12
April
2008

“Shibghah (celupan) Allah. Dan siapakah yang lebih baik shibghahnya dari pada Allah? Dan hanya kepada-Nya-lah kami menyembah.” (QS Al-Baqoroh 2 ayat 138)
Secara bahasa, sibghoh artinya celupan, jadi yang dimaksud dengan siobghotallah berarti celupan Allah. Artinya, kalau seorang muslim telah dicelup dengan celupan Allah, celupan itu akan merasuk kepada seluruh tulangnya, darah dagingnya, sehingga ia akan menjadi seorang pribadi-pribadi mukmin yang diridhai Allah SWT. Itu yang dimaksud dengan sibghotallah.
Menurut ulama tafsir Al-Razi, agama Islam dinamakan shibghah Allah SWT atau celupan Ilahi karena dua alasan. Pertama, seperti celupan, agama itu harus meresap atau diresapi hingga menembus ke lubuk hati yang paling dalam. Kedua, seperti celupan, agama itu harus membentuk jati diri, sosok, bahkan warna (citra) diri yang khas karena iman dan kepatuhannya yang tulus kepada Allah SWT.
Dengan celupan agama itu, manusia membangun dirinya menjadi Muslim sejati yang dalam pemikiran Syaikh Mahmud Syaltut harus diupayakan melalui enam program.
· Pertama, iman dengan keyakinan yang menggetarkan hati. Kedua, ibadah dengan ketundukan secara mutlak kepada Allah SWT.· Ketiga, sosial dengan membangun hubungan dan kerja sama yang baik dalam kebajikan dan takwa. · Keempat, akhlak al-karimah dengan menjaga kesucian diri dan keluhuran budi pekerti. · Kelima, dakwah dengan mengajak manusia ke jalan Tuhan melalui taushiyah dan amar makruf nahi munkar. · Keenam, ikhlas dengan mengorientasikan semua aktivitas demi dan untuk Allah SWT semata.
Tanpa memperhatikan celupan Ilahi, manusia akan tertipu oleh barang tiruan, yaitu celupan palsu buatan manusia yang akan membawanya terjungkal ke dalam kawah kemusyrikan dengan dosa tanpa ampun.
( Baca selengkapnya )
Posted: Aqidah
11
April
2008

Diriwayatkan oleh Muadz bin Jabal r.a. dari Ibn Abbas r.a., ia berkata : ” Kami bersama Rasululah SAW berada di rumah seorang sahabat dari golongan Anshar dalam sebuah jamaah. Tiba-tiba, ada yang memanggil dari luar : ” Wahai para penghuni rumah, apakah kalian mengizinkanku masuk, karena kalian membutuhkanku “. Rasulullah SAW bertanya kepada para sahabat :” Apakah kalian tahu siapa yang menyeru itu ?”. Para sahabat menjawab , ” Tentu Allah dan Rasul-Nya lebih mengetahui “. Rasulullah SAW bersabda : ” Dia adalah Iblis yang terkutuk ? semoga Allah senantiasa melaknatnya”. Umar bin Khattab r.a. berkata :” Ya, Rasulullah, apakah engkau mengijinkanku untuk membunuhnya?”. Nabi SAW berkata pelan :” Bersabarlah wahai Umar, apakah engkau tidak tahu bahwa dia termasuk mereka yang tertunda kematiannya sampai waktu yang ditentukan [hari kiyamat]?. Sekarang silakan bukakan pintu untuknya, karena ia sedang diperintahkan Allah SWT. Fahamilah apa yang dia ucapkan dan dengarkan apa yang akan dia sampaikan kepada kalian ! “.
