25
April
2008

Riwayat Hidup Rasulullah SAW0

Jubair bin Mut’im ra. berkata: “Rasulullah SAW bersabda: ‘Saya adalah Muhammad, saya adalah Ahmad, saya adalah al-Mahi yang dengan sebabku Allah SWT menghapus kekufuran, saya adalah al-Hasyir yang mengumpulkan manusia, saya adalah al-A’qib yang tidak ada nabi lagi setelahku.’” (Hadits sahih diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim)
Abu Musa Abdullah bin Qais ra. berkata: “Rasulullah SAW memberikan dirinya beberapa nama di antaranya ada yang kami hafal. Beliau mengatakan: ‘Saya Muhammad, saya Ahmad, saya al-Muqaffi, saya Nabi taubat dan Nabi rahmat.’ Dalam riwayat lain: ‘dan Nabi peperangan.’ Hadits sahih diriwayatkan oleh Muslim.  Jabir bin abdillah ra. berkata: “Rasulullah SAW bersabda: ‘Saya Ahmad, saya Muhammad, saya al-Hasyir (yang mengumpulkan), saya al-Mahi (yang dengan sebabku Allah SWT menghapus kekefuran), dan pada hari kiamat nanti panji kemuliaan berada di tanganku. Aku pemimpin para rasul dan pemilik syafaat mereka.”

Allah SWT memberikan nama kepadanya di dalam Al-Quran dengan nama Basyir (pembawa kabar baik), Nadzir (pembawa berita buruk), Rauf (lemah lembut), Rahim (penyayang), dan Rahmatan lilalamin (pembawa rahmat buat alam semesta).

Nabi Muhammad SAW dalam keadaan yatim piatu diasuh oleh kakeknya Abdul Mutthalib kemudian oleh pamannya Abu Thalib. Allah SWT mensucikannya dari kotoran-kotoran jahiliyah dan dari semua aib.  Allah SWT menganugerahkan semua sifat-sifat yang baik sehingga Beliau dikenal di kalangan kaumnya dengan julukan Al-Amin (orang yang jujur) karena amanah, kejujuran dan kesuciannya. Ketika usianya mencapai dua belas tahun beliau mengadakan perjalanan ke Syam bersama pamannya. Ketika sampai di Bushra seorang pendeta Nasrani  bernama Buhaira melihatnya. Beliau  mengenalnya dengan ciri-ciri yang ada pada diri Nabi Muhammad SAW. Buhaira mendatangi beliau, mengambil tangannya dan berkata: “Inilah tuan untuk semesta alam, inilah utusan Rabb semesta alam, inilah nabi yang akan diutus untuk semesta alam.” Buhaira ditanya: “Dari mana kamu tahu hal ini?” Ia berkata: “Sesungguhnya ketika kalian datang dari Aqabah tidak ada pepohonan dan bebatuan kecuali semuanya sujud. Dan ini tidak dilakukan kecuali kepada nabi. Dan kami mendapatkan hal ini dari kitab suci kami.” Kemudian ia meminta Abu Thalib untuk kembali bersamanya karena khawatir terhadap kejahatan orang-orang Yahudi kepadanya.

Kemudian Muhammad mengadakan perjalanan ke Syam yang kedua kali bersama Maysarah budak Khadijah ra untuk berniaga di pasar kota Bushra sebelum Khadijah dinikahi oleh Muhammad. Ketika Muhammad berusia dua puluh lima tahun ia menikahi Khadijah. Dan ketika usianya empat puluh tahun Allah SWT memilihnya untuk membawa risalah-Nya. Jibril mendatanginya ketika Muhammad berada di gua Hira yang terletak di sebuah gunung di Makkah. Semnejak itu jadilah ia sebagai Rasullullah. Beliau berdakwah di Mekah selama tiga belas tahun, menurut pendapat lain lima belas tahun atau sepuluh tahun, pendapat yang benar adalah tiga belas tahun. Rasulullah SAW shalat menghadap Baitul Maqdis selama di Makkah tanpa membelakangi Ka’bah tetapi menjadikan Ka’bah di depannya. Setelah hijrah ke Madinah, Rasulullah SAW shalat menghadap ke Baitul Maqdis selama tujuh belas atau enam belas bulan.

