat pemerintahan sangat ketat serta didasarkan atas pertimbangan tajam dan sempurna.
Syam atau Syria ketika itu merupakan wilayah yang modern dan besar dan telah mengalami pelbagai pergantian peradaban, sesuai dengan silih bergantinya penguasa kota itu. Ia juga menjadi pusat perdagangan yang penting. Maka menurut Umar, tidak ada yang cocok untuk negeri itu kecuali seorang suci yang tidak dapat diperdayakan syetan mana pun, seorang zahid yang gemar beribadat, yang tunduk dan patuh serta melindungkan diri kepada Allah.
Tiba-tiba Umar berseru, katanya, “Saya telah menernukannya, bawa ke sini, Sa’id bin ‘Amir!” Tak lama kemudian datanglah Sa’id menemui Amirul Mu’minin yang menawarkan kepadanya jabatan wali kota Homs, tetapi Sa’id menyatakan keberatannya, katanya, “Janganlah saya dihadapkan kepada fitnah, wahai Amirul Mu’minin!” Dengan nada keras Umar menjawab, “Tidak, demi Allah saya tak hendak melepaskan anda! Apakah tuan-tuan hendak membebankan amanat dan khilafat di atas pundakku , lalu tuan-tuan meninggalkan daku?”
Dalam sekejap Sa’id dapat diyakinkan. Memang sungguh suatu hal yang tidak adil bila mereka mengalungkan ke leher Umar amanat dan jabatan sebagai khalifah, lalu mereka meninggalkannya. Dan andai seorang Sa’id bin ‘Amir menolak memikul amanat tersebut, siapa lagi yang akan membantu Umar dalam memikul tanggung jawab yang amat berat itu?
Akhirnya Sa’id beserta istrinya berangkat ke Homs. Sebetulnya kedua mereka adalah pengantin baru dan isterinya adalah seorang wanita yang amat cantik. Mereka dibekali Umar secukupnya.
( Baca Selengkapnya )
Posted: Shahabat-Nabi-SAW
29
May
2008

Memang menegakkan Millah Ibrahim menuntut banyak pengorbanan. Namun dengannyalah pertolongan Allah dan keberhasilan besar digantungkan. Dengannyalah manusia terpilih menjadi dua barisan, barisan iman dan barisan kufur, fusuq dan ‘ishyan (maksiat) dan dengannya nampak jelas auliyaur Rahman dan auliya usy syaithan dan begitulah dakwah para Nabi dan para rasul.
Tidak ada pada mereka kondisi-kondisi yang sakit yang kita alami masa kini berupa berbaurnya tukang kayu bakar dengan tukang panah, orang baik dengan orang buruk, mudahanah dan mujalasah (duduk-duduk) orang-orang berjenggot bersama ahlu fusuq dan fujur, penghormatan terhadap mereka, penghargaan terhadapnya serta pengedepanan mereka atas orang-orang yang bertaqwa dan shalihin. Padahal mereka itu secara terang-terangan menampakkan kebencian terhadap dien ini dan memusuhinya dengan berbagai cara, selalu menunggu-nunggu bencana yang menimpa ahluddien.
Akan tetapi dakwah para Nabi itu adalah bara’ah yang jelas dari kaum-kaumnya yang berpaling dari syari’at Allah, serta permusuhan yang nampak terhadap ma’budat mereka yang bathil, tidak ada pertemuan di tengah jalan serta tidak ada mudahanah dan mujamalah dalam menyampaikan syari’at Allah.