Ibnu Abbas berkata : ” Maka dibukalah pintu, kemudian Iblis masuk ke tengah-tengah kami. Ternyata dia adalah seorang yang sudah tua bangka dan buta sebelah mata. Dagunya berjanggut sebanyak tujuh helai rambut yang panjangnya seperti rambut kuda, kedua kelopak matanya [masyquqatani] memanjang [terbelah ke-atas, tidak kesamping], kepalanya seperti kepala gajah yang sangat besar, gigi taringnya memanjang keluar seperti taring babi, kedua bibirnya seperti bibir macan / kerbau [tsur]. Dia berkata, ” Assalamu ‘alaika ya Muhammad, assalamu ‘alaikum ya jamaa’atal-muslimin [salam untuk kalian semua wahai golongan muslimin]”. Nabi SAW menjawab :” Assalamu lillah ya la’iin [Keselamatan hanya milik Allah SWT, wahai makhluq yang terlaknat. Aku telah mengetahui, engkau punya keperluan kepada kami. Apa keperluanmu wahai Iblis”. Iblis berkata :” Wahai Muhammad, aku datang bukan karena keinginanku sendiri, tetapi aku datang karena terpaksa [diperintah].”
Nabi SAW berkata :” Apa yang membuatmu terpaksa harus datang kesini, wahai terlaknat?”. Iblis berkata,” Aku didatangi oleh seorang malaikat utusan Robb Yang Maha Agung, ia berkata kepada-ku ‘Sesungguhnya Allah SWT menyuruhmu untuk datang kepada Muhammad SAW dalam keadaan hina dan bersahaja. Engkau harus memberitahu kepadanya bagaimana tipu muslihat, godaanmu dan rekayasamu terhadap Bani Adam, bagaimana engkau membujuk dan merayu mereka. Engkau harus menjawab dengan jujur apa saja yang ditanyakan kepadamu’. Allah SWT bersabda,” Demi kemulia-an dan keagungan-Ku, jika engkau berbohong sekali saja dan tidak berkata benar, niscaya Aku jadikan kamu debu yang dihempas oleh angin dan Aku puaskan musuhmu karena bencana yang menimpamu”. Wahai Muhammad, sekarang aku datang kepadamu sebagaimana aku diperintah.
Tanyakanlah kepadaku apa yang kau inginkan. Jika aku tidak memuaskanmu tentang apa yang kamu tanyakan kepadaku, niscaya musuhku akan puas atas musibah yang terjadi padaku. Tiada beban yang lebih berat bagiku daripada leganya musuh-musuhku yang menimpa diriku”.
Rasulullah kemudian mulai bertanya :” Jika kamu jujur, beritahukanlah kepadaku, siapakah orang yang paling kamu benci ?”. Iblis menjawab :” Engkau, wahai Muhammad, engkau adalah makhluq Allah yang paling aku benci, dan kemudian orang-orang yang mengikuti agamamu”.
Rasulullah SAW :” Siapa lagi yang kamu benci?”. Iblis :” Anak muda yang taqwa, yang menyerahkan jiwanya kepada Allah SWT”. Rasulullah :” Lalu siapa lagi ?”. Iblis :” Orang Alim dan Wara [menjaga diri dari syubhat] yang saya tahu, lagi penyabar”. Rasulullah :” Lalu, siapa lagi ?”. Iblis :” Orang yang terus menerus menjaga diri dalam keadaan suci dari kotoran”. Rasulullah :” Lalu, siapa lagi ?”. Iblis :” Orang miskin [fakir] yang sabar, yang tidak menceritakankefakirannya kepada orang lain dan tidak mengadukan keluh-kesahnya “.
( Baca Selengkapnya )
Posted: Cerita-Islami
9
April
2008

Di dalam Al-Qur’an dinyatakan bahwa Rasulullah Saw itu adalah teladan yang baik bagi kita. Salah satu dari sekian banyak hal yang harus kita teladani dari beliau dan para sahabatnya adalah dari sisi perjuangan menyebarkan dan menegakkan nilai-nilai Islam. Ini menjadi amat penting dalam upaya mencapai sukses dalam mencapai kejayaan umat sebagaimana sukses yang telah diraih oleh Rasul dan para sahabatnya. Untuk berjaya maka perlulah kita contohi orang-orang yang telah terbukti kejayaannya. Dan tidak ada kejayaan yang lebih besar yang diraih melainkan kejayaan yang telah ditunjukkan oleh Rasulullah SAW.
