31
January
2008

Kesesatan Ibadah Rebo Wekasan0

Prof.KH. Ali Mustafa Yaqub, MA
Imam Besar Masjid Istiqlal

Keyakinan afdholnya ibadah Rebo Wekasan atau Rabu terakhir bulan Safar adalah keyakinan yang sudah menjamur di beberapa kalangan masyarakat, khususnya di wilayah Jawa Barat. Memang kami akui, selama ini di Jawa Tengah dan Jawa Timur, amalan tersebut kurang populer. Kami pernah berdomisili di Jawa Tengah, Jawa Timur dan Arab Saudi puluhan tahun lamanya. Baru kali ini, di Jawa Barat, kami mendapatkan informasi tentang amalan Rebo Wekasan. Karenanya, kami sangat berterima kasih kepada Anda atas informasinya. Mudah-mudahan kami dapat melacak keabsahan amalan tersebut. Insya Allah.

Pada dasarnya setiap amal ibadah adalah haram dilakukan (al-ashl fi al ibadah haram). Hanya ibadah yang ada dalilnya yang boleh diamalkan. Sebab tatacara ibadah harus berdasarkan petunjuk dari Allah SWT dan Rasul-Nya ini berdasarkan kaidah al-ashlu fi al-ibadah al-iqtida (pada prinsipnya beribadah itu harus mengikuti petunjuk Nabi SAW). Karenanya, kita tidak boleh mengamalkan suatu ibadah tanpa mengetahui dalilnya dengan benar. Allah SWT berfirman yang artinya : “Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan, dan hati, semuanya akan diminta pertanggungjawaban”. (Q.S. Al-Israa : 36).

Mengenai keabsahan amalan Rebo Wekasan, kami bersama teman-teman santri berusaha menelusuri dalil-dalilnya. Dalam catatan kaki kitab Nihayah al-Zein dikatakan, malapetaka diturunkan setiap tahunnya dari Lauh Mahfudz ke langit dunia pada malam Rabu terakhir bulan Safar. Tetapi sumber keterangan ini tidak jelas, siapa yang berbicara dan dalam kitab apa.

Kitab lainnya yaitu Kitab Kifayatul Ubbaddin, Parukunan gede Kumplit, ditulis dengan huruf Arab pegon berbahasa Sunda oleh Muhammad Abdullah bin Hasan, Cikaruya Kidul, Gunung Cisaat, Sukabumi. Di dalamnya ada bab mengenai Rebo Wekasan dan amalan-amalannya. Dikatakan, ada 320.000 penyakit turun pada hari tersebut untuk kurun waktu setahun. Penulis Parukunan mengutip dari Syeikh al-Bunni dalam kitab al-Firdaus bahwa segala macam malapetaka seperti kematian, penyakit dan bingung, diturunkan pada hari itu. Katanya, siapa yang mengamalkan doa-doa khusus (sebagaimana tercantum dalam Parukunan), ia akan selamat dari malapetaka tersebut.

Berdasarkan pengetahuan kami, setiap keterangan yang tidak diketahui sumbernya maka keabsahannya perlu disangsikan. Disamping itu, perkataan al-Bunni di atas tampaknya bermasalah. Bagaimana bisa seseorang menghindar dari malapetaka, seperti kematian sekalipun, padahal itu sudah ditetapkan oleh Allah? Jika malapetaka itu dapat dihindari dengan membaca amalan Rebo Wekasan, kenapa masih banyak di antara para pengamal yang tidak kebal mati, penyakit, atau perasaan bingung? Ini bertentangan dengan firman Allah SWT :

“Dan sungguh kami akan menguji kamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira pada orang-orang yang sabar. Yaitu orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan “inna lillahi wa inna ilaih raji’un” (Q.S. Al-Baqarah : 155-156).

Imam al-Syaukani (w.1250 H) ketika menafsirkan Q.S. al-Qamar ayat 19, yang artinya : “Sesungguhnya Kami telah menghembuskan kepada mereka angin yang sangat dingin pada hari Nahas yang terus menerus” (Q.S. Al-Qamar : 19).