Dengarkan ucapan Nuh as pada masa silam saat ia mengkhithabi kaumnya sendirian lagi tidak takut terhadap kekuasaan dan kezaliman mereka… Ia berkata:
يَاقَوْمِ إِن كَانَ كَبُرَ عَلَيْكُم مَّقَامِي وَتَذْكِيرِي بِئَايَاتِ اللهِ فَعَلَى اللِه تَوَكَّلْتُ فَأَجْمِعُوا أَمْرَكُمْ وَشُرَكَآءَكُمْ ثُمَّ لاَيَكُنْ أَمْرُكُمْ عَلَيْكُمْ غُمَّةً ثُمَّ اقْضُوا إِلَىَّ وَلاَتُنظِرُونِ
Artinya: “Hai kaumku, jika terasa berat bagimu tinggal (bersamaku) dan peringatanku (kepada kalian) dengan ayat-ayat Allah, maka kepada Allahlah aku bertawakal, karena itu bulatkanlah keputusanmu dan (kumpulkanlah) sekutu-sekutumu (untuk membinasakan aku). Kemudian janganlah keputusanmu itu dirahasiakan, lalu lakukanlah terhadap diriku, dan janganlah kamu memberi tangguh kepadaku.” (QS. Yunus, 10: 71).
( Baca Selengkapnya )
Posted: Aqidah
27
May
2008

Allah Subhanahu Wa Ta ‘Ala berfirman tentang Millah Ibrahim ‘alaihis salam.
وَمَن يَرْغَبْ عَن مِّلَّةِ إِبْرَاهِيمَ إِلاَّ مَن سَفِهَ نَفْسَهُ وَلَقَدِ اصْطَفَيْنَاهُ فِي الدُّنْيَا وَإِنَّهُ فِي اْلأَخِرَةِ لَمِنَ الصَّالِحِينَ
Artinya: “Dan tidak ada yang benci kepada agama Ibrahim, kecuali orang yang memperbodoh dirinya sendiri, dan sungguh Kami telah memilihnya di dunia dan sesungguhnya dia di akhirat benar-benar termasuk orang yang saleh.” (QS. Al Baqarah, 2: 130)
dan Allah Subhanahu Wa Ta ‘Ala berfirman juga seraya mengkhithabi Nabi-Nya Muhammad,
ثُمَّ أَوْحَيْنَآ إِلَيْكَ أَنِ اتَّبِعْ مِلَّةَ إِبْرَاهِيمَ حَنِيفًا وَمَاكَانَ مِنَ الْمُشْرِكِينَ
Artinya: “Kemudian Kami wahyukan kepadamu (Muhammad): “Ikutilah agama Ibrahim seorang yang hanif”. dan bukanlah dia termasuk orang-orang yang mempersekutukan Rabb.” (QS. An Nahl, 16: 123)
Dengan ungkapan yang terang dan jelas ini, Allah Subhanahu Wa Ta ‘Ala menjelaskan kepada kita minhaj dan jalan. Jalan yang benar serta minhaj yang lurus adalah Millah Ibrahim, tidak ada kesamaran dan kejanggalan dalam hal itu. Dan siapa yang tidak menyukai jalan ini dengan dalih maslahat dakwah atau bahwa meniti jalan tersebut bisa mendatangkan berbagai macam fitnah dan bencana atas kaum muslimin atau alasan-alasan kosong lainnya yang dibisikkan oleh syaithan pada jiwa-jiwa yang lemah imannya, maka dia itu dungu, terperdaya lagi menduga bahwa dirinya lebih mengetahui akan metode dakwah daripada Ibrahim ‘Alaihis Salam yang telah disucikan Allah dengan firman-Nya:
وَلَقَدْ ءَاتَيْنَآ إِبْرَاهِيمَ رُشْدَهُ مِن قَبْلُ وَكُنَّا بِهِ عَالِمِينَ
Artinya: “Dan sesungguhnya telah Kami anugerahkan kepada Ibrahim hidayah kebenaran sebelum (Musa dan Harun), dan adalah Kami mengetahui (keadaan)nya.” (QS. Al Anbiya, 21: 51)
Allah Subhanahu Wa Ta ‘Ala telah mensucikan dakwahnya di hadapan kita dan memerintahkan penutup para Nabi dan rasul agar mengikutinya, serta Dia menjadikan safaahah (dungu/bodoh sekali) sebagai sifat bagi setiap orang yang tidak suka terhadap jalan dan manhajnya. Sedangkan Millah Ibrahim adalah:
● Memurnikan ibadah kepada Allah saja dengan segala makna yang di kandung oleh kata ibadah.(5)
● Berlepas diri dari syirik dan para pelakunya.