Dalam menuruti jejak-jejak manhaj perjuangan Rasulullah SAW, sekurang-kurangnya ada enam faktor yang harus kita kenang dan kita teladani dari perjuangan yang dilaksanakan oleh Rasulullah Saw dengan para sahabatnya demi mencapai kejayaan di dunia dan di akhirat.
1. Perancangan Yang Matang, Perjuangan yang dilakukan oleh Rasulullah Saw menghadapi banyak kesulitan. Meskipun perjuangan Rasulullah SAW kalau mendapatkan kesulitan akan memperoleh pertolongan dari Allah Swt, tetapi Rasulullah Saw dalam perjuangannya tidak berserah bulat kepada pertolongan Allah itu lalu beliau santai-santai saja. Sama sekali tidak
2. Kerjasama Yang Baik, Dalam hijrah amat nampak bagi kita bagaimana Rasulullah SAW dan para sahabatnya bahu membahu dan Saidina Ali karamallahu wajhahng berkerjasama yang baik. Rasulullah SAW telah meangagih-agihkan tugas yang sesuai dengan bakat dan kepakaran masing-masing dan para sahabat menjalankan amanah yang diberikan oleh Rasulullah SAW dengan sebaik-baiknya.
3. Pengorbanan Yang Besar, hijrah Nabi SAW dan para sahabatnya ke Madinah juga memberikan contoh kepada kita betapa yang namanya perjuangan itu memang menuntut pengorbanan, baik pengorbanan harta, jiwa, tenaga, pikiran, waktu dan perasaan.
4. Keikhlasan yang tulus, Hijrah merupakan perjalanan yang jauh, mencengkam dan sulit. Oleh kerana itu hijrah harus dilaksanakan dengan niat ikhlas agar kesungguhan kita terserlah demi Allah dan Rasul-Nya. Tanpa kesungguhan, tidaklah mungkin hijrah itu mampu terlaksana. Begitu juga dengan perjuangan. Keikhlasan itu perlu dalam perjuangan, kerana keikhlasan akan mencetus daya dorong untuk menzahirkan kesungguhan dalam perjuangan
5. Persaudaraan Yang Indah, Setelah Rasulullah SAW dan para sahabatnya tiba di Madinah, sambutan luar biasa ternyata diperlihatkan oleh orang-orang Madinah, bahkan Rasulullah SAW sendiri sampai bingung harus tinggal dimana, bingung bukan kerana tidak ada tempat untuk baginda, tapi bingung kerana hampir semua orang Madinah menginginkan agar Rasulullah SAW menetap di rumah mereka. Oleh kerana itu Rasulullah SAW menyatakan ” biarkan unta ini berhenti, dimana dia berhenti, disitulah saya akan menetap.
6. Kebanggaan Sebagai Muslim, Sambutan yang sedemikian hangat, persaudaraan yang sedemikian indah dan kokoh serta pembangunan kota Madinah yang berhasil dilakukan oleh Nabi SAW dan para sahabatnya membuat kaum muslimin baik dari muhajirin maupun ansar semakin memiliki kebanggan sebagai muslim. Kebanggan sebagai muslim ini merupakan modal yang sangat bererti bagi perjuangan selanjutnya dan ini memang betul-betul terjadi.
( Baca Selengkapnya )
Posted: Cerita-Islami
9
April
2008

Dalam sebuah hadits diriwayatkan bahwa Rasulullah saw. bersabda: ”Orang yang mendapatkan cobaan paling berat adalah para Nabi, lalu orang-orang shalih, kemudian yang semisal, dan seterusnya. Seseorang itu diuji sesuai dengan tingkat keteguhannya berpegang pada agamanya. Jika dia benar-benar teguh, maka dia akan semakin ditambah ujiannya” (THR. At Tirmidzi, Ahmad, dan Ibnu Majah).
