17
April
2008

Keutamaan sikap Waro’ dan Menjauhi Syubhat

Setiap insan yang terlahir ke dunia dalam keadaan suci laksana kertas putih tanpa noda. Tugas besar manusia sepanjang alur hidupnya adalah menjaga kesucian diri itu. Firman Allah SWT ‘’Sesungguhnya beruntunglah orang yang menyucikan diri.’’(QS al-A’la: 14, Asy-Syams: 9).

Oleh sebab itu, perlu perisai diri untuk menangkis segala sesuatu,  bukan hanyayang  dilarang Allah SWT (haram), namun juga yang syubhat (sesuatu yang belum tegas halal-haramnya).  Rasulullah SAW bersabda ‘’Barangsiapa yang menjaga dirinya dari hal-hal yang syubhat, sesungguhnya ia telah berhasil mencari kebersihan bagi agamanya dan nama baiknya sendiri.’’ (HR Bukhari dan Muslim). Perisai diri itu adalah sikap wara’ yang secara harfiah berarti menahan diri, berhati-hati, atau menjaga diri supaya tidak jatuh pada kecelakaan. Ibrahim bin Adham mendefinisikan wara’ sebagai, ‘’Meninggalkan semua syubhat dan apa-apa yang tidak berarti baginya, yaitu semua hal yang tidak berguna dan sia-sia.’’

Jangan sekali-kali berpikir bahwa orang yang sempurna adalah orang yang mengenakan imamah terbaik dan pakaian mewah. Akan tetapi orang yang sempurna adalah yang menjauhi maksiat, banyak berdzikir, beramal saleh, dan menuntut ilmu dengan penuh adab, karena ilmu akan menuntun pemiliknya mencapai kemuliaan.

Abdullah bin Mubarak suatu hari berkata, “Aku akan mengerjakan perbuatan yang akan membuatku mulia.” Ia lalu menuntut ilmu hingga menjadi seorang yang ‘alim. Waktu ia memasuki kota Madinah, masyarakat berbondong-bondong menyambutnya hingga hampir-hampir saja mereka saling bunuh karena berdesak-desakan. Ibu suri raja yang kebetulan menyaksikan kejadian itu bertanya, “Siapakah orang yang datang ke kota kita ini?”

“Ia adalah salah seorang ulama Islam,” jawab pelayannya.

Ia kemudian berkata kepada anaknya, “Perhatikanlah, bagaimana masyarakat berbondong-bondong mendatanginya. Raja yang satu ini tidak seperti kamu. Kamu, jika menginginkan sesuatu, harus memerintah seseorang untuk melakukannya. Tetapi, mereka mendatanginya dengan suka rela.”

Abdullah sesungguhnya adalah anak seorang budak berkulit hitam bernama Mubarak. Budak ini betisnya kecil, bibirnya tebal dan telapak kakinya pecah-pecah. Walaupun demikian, ia adalah seorang yang sangat wara`. Ke-wara’-annya ini akhirnya membuahkan anak yang saleh.

( baca selengkapnya )

Leave a comment

You must be logged in to post a comment.