Al Imam Asy Syaikh Muhammad Ibnu Abdil Wahhab rahimahullah berkata: Pokok dien Al Islam dan kaidahnya ada dua:
Pertama: - Perintah ibadah kepada Allah saja tidak ada sekutu bagi-Nya
- Dorongan kuat atas hal itu
- Melakukan loyalitas di dalamnya
- Dan mengkafirkan orang yang meninggalkannya
Kedua : - Peringatan dari penyekutuan dalam ibadah kepada Allah
- Kecaman keras terhadap hal itu
- Melakukan permusuhan di dalamnya
- Dan mengkafirkan orang yang melakukannya
Dan inilah tauhid yang didakwahkan oleh para rasul ‘Alaihis Salam seluruhnya … dan inilah makna laa ilaaha illallah. Yaitu pemurnian, tauhid, dan pengesaan Allah ‘Azza wa Jalla dalam ibadah serta loyalitas terhadap dien dan para wali-wali-Nya, dan kufur serta bara’ah dari segala yang diibadahi selain-Nya dan juga memusuhi musuh-musuh-Nya.
( Baca Selengkapnya )
Posted: Aqidah
24
May
2008

Banyak sekali manusia mengorbankan tauhidnya, mengorbankan dirinya untuk mendapatkan materi, mendapatkan uang, makanan, harta benda dari dunia ini padahal Allah ta’ala sangat menghati-hatikannya:
يَآأَيُّهَا النَّاسُ إِنَّ وَعْدَ اللهِ حَقٌّ فَلاَ تَغُرَّنَّكُمُ الْحَيَاةُ الدُّنْيَا وَلاَيَغُرَّنَّكُمْ بِاللهِ الْغُرُورُ
“Wahai sekalian manusia, Sesungguhnya janji Allah adalah benar . Dan jangan sampai kehidupan dunia ini menipu kalian dan jangan sampai syaithan yang pandai menipu memperdayakan kalian tentang Allah” (QS. Al Fathir:5)
Jadi, kalau orang telah lupa kepada tujuan hidup yaitu pengabdian kepada Allah SWT dan malah menjadi hamba/abdi selain Allah Subhanahu wa Ta’ala berarti dia telah terpedaya dengan kehidupan dunia, dia terpedaya oleh syaithan dan dia lupa akan tujuan hidup yang sebenarnya. Kita diciptakan untuk mengabdi kepada Allah, untuk beribadah kepada Allah, akan tetapi dikarenakan kita –manusia- ini terbatas kemampuan akalnya, diciptakan sebagai makhluq yang bodoh lagi zalim….,maka manusia tidak bisa mengabdi secara benar kepada Allah dengan sendirinya tanpa ada bimbingan, maka dari itu Allah Subhanahu wa Ta’ala menurunkan Rasul-rasulNya sebagai pembimbingnya. Allah juga mengetahui bahwa Rasul-rasul itu tidak akan hidup selamanya di tengah ummatnya… mereka pasti meninggal dunia. Maka Allah menurun kan KitabNya sebagai pedoman yang harus dipegang oleh orang-orang yang mengikuti para Rasul tersebut. para Rasul diutus sebagai pembimbing. Inti dakwah para Rasul diterangkan Allah ta’ala dalam firman-NYA :
وَلَقَدْ بَعَثْنَا فِي كُلِّ أَمَّةٍ رَّسُولاً أَنِ اعْبُدُوا اللهَ وَاجْتَنِبُوا الطَّاغُوتَ
“Dan Sungguh, kami telah mengutus seorang Rasul untuk setiap ummat (untuk menyerukan) : “Sembahlah Allah dan Jauhilah thaghut” (QS. An-Nahl :36)
Semua Rasul, Allah wahyukan kepada mereka yang pertama adalah “Laa ilaaha illallaah” dan inilah yang disampaikan oleh para Rasul dalam ayat An-Nahl diatas tadi (“Ibadahlah kalian kepada Allah dan Jauhilah thaghut”) Jika kedua ayat tersebut digabungkan maka maknanya adalah : Ibadahlah kalian kepada Allah dan jauhilah thaghut. Laa ilaaha maknanya : Jauhilah thaghut dan Illallaah maknanya beribadahlah kalian kepada Allah. Ajaran Tauhid (laa ilaha Illallaah) ini disepakati oleh semua Rasul,dari Rasul pertama sampai Rasul terakhir, dalam masalah tauhid adalah sama, yaitu perintah untuk hanya beribadah kepada Allah dan menjauhi thaghut.
