29
February
2008

Prioritaskan Pendidikan Anak0

Islam, agama yang sempurna, sangat memperhatikan pertumbuhan generasi. Untuk itu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam telah memerintahkan kita agar memilih istri shalihah, penuh kasih sayang dan banyak keturunannya. Dari istri-istri yang shalihah ini, diharapkan terlahir anak-anak yang shalih-shalihah, kokoh dalam beragama. Sehingga islam menjadi kuat dan musuh merasa gentar. Demikianlah, ibu memiliki peran yang dominan dalam membangun pondasi dan mencetak generasi, karena dialah yang akan mendidik anak-anak dalam ketaatan dan ketakwaan kepada Allah subhanahu wata’ala.

Perhatian Islam lainnya yang terkait dan ikut berpengaruh dengan pendidikan anak, yaitu Rasulullah SAW menganjurkan agar orang tua memberi nama yang baik terhadap anak-anaknya. Suatu nama akan turut memberi pengaruh pada anak. Sehingga banyak riwayat yang menjelaskan Rasulullah SAW mengubah beberapa nama yang tidak sesuai dengan Islam.

Ketegasan Islam dalam mendidik ini, juga bisa dikaji dari sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, bahwa ketika anak menginjak usia tujuh tahun, hendaklah kedua orang tua mengajarkan dan memerintahkan anak-anaknya untuk melakukan shalat. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

مُرُوا أَوْلاَدَكُمْ بِالصَّلاَةِ وَهُمْ أَبْنَاءُ سَبْعِ سِنِيْنَ وَاضْرِبُوهُمْ عَلَيْهَا وَهُمْ أَبْنَاءُ عَشْرٍ وَفَرِّقُوا بَيْنَهُمْ فِي اْلمَضَاجِعِ

“Perintahkanlah anak-anakmu untuk shalat ketika berusia tujuh tahun, dan pukullah jika enggan melakukannya bila telah berusia sepuluh tahun, serta pisahkanlah tempat tidur di antara mereka.” (HR. Abu Daud, dan dishahihkan oleh Syaikh al-Albani dalam shahih Sunan Abi Dawud. No. 466).

Perintah mengajarkan shalat, berarti juga mencakup hal-hal berkaitan dengan shalat. Misalnya, tata cara shalat, thaharah, dan kewajiban shalat berjama’ah di masjid, sehingga anak bisa lebih dekat dan akrab dengan kaum Muslimin.

Adapun pukulan pada anak, Islam memperbolehkan para orang tua untuk memukul, jika anak malas dan enggan melakukan shalat. Tetapi hendaklah diperhatikan, pukulan tersebut dalam batas-batas tarbiyah (pendidikan), dengan syarat bukan pukulan yang membahayakan, dan bukan pula pukulan mainan, sehingga tidak ada pengaruh apapun. Di antara tujuannya, supaya anak merasakan hukuman bila ia melakukan kemaksiatan meninggalkan shalat.

Namun kita lihat pada masa ini, pukulan, sebagai salah satu wasilah dalam tarbiyah, banyak ditinggalkan para orang tua. Dalih yang disampaikan, karena rasa sayang kepada anak. Padahal rasa sayang yang sebenarnya harus diwujudkan dengan pemberian pendidikan. Dan salah satunya dengan dipukul saat anak melakukan perbuatan maksiat.

Rasulullah juga memerintahkan para orang tua supaya memisahkan tempat tidur anak-anak yang telah memasuki usia sepuluh tahun. Maksud pemisahan ini, ialah untuk menghindari fitnah syahwat.

Oleh karena itu, jika orang tua bertanggung jawab terhadap anak-anaknya saat mereka tidur, lalu bagaimana saat mereka keluar dari rumah dan bergaul dengan masyarakat? Maka tentu orang tua memiliki tanggung jawab yang lebih besar lagi. Orang tua harus senantiasa mengawasi anak-anaknya, menjauhkannya dari teman dan pergaulan yang buruk lagi menyesatkan. Karena tarbiyah tidak hanya ketika berada di rumah saja, namun juga ketika anak-anak berada di luar rumah. Sebagai orang tua harus mengetahui tempat dan dengan siapa anak-anaknya bergaul. Ingatlah, orang tua adalah pemimpin, ia akan diminta tanggung-jawabnya.