Beliau mengutip beberapa hadis yang berkenaan dengan ayat itu. Di antaranya hadis riwayat Ibnu al-Mundzir dan Ibnu Mardawaih dari Jabir bin Abdillah ra bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Hari Rabu adalah hari nahas yang terus menerus”. Dalam riwayat lainnya dari Ali ra dan Anas ra, Ibnu Mardawaih menghukumi Hadis tersebut sebagai marfu (bersumber dari Nabi SAW). Dia menambahkan dalam redaksi riwayat Anas ra, Rasulullah bersabda : “Pada hari itu Allah menenggelamkan Fir’aun dan kaumnya, menghancurkan kaum ‘Addan kaum Tsamud”. Sedangkan riwayat dari Ibnu Abbas yang dinilai dhaif oleh Imam al-Suyuti, Rasulullah SAW bersabda : “Hari Rabu terakhir pada bulan tersebut adalah hari nahas yang terus menerus”. Demikian al-Syaukani menuturkannya dalam kitab Fath al-Qadir (V/128-129).

Imam al-‘Ajluni (w. 1162) dalam kitabnya Kasyf al-Khafa’wa Muzil al Ilbas menuturkan Hadis Jabir bin Abdillah di atas bersumber dari riwayat al-Thabrani dalam al-Mu’jam al-Ausath, Ibnu Majah dan al-Hakim dalam kitabnya al-Mustadrak. Tapi sanadnya dinilai dhaif. Penilaian dhaif atas sanad Hadis tersebut dikatakan juga oleh Imam al-Suyuti (w 911 H) dalam kitabnya al-Durr al-Mantsur, Imam al-Minawi dalam kitabnya Faidh al-Qadir.

Secara umum Hadis dhaif tidak bisa dijadikan hujjah dalam agama Islam, karena ia berasal dari sumber yang tidak valid, baik sanad maupun matannya. Adapun kebolehan penggunaan Hadis dhaif dalam bab fadhail al-a’mal (memperbanyak amal ibadah), itu tidak mutlak, tapi bersyarat.

Menurut Imam Ibnu Hajar (w. 852 H), sedikitnya ada tiga syarat kebolehan menggunakan Hadis dhaif. Pertama, kedhaifan hadis itu tidak parah seperti maudhu, matruk, munkar, atau mu’dhal. Kedua, isi matan Hadis tidak bertentangan dengan al-Qur’an dan Hadis-Hadis shahih. Ketiga, redaksi yang digunakan tidak berbentuk kalimat aktif. Ini sebagai kehati-hatian. Karenanya, jika Hadis Rebo Wekasan di atas masuk dalam kategori ini, maka dengan sendirinya dia tidak dapat diterima. Sebab melanggar persyaratan kedua dan ketiga.

Permasalahan selanjutnya, Hadis-hadis tentang hari Rabu adalah hari nahas yang terus menerus, itu tidak mencantumkan kata akhir bulan Shafar. Padahal Rebo Wekasan yang dimaksud adalah hari Rabu terakhir pada bulan Shafar. Karenanya, Hadis-hadis di atas tidak boleh serta merta dijadikan pegangan bagi pengamal Rebo Wekasan. Begitu juga mengenai malapetaka yang menimpa Fir’aun dan kaumnya, kaum ‘Ad dan kaum Tsamud, jatuh pada hari Rabu (hari nahas yang terus menerus) itu tidak berkenaan dengan Rebo Wekasan.

Selain bulan kejadiannya tidak disebutkan, peristiwa itu juga terjadi di masa lampau, tidak dimaksudkan untuk masa-masa setelahnya. Dengan demikian, Rebo Wekasan dengan berdalih pada hadis-hadis di atas dianggap kurang tepat.