Rasulullah SAW hijrah ke Madinah bersama Abu Bakar as-Siddiq ra dan budaknya Amir bin Fuhairah serta seorang penunjuk jalan Abdullah bin al-Uraiqit al-Laitsi yang masih kafir. Selanjutnya Rasulullah SAW berdakwah di Madinah selama sepuluh tahun.

Rasulullah SAW wafat dalam usia enam puluh tiga tahun. Ada juga pendapat yang mengatakan Beliau wafat dalam usia enam puluh lima atau enam puluh, namun pendapat pertama adalah pendapat yang benar.
Rasulullah SAW wafat pada waktu dhuha hari Senin dua belas Rabiul Awal. Pendapat lain mengatakan tanggal dua atau tanggal satu Rabiul Awal. Beliau dimakamkan pada malam Rabu. Pendapat lain mengatakan malam Selasa. Sebelum wafat, Rasullullah SAW menderita sakit selama dua belas atau empat belas hari.
Rasulullah SAW dimandikan oleh Ali bin Abi Thalib ra, pamannya Abbas bin Abi Thalib ra, al-Fadhl bin Abbas ra, Qutsam bin Abbas ra, Usamah bin Zaid ra dan Syuqran ra serta dihadiri pula oleh Aus bin Khaula al-Anshari ra.
Beliau dikafani dengan tiga lapis kain putih yang dibuat di Sahul –sebuah negeri di Yaman –, tanpa gamis dan sorban. Kemudian kaum muslimin menshalatinya sendiri-sendiri tanpa jamaah.
Jasad Rasulullah SAW diletakkan di atas sehelai kain merah yang dipakainya untuk selimut lalu dimasukkan ke dalam kubur oleh Abbas, Ali, al-Fadhl, Qutsam dan Syuqran kemudian ditutup dengan sembilan batu.
Rasulullah SAW dimakamkan di tempat Beliau wafat yaitu sekitar tempat tidurnya di kamar Aisyah ra dan di tempat itu pula dimakamkan Abu Bakar ra dan Umar ra.

( Baca Selengkapnya )

22
April
2008

Tauhid Penangkal Syirik0

Tauhid merupakan kewajiban pertama yang Allah wajibkan kepada umat manusia, dan sebaliknya larangan pertama yang Allah larang kepada mereka adalah syirik. Hal ini sebagaimana firman Allah SWT:

يَأيُّهَا النَّاسُ اعْبُدُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ وَالَّذِينَ مِن قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ الَّذِي جَعَلَ لَكُمُ اْلأَرْضَ فِرَاشًا وَالسَّمَآءَ بِنَآءً وَأَنْزَلَ مِنَ السَّمَآءِ مَآءً فَأَخْرَجَ بِه مِنَ الثَّمَرَاتِ رِزْقًا لَكُمْ فَلاَ تَجْعَلُوا لِلَّهِ أَنْدَادًا وَأَنْتُمْ تَعْلَمُونَ

“Hai manusia beribadahlah kepada Rabbmu yang telah menciptakanmu dan orang-orang yang sebelummu, agar kamu bertaqwa. Dialah yang menjadikan bumi sebagai hamparan bagimu dan langit sebagai atap. Dan Dia yang menurunkan air (hujan) dari langit, lalu Dia menghasilkan dengan sebab itu segala buah-buahan sebagai rizki untukmu, karena itu janganlah kamu menjadikan sekutu-sekutu bagi Allah padahal kamu mengetahui.” (Q.S. Al Baqarah : 21-22)

Allah SWT tidaklah mewajibkan suatu perkara, melainkan pasti padanya terdapat keutamaan-keutamaan yang sangat mulia. Begitu pula dengan “Tauhid” yang merupakan paling wajibnya perkara dari perkara-perkara yang paling wajib, pasti mempunyai berbagai keutamaan. Tauhid adalah tingkat keimanan yang tertinggi, sebagai syarat diterimanya suatu ibadah, sebab bagi datangnya ampunan Allah SWT. Orang yang benar-benar merealisasikan tauhid akan masuk jannah (surga) tanpa hisab, selain itu juga merupakan sumber keamanan.

Seorang hamba sangat membutuhkan ampunan dari Allah Ta’ala. Karena kesalahan-kesalahan yang dilakukannya selama hidup di dunia akan menumpuk dan berakibat buruk di akhirat bila tidak mendapatkan ampunan dari-Nya. Oleh karena itulah tatkala Allah mengabarkan ada sebuah dosa yang tidak mendapatkan ampunan, tentunya akan membuat hamba kehilangan kebahagiaannya, bagaimana mungkin dia bisa menikmati indahnya surga dan menuai balasan amalnya jika ternyata dosa tersebut membuat semua amalnya hangus dan ampunanpun tidak turun kepadanya, dan lebih parah lagi surga pun diharamkan baginya.