( baca selengkapnya uraian khutbah Jum’at MENGAPA PENDIDIKAN ANAK ITU PENTING )

29
February
2008

JIL sebuah Doktrin Usang0

Dahulu kaum muslimin bangsa Indonesia berperang melalui antek-antek para penjajah yang menjajakan agama mereka, dan setelah bangsa kita merdeka iblispun tidak putus asa untuk melancarkan permusuhannya. Melalui berbagai perangkapnya ia memperdaya para pemujanya untuk memusuhi kebenaran dan pengikutnya.

Diantara makar yang sedang marak -walau sudah usang, ialah apa yang disebut dengan ajaran JIL (Jaringan Islam Liberal), yang mempropagandakan makar usang ini dengan mengesankan sebagai upaya “menyegarkan kembali pemahaman Islam.” Ini adalah salah satu upaya yang mereka tempuh guna mengelabuhi sebagian kaum muslimin yang lugu dan kurang mengenal akan prinsip dan syariat agamanya sendiri, yaitu agama Islam.

Perhatikanlah ucapan sombong (menolak kebenaran) mereka, yang memperlihatkan kejahilannya

Pandangan bahwa syari’at adalah suatu “paket lengkap” yang sudah jadi, suatu resep dari Tuhan untuk menyelesaikan masalah di segala zaman, adalah wujud ketidaktahuan dan ketidakmampuan memahami sunnah Tuhan itu sendiri. Mengajukan syariat Islam sebagai solusi atas semua masalah adalah salah satu bentuk kemalasan berpikir atau lebih parah lagi, merupakan cara untuk lari dari masalah, sebentuk eskapisme, inilah yang menjadi sumber kemunduran umat Islam di mana-mana.” (Islam Liberal & Fundamental hal. 13).

Bandingkan dengan ucapan Abu Jahal yang diabadikan Allah SWT dalam Al Qur’an:
“Apakah ia hendak menjadikan tuhan-tuhan itu Tuhan Yang Satu saja? Sesungguhnya ini benar-benar suatu hal yang sangat mengherankan. Dan pergilah pemimpin-pemimpin mereka (seraya berkata): Pergilah kamu, dan tetaplah (menyembah) tuhan-tuhanmu, sesungguhnya ini benar benar suatu hal yang dikehendaki. Kami tidak pernah mendengar hal ini dalam agama yang terakhir (yaitu agaman nasrani), ini (mengesakan Allah SWT) tidak lain hanyalah (kedustaan) yang diada-adakan.” (QS. Shad: 5-7)

Bila Abu Jahal menganggap seruan tauhid, beribadah hanya kepada Allah Ta’ala adalah suatu hal yang mengherankan, maka JIL menganggapnya sebagai sikap tidak mampu memahami sunnah Tuhan, atau bahkan sebagai sikap malas berpikir atau sebagai pelarian dari masalah, atau sebagai wujud ketidak berdayaan umat Islam dalam menghadapi masalah yang mengimpit mereka, dan menyelesaikannya dengan cara rasional.

Dengan demikian JIL benar-benar bodoh dan bahkan menentang kandungan syahadat (la ilaha illallahu) yang merupakan inti ajaran dan misi utama dakwah setiap nabi dan rasul, yaitu hanya beribadah kepada Allah dan berlepas diri dari segala peribadatan kepada selain-Nya:
“Dan sesungguhnya Kami telah mengutus rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan): “sembahlah Allah (saja) dan jauhilah thaghut (setiap sesembahan selain Allah) itu, maka diantara umat itu ada orang-orang yang diberi petunjuk oleh Allah dan ada pula diantaranya orang-orang yang telah pasti kesesatan baginya. Maka berjalanlah kamu di muka bumi dan perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang mendustakan (rasul-rasul).” (QS. An Nahl: 36)

( baca selengkapnya pada kitab Jaringan Islam Liberal Sebuah Doktrin Yang Telah Usang karya Al-Ustadz Muhammad ’Arifin Baderi, MA )

29
February
2008

Nasihat untuk Keluarga0

Islam telah memberikan perhatian yang besar terhadap wanita muslimah dan memuliakannya, baik ia sebagai anak, saudara,  isteri, maupun ibu. Islam juga telah memperhatikan hakhaknya serta menjelaskan kewajiban-kewajibannya.

Maka segala puji bagi Allah atas pemberian nikmat Islam. Dalam hadits shahih dari Rasulullah SAW beliau bersabda:
“Pergaulilah para wanita dengan baik.” (Muttafaq alaih).