Apabila diteliti lebih lanjut, Hadis tersebut dipopulerkan oleh kaum sufi. Ini dapat kita temukan dalam beberapa kitab kutipan mengenal amalan Rebo Wekasan, yang rata-rata berasal dari ulama sufi (kaum ‘arifin) meskipun tidak disebutkan namanya. Jika benar demikian, hadis shahih menurut mereka belum tentu shahih menurut ulama Hadis. Menurut mereka, cukup dengan kasyf (mengetahui sesuatu tanpa melalui proses belajar) dalam bahasa Jawa disebut ngerti sakdurungi winarah, atau liqo al Nabi (bertemu langsung dengan Nabi SAW bahkan dengan Rabb di dunia maya), sebuah hadis dapat dikatakan Shahih. Ini tidak disetujui ulama Hadis. Karenanya, terkadang menurut ulama Hadis, sebuah Hadis dihukumi dhaif atau bahkan maudhu tapi menurut ulama sufi shahih.

Pembahasan ini sangat panjang. Walau bagaimanapun, kita harus mengikuti petunjuk yang benar dalam mengamalkan ritual agama ini demi memperoleh pahala, bukan siksa. Maka kami menyarankan agar Saudara tidak langsung mengamalkan amalan-amalan Rebo Wekasan tersebut sebelum mengetahui dalil yang benar dan pasti. Karena semua perilaku kita akan diminta pertanggungjawaban. Apakah perilaku kita mengacu pada dasar yang benar atau salah?

Akhirnya kami berharap agar Allah SWT membimbing kita untuk mengerjakan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya.

31
January
2008

Kewajiban mendirikan shalat berjamaah0

Allah SWT berfirman dalm Al Qur’anul Karim surah At Taubah (9) ayat 18:

Hanyalah yang memakmurkan Masjid-Masjid Allah ialah orang-orang yang beriman kepada Allah dan hari kemudian, serta tetap mendirikan shalat, menunaikan zakat dan tidak takut (kepada siapapun) selain kepada Allah, maka merekalah orang-orang yang diharapkan termasuk golongan orang-orang yang mendapat petunjuk”.

Telah banyak Masjid didirikan umat Islam, baik Masjid umum, Masjid Sekolah, Masjid Kantor, Masjid Kampus dan sebagainya. Masjid didirikan untuk memenuhi kebutuhan umat Islam, khususnya kebutuhan ruhani, untuk mendekatkan diri pada Pencipta-nya; menghambakan diri, tunduk dan patuh mengabdi pada-Nya. Masjid juga menjadi tambatan hati, pelabuhan pengembaraan hidup dan energi kehidupan umat Islam.

Di antara fungsi Masjid yang utama adalah sebagai tempat beribadah, khususnya dalam melaksanakan shalat fardlu dengan berjama’ah. Kalau kita perhatikan, shalat berjama’ah adalah merupakan salah satu ajaran Islam yang pokok. Sunnah Nabi s.a.w. dalam pengertian muhaditsin -bukan fuqaha- yang bermakna perbuatan yang selalu dikerjakan beliau. Ajaran Rasulullah s.a.w. tentang shalat berjama’ah merupakan perintah yang benar-benar ditekankan kepada kaum muslim laki-laki.

Abu Hurairah r.a. berkata: “Bersabdalah Rasulullah s.a.w.: “ Seberat-berat shalat atas para munafiqin, ialah shalat ‘Isya dan shalat fajar (Shubuh). Sekiranya mereka mengetahui apa yang dikandung oleh kedua shalat itu, tentulah mereka mendatanginya, walaupun dengan jalan merangkak. Demi Allah sesungguhnya saya telah berkemauan akan menyuruh orang mendirikan jama’ah beserta para hadirin, kemudian saya pergi dengan beberapa orang yang membawa berkas kayu api kepada orang-orang yang tidak menghadiri jama’ah shalat, lalu saya bakar rumah-rumah mereka, sedang mereka berada di dalamnya””. (HR: Bukhari & Muslim). **)
Shalat berjama’ah merupakan bukti nyata tentang kemusliman seseorang. Dengan mudah kita dapat mengetahui seseorang itu muslim karena dia datang dan melaksanakan shalat di Masjid. Kita tidak perlu lagi bertanya-tanya apakah dia muslim atau non muslim.