- Ujian dan cobaan yang menimpa Nabiyullah Ayyub as. tidak menambah sesuatupun kepada beliau kecuali kesabaran, ketabahan, pujian, dan rasa syukur. Allah swt. menyebut kesabaran dan ketaatan hamba pilihan-Nya itu dalam firman-Nya: ”Sesungguhnya Kami mendapati dia (Ayyub) seorang yang sabar. Dia adalah sebaik-baik hamba. Sesungguhnya dia sangat taat kepada Rabb-nya” (TQS. Shaad: 4).
Fudhail bin Iyadh ra duduk-duduk di teras rumah sambil memangku anaknya yang berusia empat tahun. Sesekali ia menciumi pipi si bocah nan menggemaskan.
- “Ayah, apakah kau mencintai aku?” celoteh anak Fudhail sambil memandang ayahnya.
“Tentu, dong, sayang,” jawab Fudhail.
“Apakah kau mencintai Allah?”
“Tentu, dong, sayang.”
“Emang, berapa hati Ayah?”
“Satu.”
“Cuma satu kok bisa sayang aku dan Allah sekaligus?'’
Ups, terperanjat Fudhail mendengar celoteh anaknya. Yang dia dengar bukan lagi omongan seorang balita, melainkan suara kebenaran. Lalu teringatlah Fudail pada firman Allah Swt.: “Katakanlah, jika bapak-bapak, anak-anak, saudara-saudara, istri-istri, karib keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatirkan kerugiannya, dan rumah-rumah tempat tinggal yang kamu sukai lebih kamu cintai daripada Allah dan Rasul-Nya dan dari berjihad di jalan-Nya, maka tunggullah sampai Allah mendatangkan keputusan-Nya. Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang fasiq.” (TQS Al-Taubah: 24).Seketika Fudhail menangis. Sambil menciumi buah hati yang telah menyadarkannya, ia sibuk bertaubat dalam hati. Dan sejak itu ia berjanji untuk mempersembahkan hati hanya untuk Allah, dan dengan landasan ini pula ia tetap mencintai keluarganya.
- Ketika Amirul Mu’minin Umar bin Khatthab ra memecat Mu’awiyah ra dari jabatannya sebagai kepala daerah di Syria, beliau menoleh ke kiri dan kanan mencari seseorang yang akan menjadi penggantinya. Sistem yang digunakan Umar untuk memilih pegawai dan pembantunya adalah suatu sistem yang mengandung segala kewaspadaan, ketelitian dan pemikiran yang matang, karena ia menaruh keyakinan bahwa setiap kesalahan yang dilakukan oleh setiap penguasa di tempat yang jauh sekali pun, yang akan ditanya oleh Allah swt. ialah dua orang: pertama Umar, dan kedua baru penguasa yang melakukan kesalahan itu. Karenanya syarat-syarat yang dipergunakannya untuk menilai orang dan memilih para pejabat pemerintahan sangat ketat serta didasarkan atas pertimbangan tajam dan sempurna.
Syria ketika itu merupakan wilayah yang modern dan besar yang telah mengalami pelbagai pergantian peradaban sesuai dengan silih bergantinya penguasa kota itu. Ia juga menjadi pusat perdagangan yang penting. Maka menurut Umar, tidak ada yang cocok untuk negeri itu kecuali seorang suci yang tidak dapat diperdayakan syetan mana pun, seorang zahid yang gemar beribadat, yang tunduk dan patuh serta melindungkan diri kepada Allah.
Tiba-tiba Umar ra berseru, katanya, “Saya telah menernukannya, bawa ke sini, Sa’id bin ‘Amir!” Tak lama kemudian datanglah Sa’id menemui Amirul Mu’minin yang menawarkan kepadanya jabatan wali kota Homs, tetapi Sa’id menyatakan keberatannya, katanya, “Janganlah saya dihadapkan kepada fitnah, wahai Amirul Mu’minin!” Dengan nada keras Umar menjawab, “Tidak, demi Allah saya tak hendak melepaskan anda! Apakah tuan-tuan hendak membebankan amanat dan khilafat di atas pundakku , lalu tuan-tuan meninggalkan daku?”
