25
February
2008

Mengenal Pembatal Keislaman0

Saudara-saudaraku yang budiman, pada kesempatan ini akan kami ketengahkan sebuah tulisan yang sangat penting untuk kita simak bersama, yaitu tentang pembatal keislaman, dengan harapan kita bisa menjauhi dan menghidarinya. Karena jika tidak maka islam kita terancam batalalias tidak diterima disisi Rabb semesta alam.

Ketahuilah sesungguhnya hal-hal yang membatalkan keislaman itu ada sepuluh:

Pertama: Menyekutukan Allah SWT dalam beribadah.

Allah SWT berfirman :
Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendaki-Nya. (QS. An-Nisa : 48 8)

Dan firman-Nya:
Sesungguhnya orang yang mempersekutukan (sesuatu dengan) Allah, maka pasti Allah mengharamkan kepadanya surga, dan tempatnya ialah neraka, tidaklah ada bagi orang-orang zalim itu seorang penolongpun. (QS. Al-Maidah:72)

Termasuk di antaranya adalah: menyembelih untuk selain Allah SWT; seperti orang yang menyembelih untuk jin atau kuburan.

Kedua: Orang yang menjadikan perantara di antaranya dan di antara Allah SWT,  ia berdoa dan meminta syafaat serta bertawakkal (berserah diri) kepada mereka, maka ia menjadi kafir secara ijma’.

Ketiga: Orang yang tidak mengkafirkan orang musyrik atau ia ragu akan kekufuran mereka atau ia membenarkan pendirian mereka, maka ia telah kafir.

Keempat: Barangsiapa yang berkeyakinan bahwa petunjuk yang bukan datang dari Nabi saw lebih sempurna dari petunjuk beliau, atau hukum yang lainnya lebih baik dari hukumnya, seperti orang yang lebih mengutamakan hukum thogut dari pada hukumnya, maka ia telah kafir.

( baca selengkapnya kitab Pembatal-pembatal Keislaman karya Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab rahimahullah ta’ala )

23
February
2008

Sholat sarana Penghambaan pada Allah SWT0

22
February
2008

Memahami Hakikat Rukun Iman0



Rukun Iman adalah, Beriman:
• kepada Allah
• para malaikat-Nya
• kitab-kitab-Nya
• para rasul-Nya
• hari kemudian (kiyamat)
• beriman kepada takdir yang baik maupun yang buruk.

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:
“Akan tetapi sesungguhnya kebajikan itu adalah beriman kepada Allah, hari kemudian, malaikat malaikat, kitab-kitab, nabi-nabi.” (QS.Al-Baqarah: 177).

Dan dalam ayat lain Allah berfirman:
“Rasul telah beriman kepada Al-Qur’an yang diturunkan kepadanya dari Robbi-nya demikian pula orang-orang beriman. Semuanya beriman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya dan rasul-rasul Nya. Kami tidak membeda-bedakan antara seorang rasul dengan yang lainnya” (QS. Al-Baqarah: 285).

Adapun khusus mengenai takdir, Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:
“Sesungguhnya Kami menciptakan segala sesuatu menurut ukuran.” (QS. Al-Qomar:49).

Nabi Muhammad shallallahu alaihi wasallam bersabda:
“ Iman adalah: kamu beriman kepada Allah dan malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya, hari kemudian dan takdir yang baik maupun yang buruk.” (HR. Muslim).

Iman mencakup ucapan dengan lisan, keyakinan dengan hati dan amalan dengan anggota badan. Iman itu akan meningkat dengan melakukan ketaatan, dan menurun dengan melakukan maksiat.

(  baca selengkapnya dalam kitab Rukun Iman, disusun dari para da’i di Universitas Islam Madinah )

22
February
2008

Menuju Pemurnian dan Penanaman Aqidah0

Hampir dalam semua bidang ajaran Islam telah dikotori oleh paham-paham dan ajaran-ajaran sesat dan rusak (bathil)  yang tidak ada sumbernya dari Allah dan Rasul-Nya. Bidang aqidah, hadits, taftir, fiqih, dan lain-lain, semuamya telah kemasukan ajaran-ajaran yang tidak bersumber kepada Al Quran dan As Sunnah.