Pada masa Rasulullah s.a.w, shalat berjamaa’ah di Masjid menjadi identitas kaum muslimin yang dapat membedakan antara mereka dengan orang-orang kafir. Bahkan, orang-orang munafik dapat ditengarai dengan keengganannya dalam melaksanakan shalat berjama’ah di Masjid. Abdullah Ibn Mas’ud r.a. berkata: “Saya melihat semua kami (para shahabat) menghadiri jama’ah. Tiada yang ketinggalan menghadiri jama’ah, selain dari orang-orang munafiq yang telah nyata kemunafiqannya, dan sungguhlah seseorang di bawa ke Masjid, dengan dipegang lengannya oleh dua orang, seorang sebelah kanan, seorang sebelah kiri, sehingga didatangkannya ke dalam shaf”. (HR: Al Jamaah selain Bukhari dan Turmudzi).**)

Dengan ter-aktualisasinya shalat berjama’ah, maka Masjid menjadi makmur, ukhuwah imaniyah terbina, keterpemimpi nan umat nampak jelas, dan syi’ar Islam nyata dalam kehidupan sehari-hari. Bagi seorang muslim, menegakkan shalat dengan berjama’ah di Masjid bisa menambah kekhusyu’an dan meningkatkan rasa kebersamaan dalam menghamba kepada Allah Subhanahu wa ta’ala.

Shalat berjama’ah di Masjid merupakan ajaran Islam, khususnya bagi laki-laki yang tidak ada udzur, yang saat ini banyak dilupakan umat Islam. Kini kita lihat, di Masjid orang-orang yang melaksanakan shalat berjama’ah sangat sedikit. Terlebih, pada waktu shalat shubuh yang datang mungkin bisa dihitung dengan anak jari.

Masya Allah, umat Islam telah melupakan ajarannya sendiri. Bahkan, di antara mereka banyak yang datang ke Masjid hanya sepekan sekali pada hari Jum’at. Karena itu, kita perlu untuk meng-aktualkan kembali ajaran Shalat berjama’ah di Masjid ini yang merupakan perintah Rasulullah s.a.w. Kita hidupkan kembali sunnah beliau dengan memulai dari diri kita sendiri menurut kemampuan masing-masing.

Sebenarnya, inti dari memakmurkan Masjid adalah menegakkan shalat berjama’ah yang merupakan salah satu syi’ar Islam terbesar.. Shalat berjama’ah merupakan indikator utama keberhasilan kita dalam memakmurkan Masjid. Masjid adalah tempat sujud. Kita sujud dan ruku’ bersama-sama dalam shalat berjama’ah. Coba kita bayangkan, seandainya setiap umat Islam, khususnya laki-laki, pada waktu mendengar adzan mereka mendatangi Masjid, baik yang di kampung, sekolah, kantor, jalan raya, pusat-pusat pertokoan, kampus dan lain-lainnya untuk menunaikan shalat fardlu dengan berjama’ah. Tentu syiar Islam akan nampak nyata. Bayangkan, hal itu terjadi lima waktu dalam sehari.

( selengkapnya baca kitab Pentingnya Sholat Berjama’ah karya Dr. Fadl Ilahi )

31
January
2008

Bersahaja dalam Manhaj Salaf0

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda :

يحمل هذا العلم من كل  خَلف  عدوله، ينفون عنه تحريف الغالين،
وانتحال اُلمبطلين، وتأويل الجاهلين

‘Ilmu ini diemban pada tiap generasi oleh orang-orang adilnya, mereka menghilangkan perubahan orang-orang yang ekstrim, penyelewengan orang-orang yang bathil dan penakwilan orang-orang yang bodoh.’ Hadits ini hasan dengan jalan-jalannya dan syawahid (penguat)-nya.