“Orang mukmin yang paling sempurna imannya adalah yang paling baik akhlaknya, dan orang yang paling baik diantara kalian adalah yang paling baik terhadap isteri-isterinya (wanita-wanita mereka).” (HR. Tirmizi, ia berkata: hadis hasan shahih).

Semoga Allah SWT berfirman:
“Dan orang-orang yang beriman, lelaki dan perempuan, sebagian mereka (adalah) menjadi penolong bagi sebagian yang lain, mereka menyuruh (mengerjakan) yang ma’ruf dan mencegah yang mungkar, mendirikan shalat, menunaikan zakat, taat kepada Allah dan RasulNya. Mereka akan mendapatkan rahmat (kasih sayang) Allah.Sesunggunya Allah Maha Perkasa dan Maha Bijaksana.” (QS. At- Taubah: 9:71).

“Sesungguhnya orang-orang yang beriman adalah bersaudara.” (QS. Al-Hujurat:10).

Dari Abu Ruqayah Tamim bin Aus Addari RA, Bahwa Nabi r bersabda: “agama itu adalah nasehat. Kami bertanya : “untuk siapa?’ beliau menjawab: “Untuk Allah, kitab-NYA, Rasul-NYA, para imam orang-orang Islam dan untuk orang-orang awam mereka.” (HR. Muslim).

Dari Jabir bin Abdillah t berkata: “Saya telah berbai’at kepada Nabi SAW untuk mendirikan shalat, menunaikan zakat dan memberi nasehat kepada setiap muslim.” (Muttafaqun ‘alaih).

Kita mohon kepada Allah SWT, agar menunjukkan kita jalan yang lurus, menjauhkan kita dari yang batil, menunjukkan kita yang haq dalam seluruh urusan kita, mematikan kita dalam keadaan muslim, dan mengumpulkan kita bersama orang-orang yang shalih. Sesunguhnya Rabbku Maha dekat, Maha Mengabulkan dan mendengar do’a.

( baca selengkapnya kitab NASEHAT UNTUK KELUARGA MUSLIM [ Indonesia ] karya YUSUF BIN ABDULLAH AT TURKI )

28
February
2008

Meraih Kebahagiaan0

Sesungguhnya ketenangan hati dan kesenangannya serta hilangnya rasa gundah dan resah merupakan keinginan setiap orang. Karena dengan demikian akan tercapai kehidupan yang tenteram, bahagia dan sejahtera. Untuk mencapai hal-hal tersebut diperlukan sarana-sarana yang bersifat religius, alami dan logika yang kesemuanya tidak akan dapat dicapai kecuali oleh seorang mu’min. Adapun selain mereka, walaupun dapat diraih salah satunya itupun setelah para pemikir mereka menguras pikirannya untuk itu akan tetapi masih banyak hal lain yang terlewatkan yang lebih bermanfaat dan utama baik di dunia ini atau kehidupan berikutnya.

Sarana yang paling utama dan paling mendasar dalam masalah ini adalah beriman kepada Allah dan beramal Shaleh. Firman Allah ta’ala:
“Barangsiapa yang mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan sesungguhnya Kami beri balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan.” (An-Nahl: 97).

Allah ta’ala mengabarkan dan menjanjikan bagi siapa saja yang menggabungkan antara iman dan amal shaleh dengan kehidupan yang baik di dunia ini serta balasan kebaikan di dunia dan akhirat. Sebabnya jelas, karena orang-orang yang beriman kepada Allah ta’ala dengan iman yang benar dan berbuat amal shaleh yang dapat memperbaiki hati, akhlak, dunia dan akhirat, mereka memiliki pijakan dan landasan tempat menerima semua apa yang datang kepada mereka, baik yang berbentuk kebahagiaan dan kesenangan atau penderitaan dan kesedihan.

Jika mereka mendapatkan sesuatu yang dicintai dan disenangi, mereka menerimanya dengan rasa syukur serta menggunakannya sesuai fungsinya, dan jika mereka menggunakannya atas dasar tersebut maka timbullah perasaan gembira seraya berharap agar kebaikan tersebut tetap ada padanya dan mengandung berkah serta berharap teraihnya pahala karena dia termasuk orang-orang yang mensyukurinya. Semua itu merupakan perkara yang agung yang nilai dan berkahnya melebihi kebaikan itu sendiri sekaligus merupakan buahnya.

