29
February
2008

JIL sebuah Doktrin Usang

Dahulu kaum muslimin bangsa Indonesia berperang melalui antek-antek para penjajah yang menjajakan agama mereka, dan setelah bangsa kita merdeka iblispun tidak putus asa untuk melancarkan permusuhannya. Melalui berbagai perangkapnya ia memperdaya para pemujanya untuk memusuhi kebenaran dan pengikutnya.

Diantara makar yang sedang marak -walau sudah usang, ialah apa yang disebut dengan ajaran JIL (Jaringan Islam Liberal), yang mempropagandakan makar usang ini dengan mengesankan sebagai upaya “menyegarkan kembali pemahaman Islam.” Ini adalah salah satu upaya yang mereka tempuh guna mengelabuhi sebagian kaum muslimin yang lugu dan kurang mengenal akan prinsip dan syariat agamanya sendiri, yaitu agama Islam.

Perhatikanlah ucapan sombong (menolak kebenaran) mereka, yang memperlihatkan kejahilannya

Pandangan bahwa syari’at adalah suatu “paket lengkap” yang sudah jadi, suatu resep dari Tuhan untuk menyelesaikan masalah di segala zaman, adalah wujud ketidaktahuan dan ketidakmampuan memahami sunnah Tuhan itu sendiri. Mengajukan syariat Islam sebagai solusi atas semua masalah adalah salah satu bentuk kemalasan berpikir atau lebih parah lagi, merupakan cara untuk lari dari masalah, sebentuk eskapisme, inilah yang menjadi sumber kemunduran umat Islam di mana-mana.” (Islam Liberal & Fundamental hal. 13).

Bandingkan dengan ucapan Abu Jahal yang diabadikan Allah SWT dalam Al Qur’an:
“Apakah ia hendak menjadikan tuhan-tuhan itu Tuhan Yang Satu saja? Sesungguhnya ini benar-benar suatu hal yang sangat mengherankan. Dan pergilah pemimpin-pemimpin mereka (seraya berkata): Pergilah kamu, dan tetaplah (menyembah) tuhan-tuhanmu, sesungguhnya ini benar benar suatu hal yang dikehendaki. Kami tidak pernah mendengar hal ini dalam agama yang terakhir (yaitu agaman nasrani), ini (mengesakan Allah SWT) tidak lain hanyalah (kedustaan) yang diada-adakan.” (QS. Shad: 5-7)

Bila Abu Jahal menganggap seruan tauhid, beribadah hanya kepada Allah Ta’ala adalah suatu hal yang mengherankan, maka JIL menganggapnya sebagai sikap tidak mampu memahami sunnah Tuhan, atau bahkan sebagai sikap malas berpikir atau sebagai pelarian dari masalah, atau sebagai wujud ketidak berdayaan umat Islam dalam menghadapi masalah yang mengimpit mereka, dan menyelesaikannya dengan cara rasional.

Dengan demikian JIL benar-benar bodoh dan bahkan menentang kandungan syahadat (la ilaha illallahu) yang merupakan inti ajaran dan misi utama dakwah setiap nabi dan rasul, yaitu hanya beribadah kepada Allah dan berlepas diri dari segala peribadatan kepada selain-Nya:
“Dan sesungguhnya Kami telah mengutus rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan): “sembahlah Allah (saja) dan jauhilah thaghut (setiap sesembahan selain Allah) itu, maka diantara umat itu ada orang-orang yang diberi petunjuk oleh Allah dan ada pula diantaranya orang-orang yang telah pasti kesesatan baginya. Maka berjalanlah kamu di muka bumi dan perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang mendustakan (rasul-rasul).” (QS. An Nahl: 36)

( baca selengkapnya pada kitab Jaringan Islam Liberal Sebuah Doktrin Yang Telah Usang karya Al-Ustadz Muhammad ’Arifin Baderi, MA )

Leave a comment

You must be logged in to post a comment.