Inilah aqidah generasi pertama dari ummat ini, dan aqidah ini adalah aqidah yang murni seperti murninya air tawar, aqidah yang kuat seperti kuatnya gunung yang menjulang tinggi, aqidah yang kokoh seperti kokohnya tali simpul yang kuat, dan ia adalah aqidah yang selamat,  jalan yang lurus di atas manhaj al-Kitab dan as-Sunnah serta di atas ucapan Salaful Ummah dan para imamnya. Dan ia adalah jalan yang mampu menghidupkan hati generasi pertama ummat ini, ia merupakan aqidah Salafush Shalih, Firqoh Najiyah (Golongan yang selamat) dan Ahlus Sunnah wal Jama’ah.

Aqidah ini mrp aqidahnya para imam yang empat dan pemegang madzhab yang masyhur serta para pengkutnya, aqidahnya jumhur ahli fikih dan ahli hadits serta para ulama yang mengamalkan ilmunya, dan aqidahnya orang-orang yang meniti jalan mereka hingga saat ini dan hingga hari kiamat . Sesungguhnya telah berubah orang-orang yang mengubah ucapan-ucapan mereka, oleh sebagian mutaakhirin (orang-orang generasi terakhir) yang menyandarkan diri mereka kepada madzhab mereka.

Imam an-Nawawi berkata di dalam al-Adzkar :

واعلم أن الصواب المختار ما كان عليه السلف رضي الله عنهم، وهذا هو
الحق، ولا تغترن بكثرة من يخالفه

‘ Ketahuilah, bahwa kebenaran yang terpilih adalah apa yang para salaf Radhiyallahu ‘anhum berada di atasnya.’

Demikian pula Abu Ali al-Fudhail bin ‘Iyyadh berkata :

الزم طرق الهدى ولا يضرك قِلة السالكين، وإياك وطرق الضلالة، ولا
تغترن بكثرة الهالكين

‘Tetapilah jalan-jalan petunjuk dan tidaklah akan membahayakanmu sedikitnya orang yang menitinya. Jauhilah olehmu jalan-jalan kesesatan, dan janganlah dirimu terpedaya dengan banyaknya orang yang binasa.’

Inilah satu-satunya jalan yang akan memperbaiki keadaan ummat ini. Telah benar apa yang dikatakan oleh Imam Malik bin Anas Rahimahullahu, seorang penduduk Madinah al-Munawarah ketika berkata :
لن يصلح آخر هذه الأمة إلا بما صلح به أولها

‘Tidaklah akan baik akhir ummat ini kecuali mereka mengikuti baiknya awal ummat ini.’ Tidaklah akan musnah kebaikan di dalam ummat ini, karena Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam telah bersabda di dalam haditsnya :

لا تزال طائفة من أمتي ظاهرين على الحق لا يضرهم من خذلهم حتى
يأتي أمر الله وهم كذلك

‘Akan senantiasa ada segolongan dari ummatku yang menampakkan kebenaran, tidaklah membahayakan mereka orang-orang yang mencela, mereka tetap dalam keadaan demikian sampai datangnya hari kiamat.’

( baca selengkapnya pada kitab Keringkasan dalam Manhaj Salaf karya Syaikh Abdul Qodir Al Arnauth, 33 halaman )

29
January
2008

Islamnya Olive Robinson0

Olive Robinson, Kepala Bagian Pengendalian Penyakit Menular RS Militer, Afrika Selatan

Olive Robinson datang mengunjungi kerajaan Saudi Arabia dua tahun yang lalu dan bekerja di sana. Adapun keinginan masuk Islam telah terbetik semenjak delapan tahun lalu. Namun baru dapat ia laksanakan tujuh bulan yang lalu.
Seorang reporter majalah al-Jundi al-Muslim bertanya, “Bagaimana kisahmu masuk Islam?” Oliver berkata, “Kisahku dengan Islam dimulai sejak tahun 1992 di mana waktu itu aku bekerja untuk sebuah yayasan Nasrani yang mengutusku ke kota kecil Afrika Selatan yang bernama Malawy. Di negeri ini ada seorang anak kecil muslim bersama beberapa ekor kambing. Ia mengetahui kondisiku. Dengan tanpa aku minta, ia selalu membawakan susu kambingnya untukku dan beberapa butir telur setiap hari. Dari sini aku berfikir tentang Islam, “Bagaimana orang-orang di sini mengetahui kebaikan? Bagaimana anak sekecil ini memberikan pelayanan yang baik kepada orang yang berlainan agama dengannya?” Aku berfikir tentang Islam dengan akalku sendiri, bahwa mayoritas penduduk Malawy beragama Islam. Walau aku bukan seorang muslimah, namun mereka tetap memberikan bantuannya kapan saja aku butuhkan. Ini semua membuatku berfikir secara mendalam tentang Islam.”