Mereka juga menghadapi keburukan dan kesulitan sesuai kemampuan yang mereka miliki, memperkecil semampunya, sabar terhadap apa yang tak mungkin mereka hindari. Dengan demikian, kesulitankesulitan tersebut memberikan mereka pengalaman dan kekuatan bagaimana menghadapi masalah.

Sabar dan berharap pahala atas apa yang dialami, berdampak sangat besar atas hilangnya kesulitan, berganti dengan kemudahan dan harapan yang baik, keinginan akan karunia Allah dan ganjaran-Nya, sebagaimana yang digambarkan Rasulullah SAW dalam hadits shahihnya:

(( عَجَباً لأَمْرِ المُؤْمِنِ إِنَّ أَمْرَهُ كُلَّھُ خَیْرٌ إِنْ أَصَابَتْھُ سَ رَّاءُ شَ كَرَ
فَكَ انَ خَیْ راً لَ ھُ، وَإِنْ أَصَ ابَتْھُ ضَ رَّاءُ صَ بَرَ فَكَ انَ خَیْ راً لَ ھُ وَلَ یْسَ
ذَلِكَ لأَحَدٍ إِلاَّ لِلْمُؤْمِنِ ))

“Sesungguhnya perkara seorang mu’min itu menakjubkan, karena semua perkara yang dialaminya adalah baik; jika mendapatkan kesenangan dia bersyukur, maka hal itu lebih baik baginya, jika mengalami kesulitan dia bersabar, maka hal itu lebih baik baginya, dan hal seperti itu tidak terdapat kecuali pada diri seorang mu’min.” (HR. Muslim).

( baca selengkapnya kitab MERAIH HIDUP BAHAGIA karya Abdur RAhman bin Nasir As-Sa’di )

27
February
2008

Pedoman Pembinaan Pribadi dan Masyarakat0

Islam adalah agama Tauhid, maka iman kepada pencipta alam merupakan kenyataan yang bisa diterima oleh setiap akal sehat. Pencipta itu ialah Allah yang hanya Dia saja yang berhak disembah. Oleh karena itu kalau memotong hewan atau nadzar harus ditujukan kepadaNya saja, terutama berdo’a. Rasululloh SAW bersabda :

الدعاء هو العبادة. حديث حسن صحيح رواه الترمذي.
“Do’a itu adalah ibadah.” (Hadits hasan shahih riwayat Turmudzi)

oleh karena itu tidak boleh ibadah itu ditujukan kepada selain Allah SWT.

Islam agama pemersatu dan bukan pemecah belah.
Islam mengajarkan agar beriman kepada semua utusan Allah SWT yang diutusNya untuk memberikan petunjuk kepada semua manusia dan untuk mengatur kehidupannya dan beriman bahwa Rasululloh Muhammad SAW adalah penghabisan semua Rasul Allah, syari’atnya menggantikan semua syari’at yang sebelumnya. Beliau diutus kepada seantero manusia untuk menyelamatkan mereka dari kelaliman dan agama-agama palsu. Ditegaskan pula bahwa agama Islam selalu terpelihara kebenarannya.

Islam adalah agama yang mudah, jelas dan dapat dimengerti. Islam tidak mengakui takhayul dan kepercayaan yang merusak serta falsafah yang sulit, ia dapat diterapkan di segala tempat dan waktu.

Islam tidak memisahkan antara moril dan meteril.
Islam memandang kehidupan ini sebagai kesatuan yang meliputi keduanya, tidak mengambil salah satunya dan meninggalkan yang lain.

Islam mengajarkan persamaan, persaudaraan sesama muslim. Ia anti terhadap semua yang bersifat perbedaan daerah dan tingkat sosial.

Allah berfirman :
 إن أكرمكم عند الله أتقاكم 
“Sesungguhnya orang yang paling mulia pada sisi Allah di antaramu adalah yang paling takwa di antaramu.” (Al-Hujurat : 13).

Islam tidak mengajarkan kekuasaan pemuka agama yang memonopoli agama. Islam juga tidak mengenal pikiran yang sulit dibuktikan kebenarannya. Juga tidak mengenal apa yang disebut pembesar-pembesar agama yang dipuja. Setiap manusia bisa mempelajari Al-Qur’an dan hadits Rasululloh SAW menurut faham orang-orang shaleh dahulu, kemudian mewarnai kehidupan masyarakat sesuai dengan Qur’an dan Hadits.

( baca selengkapnya Kitab BIMBINGAN ISLAM Untuk Pribadi & Masyarakat Oleh : Asyeikh Muhamad Jamil Zainu )