( Baca Selengkapnya )

21
April
2008

Pentingnya Memelihara Iman0

Iman adalah kewajiban yang paling wajib dan kepentingan yang paling penting, karena di mata seorang hamba Allah SWT mempunyai kedudukan yang tinggi dan luhur. Setiap kebaikan di dunia dan akhirat tergantung pada kebaikan dan keselamatan iman. Betapa banyak faidah melimpah, buah-buahan yang beraneka ragam, panen yang lezat dan makanan yang tak kunjung habis serta kebaikan yang terus mengalir karena keimanan. Dari sini kaum Muslimin berlomba-lomba untuk menjaga, memurnikan dan menyempurnakan imannya. Seorang Muslim yang diberi taufiq oleh Allah SWT seharusnya menomorsatukan penjagaannya terhadap keimanan di atas segalanya dalam rangka mencontoh Salafus Shalih Radliyallahu ‘Anhum Ajma’in. Para Salafush-shalih selalu bersungguh-sungguh menjaga keimanan mereka, memeriksa amal mereka dan saling berwasiat di antara mereka.

Telah diketahui dari mereka bahwa iman itu dapat bertambah dan berkurang. Bertambah dengan menjalankan sebab yang membuat kuatnya iman. Oleh karena itu sangat penting bagi setiap Muslim untuk mengetahui sebab-sebab yang menjadikan keimanan bertambah dan berkurang atau yang menguatkan dan melemahkan (membatalkannya), Al Alamah Abdul Rahman Ibnu Sa’di mengatakan:

Seorang Mukmin yang diberi taufiq oleh Allah SWT, dia senantiasa berusaha melakukan dua hal yaitu:  pertama, memurnikan keimanan dan cabang-cabangnya dengan cara mengambil ilmu dan mengamalkannya. Kedua, berusaha untuk menolak atau membentengi diri dari bentuk-bentuk ujian yang tampak maupun tersembunyi yang dapat menafikan (menghilangkan)nya dan membatalkannya atau mengikisnya.

Kecintaan kepada Allah dan Rasul-Nya ini sekaligus menjadi parameter untuk menakar kadar keimanan seorang Muslim. Lebih dari itu, manisnya iman akan dirasakan seorang Muslim jika dia telah menjadikan Allah dan Rasul-Nya lebih dia cintai daripada ragam kecintaannya kepada sekelilingnya.

Dari Anas bin Malik  ra., Sesungguhnya Nabi SAW bersabda,

“Ada tiga perkara, siapa saja yang memilikinya ia telah menemukan manisnya iman, yaitu orang yang mencintai Allah dan RasulNya lebih dari yang lainnya, orang yang mencintai seseorang hanya karena Allah, dan orang yang tidak suka kembali kepada kekufuran sebagaimana ia tidak suka dilemparkan ke neraka.”  (Mutafaqun ‘Alaih)

( Baca Selengkapnya )

18
April
2008

Mengapa Ahmadiyah dihujat ?0

Februari lalu, sebuah surat mampir ke meja Direktur Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam Departemen Agama (Depag), Nasaruddin Umar. Pengirimnya empat negara sekaligus, di antaranya Inggris, Amerika Serikat, dan Kanada. Mereka meminta Ahmadiyah tak dibubarkan. ‘’Suratnya ditujukan kepada Menteri Agama dan ada tembusannya ke saya,'’ ungkap Nasarudin kepada Republika, di Jakarta, beberapa waktu lalu. Lantas, apa yang akan dilakukan Depag? ‘’Itu tidak akan mempengaruhi apa-apa. Kita tak mau didikte negara lain.'’

Pada tahun 1974, para ahli dan ulama Islam dari 124 negara mengadakan pertemuan di Makkah al-Mukarramah yng disponsori oleh Rabithah al-Alam al-Islami. Dicapai kesepakatan bulat bahwa Mirza Ghulam Ahmad Qadiani dan pengikut-pengikutnya (Ahmadiyyah Gerakan/Qadiani/Ahmadis/Mirzais/Lahoris) adalah INGKAR/MUNGKAR, KAFIR DAN MURTAD dari ISLAM. Selama 100 tahun, para ulama di MAKKAH al-MUKARRAMAH, al-MADINAH al-MUNAWWARAH, MESIR, INDO-PAKISTAN dan semua negara-negara Islam dan ARAB telah mengambil satu pandangan bahwa jemaat ini telah ingkar, Kafir dan murtad dari Islam.