Shalat. Inilah yang pertama dan yang paling mendorongku masuk ke dalam Islam. Aku melihat di rumah sakit, di mana-mana orang-orang melakukan shalat berjamaah baik banyak maupun sedikit. Demikian juga halnya di kamar-kamar, para pasien melakukan shalatnya sendiri-sendiri dan para wanita pergi ke tempat tersendiri untuk melaksanakan shalat. Dan yang lebih aneh lagi, aku melihat di bandara para musafir membentangkan sajadahnya di lantai bandara untuk menunaikan shalat. Ini merupakan cara yang sangat mudah dalam melakukan ibadah yang membuat diriku tertarik. Sebab ini semua berbeda dengan beban yang aku dapati di gereja.

Demikian juga yang membuatku kagum yaitu rutinitas seorang muslim dalam melakukan shalatnya. Ada salah satu hal penting yang aku sukai di negara Saudi ini dan memberikan pengaruh yang mendalam dalam jiwaku, yaitu bakti seorang anak terhadap kedua orang tuanya. Kamar-kamar rumah sakit dipadati oleh pasien yang berusia lanjut, kamu lihat anak-anak mereka setiap saat menunggui mereka dan berusaha mendapatkan keridhaan orang tuanya yang sedang terbaring sakit. Berbeda dengan masyarakat materialis barat yang tidak menghormati kedua orang tua.”

( baca selengkapnya wawancara Olive Robinson dengan reporter majalah Al-Jundi Al Muslim )

29
January
2008

Bagaimana muslim menyikapi musibah?0

Sebagai agama yang  sempurna, Islam memberikan pedoman lengkap guna menyikapi segala macam peristiwa, baik suka maupun duka, yang sudah sunnatullah akan selalu melekat pada setiap manusia yang masih
bernyawa. Keduanya adalah ujian yang harus kita sikapi dengan benar.  Terhadap ujian yang menyenangkan kita wajib
mensyukurinya, dalam arti memanfaatkan karunia Allah SWT tersebut untuk lebih meningkatkan amal ibadah kita
kepadaNYA. Sedangkan untuk ujian yang pahit (tidak disukai) kita wajib bershabar.

Sabda Nabi SAW,
“Sungguh menakjubkan keadaan orang mukmin, karena semua keadaannya baik baginya, dan itu tidak terjadi pada siapa pun kecuali pada orang mukmin. Jika dia mendapat kelapangan dia bersyukur, maka itu baik baginya. Jika dia ditimpa kesulitan dia bersabar, maka itu pun baik baginya.” (HR. Muslim).

Pedoman Islam itu antara lain menyangkut bagaimana menyikapi musibah. Oleh ulama musibah didefinisikan sebagai
“segala apa yang dibenci yang terjadi pada manusia” (kullu makruuhin yahullu bi al-insan) (Ibrahim Anis, al-Muâjam al-
Wasith, h. 527). Musibah demi musibah yang akrab dengan kehidupan kita pada umumnya telah melahirkan berbagai hal yang tidak disukai, seperti robohnya rumah, kematian anggota keluarga, rusaknya perabotan, dan sebagainya.

Bagaimana pedoman Islam dalam menyikapi musibah seperti ini? Bagi shahibul musibah (yang terkena musibah) Islam
memberikan pedoman sikap  ( baca selengkapnya )