( Baca Selengkapnya )
Posted: Aqidah
24
May
2008

اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَ الْمُؤْمِنَاتِ، وَ الْمُسْلِمِيْنَ وَ الْمُسْلِمَاتِ وَأَلِّفْ بَيْنَ قُلُوْبِهِمْ وَ أَصْلِحْ ذَاتَ بَيْنِهِمْ وَ انْصُرْهُمْ عَلَى عَدُوِّكَ وَعَدُوِّهِمْ وَاهْدِهِمْ سُبُلَ السَّلاَمِ، وَأَخْرِجْهُمْ مِنَ الظُّلُمَاتِ إِلَى النُّوْرِ، وَ جَنِّبْهُمُ الْفَوَاحِشَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ، وَ بَارِكْ لَهُمْ فِي أَسْمَاعِهِمْ وَأَبْصَارِهِمْ مَا أَبْقَيْتَهُمْ، وَ اجْعَلْهُمْ شَاكِرِيْنَ لِنِعَمِكَ مُثْنِيْنَ بِهَا عَلَيْكَ، قَابِلِيْهَا، وَأَتْمِمْهَا عَلَيْهِمْ يَا رَبَّ الْعَالَمِيْنَ، اَللَّهُمَّ انْصُرْ كِتَابَكَ وَ دِيْنَكَ وَ عِبَادَكَ الْمُؤْمِنِيْنَ، وَأَظْهِرِ الْهُدَي وَ دِيْنَ الْحَقِّ الَّذِي بَعَثْتَ بِهِ نَبِيَّنَا مُحَمَّدًا صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ عَلَى الدِّيْنِ كُلِّهِ، اَللَّهُمَّ عَذِّبِ الْكُفَّارَ وَ الْمُنَافِقِيْنَ، الَّذِيْنَ يَصُدُّوْنَ عَنْ سَبِيْلِكَ وَ يُبَدِّلُوْنَ دِيْنَكَ وَ يُعَادُوْنَ الْمُؤْمِنِيْنَ، اَللَّهُمَّ خَالِفْ كَلِمَتَهُمْ، وَشَتِّتْ بَيْنَ قُلُوْبِهِمْ، وَاجْعَلْ تَدْمِيْرَهُمْ فِيْ تَدْبِيْرِهِمْ، وَأَدِرْ عَلَيْهِمْ دَائِرَةَ السَّوْءِ، اَللَّهُمَّ أَنْزِلْ بِهِمْ بَأْسَكَ الَّذِيْ لاَيُرَدُّ عَنِ الْقَوْمِ الْمُجْرِمِيْنَ، اَللَّهُمَّ مُجْرِيَ السَّحَابِ، وَ مُنْزِلَ الْكِتَابِ، وَهَازِمَ اَلأَحْزَابِ، اِهْزِمْهُمْ وَ زَلْزِلْهُمْ ، وَ انْصُرْنَا عَلَيْهِمْ، رَبَّنَا أَعِنَّا وَلاَ تُعِنْ عَلَيْنَا، وَ انْصُرْنَا وَلاَ تَنْصُرْ عَلَيْنَا، وَامْكُرْ لَنَا وَ لاَ تَمْكُرْ عَلَيْنَا، وَ اهْدِنَا وَ يَسِّرِ الْهُدَي لَنَا، وَانْصُرْنَا عَلَى مَنْ بَغَى عَلَيْنَا، رَبَّنَا اجْعَلْنَا لَكَ شَاكِرِيْنَ مُطَاوِعِيْنَ مُخْبِتِيْنَ أَوَّاهِيْنَ مُنِيْبِيْنَ، رَبَّنَا تَقَبَّلْ تَوْبَتَنَا، وَاغْسِلْ حَوْبَتَنَا، وَثَبِّتْ حُجَّتَنَا، وَاهْدِ قُلُوْبَنَا، وَسَدِّدْ أَلْسِنَتَنَا، وَاسْلُلْ سَخَائِمَ صُدُوْرِنَا
Artinya
Yaa Alloh, ampunilah kaum mukminin dan mukminat, kaum muslimin dan muslimat, satukanlah hati mereka, perbaikilah hubungan mereka, menangkanlah mereka atas musuhMu dan musuh mereka, berilah petunjuk mereka kepada jalan-jalan keselamatan, dan keluarkanlah mereka dari kegelapan menuju cahaya, dan jauhkanlah mereka dari perbuatan-perbuatan keji yang lahir maupun yang batin, dan