15
April
2008

Iman kepada perkara Ghoib

Masalah ghaib adalah masalah yang banyak membuat penasaran orang, sebenarnya percaya kepada ghaib adalah salah satu rukun dari rukun iman, hanya saja kebanyakan orang memandang ghaib dari sudut kepentingan dirinya sendiri, bukan makna dari keberadaannya, sehingga banyaklah yang terseret kepada kemusryikan. Keabsahan iman seseorang adalah bila ia mempercayai hal yang ghaib. Namun, bagaimana cara meyakini sesuatu yang tak nampak di pelupuk mata?

Ghaib adalah lawan dari nyata. Ada alam ghaib, ada alam syahaadah (nyata). Iman kepada yang ghaib adalah “membenarkan berita ghaib dengan lisan, keyakinan dan amal perbuatan. Allah Ta’ala dan Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan kita untuk beriman kepada yang ghaib, bukan kepada yang tampak nyata. Karena disinilah ujian keimanan, ketundukan, kepasrahan dan ketulusan.

Mengomentari firman Allah : “Dan Orang-orang yang beriman kepada yang ghaib”, Syaikh As Sa’dy rahimahullah berkata: “Hakekat iman adalah pembenaran yang utuh terhadap apa yang dikhabarkan oleh para Rasul yang mencakup ketundukan anggota badan. Bukanlah urusan iman itu terkait dengan perkara-perkara yang tampak oleh indera. Karena yang demikian itu tidak akan membedakan antara orang islam dan kafir. Objek keimanan adalah perkara ghaib yang tidak pernah kita lihat dan tidak pernah kita saksikan. Kita mengimaninya karena khabar dari Allah Ta’ala dan Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam saja. Maka inilah iman yang akan memisahkan antara seorang muslim dan kafir”.

Para shahabat radhiyallahu ‘anhum memeluk Islam dan beriman kepada Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam demi melihat tanda-tanda kenabian serta mukjizat-mukjizatnya, yang Allah Ta’ala tampakkan kepada Rasul-Nya. Mereka tahu saat-saat wahyu turun. Mereka melihat beratnya keada-an Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam beberapa kondisi ketika menerima wahyu.

Mereka melihat peristiwa-peristiwa besar yang mengiringi turunnya wahyu dan membenarkannya. Mereka kenal bahwa Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam tiada pernah berdusta ataupun berkhianat kepada sesama, maka bagaimana mungkin akan berdusta atau berkhianat kepada Allah, sedang Dia adalah Tuhan yang diibadahi dengan penuh pengagungan dan kecintaan, ketakutan dan harapan.

Maka sudah sepantasnya lah mereka beriman. Bahkan kalau bukanlah karena hasad dan gengsi, Yahudi Madinah, Nashrani Najran dan kaum kafir Quraisy pastilah beriman.

Yang lebih hebat dari mereka yang beriman saat itu adalah orang-orang yang datang setelah mereka. Tidak melihat Nabi barang sejenak, tidak pula peristiwa-peristiwa hebat di atas. Namun mereka beriman. Dari itu ketika Abu Ubaidah ra bertanya: “Ya Rasulallah, ada-kah yang lebih baik daripada kami? Kami memeluk agama Islam bersamamu. Dan kami berjihad bersamamu”. Beliau menjawab, “Iya (ada)! Yaitu kaum setelah kalian. Mereka beriman kepadaku sedang mereka tidak pernah melihatku.”

Baca Selengkapnya )

Leave a comment

You must be logged in to post a comment.