Majelis Rakyat (Parlemen) Pakistan melakukan debat dengan gembong kelompok Ahmadiyah bernama Nasir Ahmad. Debat ini berlangsung sampai mendekati 30 jam. Nasir Ahmad menyerah/tidak mampu menjawab pertanyaan-pertanyaan yang diajukan, dan tersingkaplah kedok kufurnya kelompok ini. Maka majelis parlemen mengeluarkan keputusan bahwa kelompok ini lepas dari agama Islam.

Mengapa negara lain sampai perlu melakukan intervensi? Merujuk fakta sejarah, semuanya menjadi masuk akal. Hubungan Inggris dengan Mirza Ghulam Ahmad (MGA) dan keluarganya memang mesra. ‘Nabi’ MGA berjasa menyerukan penghapusan jihad saat India dijajah Inggris. Hasan bin Mahmud Audah, mantan direktur umum Seksi Bahasa Arab Jemaat Ahmadiyah Pusat di London, menilai hubungan MGA dan Inggris tak ubahnya hubungan seorang pelayan kepada majikannya. Bukan semata hubungan terima kasih seorang Muslim pada orang yang berjasa padanya.
Di Ruhani Khazain hlm 36, MGA menyatakan: ‘’Tidak samar lagi, atas pemerintah yang diberkahi ini (Britania), saya termasuk dari pelayannya, para penasihatnya, dan para pendoa bagi kebaikannya dari dahulu, dan di setiap waktu aku datang kepadanya dengan hati yang tulus.'’

( Baca selengkapnya )

18
April
2008

Meraih kebahagiaan hidup di dunia0

Semua orang mendambakan hidup bahagia. Namun hanya sedikit yang mengerti arti bahagia yang sesungguhnya. Hidup bahagia merupakan idaman setiap orang, bahkan menjadi simbol keberhasilan sebuah kehidupan. Tidak sedikit manusia yang mengorbankan segala-galanya untuk meraihnya. Menggantungkan cita-cita menjulang setinggi langit dengan puncak tujuan tersebut adalah bagaimana hidup bahagia.

Hidup bahagia merupakan cita-cita tertinggi setiap orang baik yang mukmin atau yang kafir kepada Allah subhanahu wa ta’ala. Apabila kebahagian itu terletak pada harta benda yang bertumpuk-tumpuk, maka mereka telah mengorbankan segala-galanya untuk meraihnya. Akan tetapi tidak dia dapati dan sia-sia pengorbanannya.

Apabila kebahagian itu terletak pada ketinggian pangkat dan jabatan, maka mereka telah siap mengorbankan apa saja yang dituntutnya, meskipun begitu mereka belum tentu dapat mewujudkannya. Apabila kebahagian itu terletak pada ketenaran nama, maka mereka telah berusaha untuk meraihnya dengan apapun juga, namun ironis mereka tidak mendapatinya.

Demikianlah gambaran cita-cita hidup ingin kebahagiaan.

Apakah tercela orang-orang yang menginginkan demikian? Apakah salah bila seseorang bercita-cita untuk bahagia dalam hidup? Dan lalu apakah hakikat hidup bahagia itu? Pertanyaan-pertanyaan ini membutuhkan jawaban agar setiap orang tidak putus asa ketika dia berusaha menjalani pengorbanan hidup tersebut.

Ibnu Abbas radliallahu ‘anhuma adalah salah seorang sahabat Nabi SAW yang sangat telaten dalam menjaga dan melayani Rasulullah SAW, dimana beliau pernah secara khusus didoakan Rasulullah SAW, selain itu pada usia 9 tahun Ibnu Abbas telah hafal Al-Quran dan telah menjadi imam di mesjid. Suatu hari beliau ditanya oleh para Tabi’in (generasi sesudah wafatnya Rasulullah SAW) tentang apa yang dimaksud dengan kebahagiaan dunia.

Jawab Ibnu Abbas ada 7 (tujuh) indikator kebahagiaan dunia

( Baca Selengkapnya )