berkahilah pendengaran dan penglihatan mereka selama Engkau hidupkan mereka, dan jadikanlah mereka orang-orang yang mensyukuri nikmat-nikmatMu, memujiMu lantaran nikmat-nikmat tersebut, dan menerima nikmat-nikmat tersebut, dan sempurnakanlah nikmat-nikmat tersebut kepada mereka wahai Robb semesta alam. Yaa Alloh menangkanlah kitabMu, diin (agama) Mu dan hamba-hambaMu yang beriman, dan menangkanlah petunjuk dan diinul haqq (agama yang benar) yang Engkau turunkan melalui Nabi Kami Muhammad SAW di atas semua diin (agama). Yaa Alloh siksalah orang-orang kafir dan orang-orang munafik yang menghalang-halangi dari jalanMu dan merubah diin (agama) Mu, dan memusuhi orang-orang beriman. Yaa Alloh cerai-beraikan kesepakatan mereka, perselisihkanlah hati mereka, dan jadikanlah kehancuran mereka pada usaha mereka, dan turunkanlah bencana kepada mereka. Yaa Alloh turunkanlah siksaanMu yang tidak ada yang bisa menolaknya dari orang-orang yang jahat. Yaa Alloh, yang menjalankan awan, yang menurunkan kitab, yang menghancurkan pasukan yang bersekutu, hancurkanlah mereka dan goncangkanlah mereka, dan menangkanlah kami atas mereka. Wahai Robb kami, tolonglah kami dan janganlah Engkau tolong orang yang memusuhi kami, menangkanlah kami dan jangan Engkau menangkan orang yang memusuhi kami, buatkanlah makar untuk membela kami dan jangan Engkau buatkan makar orang yang memusuhi kami, dan berilah petunjuk kepada kami, dan mudahkanlah kami dalam mendapatkan petunjuk, dan menangkanlah kami terhadap orang yang menganiaya kami. Wahai Robb kami, jadikanlah kami orang-orang yang bersyukur, taat, tunduk, banyak berdo’a dan banyak bertaubat kepadamu. Wahai Robb kami, terimalah taubat kami, sucikanlah dosa kami, kokohkanlah hujjah kami, berilah petunjuk hati kami, luruskanlah lidah-lidah kami dan cabutlah kedengkian yang ada di dalam dada-dada kami.
Ibnu Taimiyyah berkata: “Lafadh do’a ini diriwayatkan oleh At Tirmidziy dengan sanad tunggal, dan ia menshohiihkannya, dan ini adalah termasuk do’a yang paling mencakup kebaikan dunia dan akherat, dan do’a ini ada penjelasannya yang sangat agung.” (Al Fataawaa, Kitaabul Jihaad, dalam surat beliau kepada para sahabatnya ketika beliau berada di penjara Iskandariyah)
Posted: Taushiyah