Dalam sekejap Sa’id ra. dapat diyakinkan. Memang sungguh suatu hal yang tidak adil bila mereka mengalungkan ke leher Umar amanat dan jabatan sebagai khalifah, lalu mereka meninggalkannya. Dan andai seorang Sa’id bin ‘Amir menolak memikul amanat tersebut, siapa lagi yang akan membantu Umar dalam memikul tanggung jawab yang amat berat itu?
( Baca Selengkapnya )
Posted: Cerita-Islami
8
April
2008

Abul-Laits meriwayatkan dengan sanadnya dari Abu Hurairah r.a. berkata: Rasulullah s.a.w. bersabda: “Api neraka telah dinyalakan selama seribu tahun sehingga merah, kemudian dilanjutkan seribu tahun sehingga putih, kemudian dilanjutkan seribu tahun sehingga gelap bagaikan malam yang kelam.”
Diriwayatkan bahwa Yazid bin Martsad selalu menangis sehingga tidak pernah kering air matanya dan ketika ditanya, maka dijawabnya: Andaikata Allah s.w.t. mengancam akan memanjarakan aku didalam bilik mandi selama seribu tahun. nescaya sudah selayaknya air mataku tidak berhenti maka bagaimana sedang kini telah mengancam akan memasukkan aku dalam api neraka yang telah dinyalakan selama tiga ribu tahun.”
Abdullah bin Jubair r.a. meriwayatkan bahwa Rasulullah s.a.w. bersabda: “Bahwa didalam neraka ada ular-ular sebesar leher unta, jika menggigit maka rasa pedih bisanya tetap terasa hingga empat puluh tahun. Juga didalam neraka ada kala sebesar keledai, jika menggigit maka akan terasa pedih bisanya selama empat puluh tahun.”
Al-a’masy dari Yazid bin Wahab dari Ibn Mas’ud ra. berkata: “Sesungguhnya apimu ini sebahagian dari tujuh puluh bagian dari api neraka, dan andaikan tidak didinginkan dalam laut dua kali nescaya kamu tidak dapat mempergunakannya.”
Mujahid ra. berkata: “Sesungguhnya apimu ini berlindung kepada Allah s.w.t. dari neraka jahannam.” Rasulullah s.a.w. bersabda: “Sesungguhnya seringan-ringan siksa ahli neraka iaitu seorang yang berkasutkan dari api nerka, dan dapat mendidihkan otaknya, seolah-olah ditelinganya ada api, dan giginya berapi dan dibibirnya ada wap api, dan keluar ususnya dari bawah kakinya, bahkan ia merasa bahawa dialah yang terberat siksanya dari semua ahli neraka, padahal ia sangat ringan siksanya dari semua ahli neraka.”
Abul-Laits meriwayatkan dengan sanadnya dari Abdullah bin Amr r.a. berkata: “Orang-orang neraka memanggil Malaikat Malik tetapi tidak dijawab selama empat puluh tahun, kemudian dijawabnya: “Bahwa kamu tetap tinggal dalam neraka.” Kemudian mereka berdoa (memanggil) Robb-nya: “Ya Robb, keluarkanlah kami dari neraka ini, maka bila kami mengulangi perbuatan-perbuatan kami yang lalu itu bererti kami zhalim.” Maka tidak dijawab selama umur dunia ini dua kali, kemudian dijawab: “Hina dinalah kamu didalam neraka dan jangan berkata-kata.”
Demi Allah setelah itu tidak ada yang dapat berkata-kata walau satu kalimah, sedang yang terdengar hanya nafas keluhan dan tangis rintihan yang suara mereka hampir menyamai suara himar (keledai).
( Baca Selengkapnya )
Posted: Aqidah