Syaikh Muhammad Nashiruddin Al Albany rahimahullah telah menyingsingkan lengan baju mengerahkan segenap daya dan kemampuan untuk mengadakan pembersihan besar-besaran (tashfiyah) dalam berbagai ajaran Islam.

Dalam bidang aqidah beliau bersihkan aqidah Islam dari keyakinan-keyakinan yang rusak (bathil), cerita bohong (khurafat), tahayul, dan kemusyrikan-kemusyrikan.
Dalam bidang hadits, beliau bersihkan hadits-hadits Rasulullah SAW dari hadits-hadits dhaif, hadits-hadits palsu, dan hadits-hadits yang tidak ada asal-usulnya.

Dalam bidang fiqih, beliau bersihkan fiqih Islam dari pendapat-pendapat manusia yang bertentangan dengan Al Quran dan Sunnah serta dari amalan-amalan ahli bid’ah yang tidak ada contohnya dari Rasul SAW dan para shahabat.

Dalam bidang tafsir, beliau bersihkan tafsir Al Quran dari penafsiran-penafsiran yang tidak pernah ada di zaman Rasulullah SAW dan para shahabat.

Setelah beliau mengadakan pembersihan atau pemumian ajaran Islam (tashfiyat), selanjutnya beliau melakukan tarbiyah,yaitu membimbmg dan mengajak kaum muslimin
untuk berpegang teguh dan mengamalkan ajaran-ajaran Islam yang asli dan benar, yaitu ajaran Islam yang dicontohkan oleh Rasulullah SAW.

Beliau betul-betul menghabiskan umurya untuk meniti jalan beragama (manhaj) ini. Dan beliaupun mengajak kaum muslimin terutama para ulama dan pencari ilmu. “untuk bekerja sama dan saling tolong-menolong dalam menempuh dan membangun manhaj tashfiyah dan tarbiyah ini .

( Silakan baca kitab Tasfiyah wa Tarbiyah karya beliau )

22
February
2008

Kriteria Loyalitas dalam Islam0

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang Yahudi dan Nasrani menjadi
pemimpin-peminpinmu, sebahagian mereka adalah pemimpin bagi sebahagian yang lain. Barangsiapa
diantara kamu mengambil mereka menjadi pemimpin, maka sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk
kepada orang-orang yang zalim.”(Q.S; Al-Maidah: 51).

Ayat ini khusus berkenaan tentang haramnya berwala’ terhadap ahli kitab. Demikian pula haram hukumnya menjadikan
orang kafir secara umum sebagai pemimpin, sebagaimana firman Allah SWT :
“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil musuh-Ku dan musuhmu menjadi teman-teman setia (pemimpin).” (Q.S; Al-Mumtahanah: 1).

Lebih tegas Allah mengharamkan orang mu’min menjadikan orang kafir sebagai pemimpin dan teman setia, sekalipun mereka adalah anggota keluarganya yang terdekat.

AllahU berfirman :
“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu jadikan bapak-bapak dan saudara-saudaramu menjadi pemimpin-pemimpinmu, jika mereka lebih mengutamakan kekafiran atas keimanan dan siapa diantara kamu yang menjadikan mereka pemimpinpemimpinmu, maka mereka itulah orang-orang yang zalim.” (Q.S; At-Taubah : 23).

Dan Allah SWT berfirman :
“Kamu tidak akan mendapati sesuatu kaum yang beriman kepada Allah dan hari akhirat, saling berkasih sayang dengan orang-orang yang menentang Allah dan Rasul-Nya sekalipun orangorang itu bapak-bapak, atau anak-anak, atau
saudara-saudara ataupun keluarga mereka.”(Q.S; Al- Mujadalah : 22).

Tapi kebanyakan manusia tidak mengetahui pokok agama yang agung ini, hingga suatu ketika saya pernah mendengar ada orang yang mengaku sebagai ahli ilmu dan juru dakwah mengatakan dalam sebuah siaran berbahasa arab bahwa: orang-orang nasrani itu sesungguhnya adalah saudara-saudara kita. Subhanallah, alangkah bahayanya pernyataan ini.

( baca selengkapnya kitab “Al Wala’ wal Bara’ karya SHALIH BIN FAUZAN ALFAUZAN )