4
December
2007

Nabi Adam AS0


Perintah Allah kepada malaikat dan iblis untuk sujud kepada Adam merupakan awal permusuhan iblis kepada manusia. Ia menolak perintah itu sehingga dihukum Allah. Namun iblis berjanji akan menyesatkan Adam dan keturunannya. Salah satu bentuk tipu dayanya adalah berhasil menggoda Adam untuk melanggar larangan Allah sehingga Adam dikeluarkan dari surga.

Allah subhanahu wa ta’ala ingin menampakkan penghormatan malaikat kepada kepada Nabi Adam secara lahir dan batin. Untuk itu, Allahmj subhanahu wa ta’ala perintahkan para malaikat untuk sujud kepada Nabi Adam alaihisholatu was sallam:
“Sujudlah kepada Adam!” (QS. Al Baqarah: 34)

Hal ini merupakan penghormatan dan penghargaan kepada Nabi Adam alaihishalatu was sallam dan dalam rangka ibadah, cinta dan taat kepada Allah subhanahu wata’ala, serta tuduk kepada perintah-Nya. Segeralah para malaikat itu bersujud.

Namun iblis yang berada di tengah-tengah mereka yang tentunya ikut serta mendapatkan perintah itu -iblis itu sendiri bukan dari golongan malaikat melainkan dari golongan jin yang diciptakan dari api-, justru menyimpan kekafiran kepada Allah subhanahu wa ta’ala dan kedengkian kepada Nabi Adam alaihishalatu was sallam. Kufur dan rasa dengki itu membuat iblis enggan sujud kepada Nabi Adam alaihishalatu was sallam. Tak cuma menunjukkan kesombongan, iblis bahkan menyangkal perintah Allah subhanahu wa ta’ala dan mencela kebijaksanaan-Nya. Katanya:
“Saya lebih baik darinya. Engkau ciptakan aku dari api dan Engkau ciptakan dia dari tanah.” (QS. Al A’raf: 12)

Maka Allah katakan:
“Wahai iblis, apa yang menghalangimu untuk sujud kepada apa yang telah Kuciptakan dengan dua tangan-Ku? Apakah engkau sombong ataukah engkau (merasa) termasuk orang-orang yang lebih tinggi?” (QS. Shad:75)

Kekufuran, kesombongan, dan pembangkangan ini merupakan sebab terusirnya dan terlaknatinya Iblis. Allah subhanahu wa ta’ala katakan kepadanya:

“Turunlah kamu dari surga karena kamu tidak sepatutnya menyombongkan diri di dalamnya, maka keluarlah sesungguhnya kamu termasuk orang-orang yang hina.” (QS. Al A’raf: 13)

Iblis enggan tunduk dan bertobat kepada Tuhannya, bahkan menentang, meremehkan, dan bertekad bulat untuk memusuhi Adam alaihishalatu was sallam beserta anak cucunya. Ia pun menyiapkan dirinya saat mengetahui bahwa dirinya telah ditetapkan menjadi makhluk yang sengsara selama-lamanya. Ia, dengan ucapan dan perbuatan bersama bala tentaranya, berikrar untuk mengajak anak cucu Adam alaihishalatu was sallam agar menjadi golongan yang telah diputuskan untuk tinggal di rumah kehancuran (neraka). Iblis nyatakan hal itu dengan mengatakan kepada Allah subhanahu wa ta’ala:

“Wahai Rabbku, berilah aku waktu sampai hari kebangkitan.” (QS. Shad: 79)

Iblis benar-benar meluangkan waktu untuk menebar permusuhan di kalangan Adam alaihisholatu was sallam dan anak cucunya. Maka tatkala hikmah Allah subhanahu wa ta’ala menuntut agar manusia mempunyai tabiat dan akhlak yang berbeda-beda, maka Allah subhanahu wa ta’ala juga menentukan sesuatu yang menyebabkannya. Yaitu berupa cobaan dan ujian, dan yang terbesarnya adalah diberinya iblis kesempatan untuk mengajak anak Adam alaihishalatu was sallam kepada semua jenis kejahatan. Maka Allah subhanahu wa ta’ala pun menjawab:
“Sesungguhnya kamu termasuk orang-orang yang diberi tangguh, sampai pada hari yang telah di tentukan waktunya.” (QS. Shad: 80-81)

Iblis menyambut jawaban itu dengan menegaskan permusuhan kepada Adam alaihishalatu was sallam beserta anak cucunya dan menegaskan maksiatnya kepada Allah subhanahu wa ta’ala, katanya:
“Karena Engkau telah menghukumku tersesat, aku benar-benar akan (menghalangi-halangi) mereka dari jalan-Mu yang lurus kemudian saya akan mendatangi mereka dari muka dan dari belakang mereka, dari kanan dan dari kiri mereka. Dan Engkau tidak akan mendapati kebanyakan mereka bersyukur (taat).” (QS. Al A’raf:16-17)

Iblis mengucapkan itu berdasarkan sangkaannya, karena ia tahu benar tabiat anak Adam alaihishalatu was sallam. “Dan iblis telah membuktikan kebenaran sangkaannya terhadap mereka, lalu mereka mengikutinya kecuali sebagian orang-orang yang beriman.” (QS. Saba’: 20)

Allah berikan iblis kesempatan untuk melakukan perkara yang telah menjadi niatannya pada Adam alaihishalatu was sallam dan anak cucunya. Allah katakan:

“Pergilah, siapa yang mengikutimu dari mereka, maka jahannamlah balasan kalian semua sebagai suatu pembalasan yang cukup. Dan hasunglah siapa yang kamu sanggupi di antara mereka dengan ajakanmu, dan kerahkanlah terhadap mereka pasukan berkuda dan pasukan berjalan kaki dan berserikatlah dengan mereka pada harta dan anak-anak.” (QS. Al Isra: 63-64)

Yakni jika kamu mampu, jadikanlah mereka orang-orang yang menyeleweng dalam mendidik anak-anak mereka dengan didikan yang rusak dan dalam membelanjakan harta mereka kepada hal-hal yang mudharat, juga dalam mencari harta dari yang tidak baik. Begitu pula ikut sertalah dengan mereka jika mereka makan, minum, dan berjima’, yakni ketika mereka tidak menyebut nama Allah subhanahu wa ta’ala. Juga perintahkanlah mereka untuk tidak beriman dengan hari kebangkitan dan pembalasan dan agar mereka tidak melakukan kebajikan. Takut-takuti mereka dengan pembantu-pembantumu, berikan kekhawatiran pada mereka ketika berinfak yang baik dengan kefakiran.

Kesempatan yang Allah berikan ini sesungguhnya demi sebuah hikmah dan rahasia yang besar. Sungguh engkau wahai musuh yang nyata tidak akan menyisakan sedikitpun dari kemampuanmu dalam menyesatkan mereka. Manusia yang jahat akan nampak kejahatan dan kejelekannya, dan Allah subhanahu wa ta’ala tidak akan mempedulikannya.

Adapun keturunan Adam alaihishalatu was sallam yang terpilih, baik dari kalangan para nabi dan pengikutnya, baik orang-orang yang sangat jujur dalam beriman, dan para wali-Nya, maka Allah subhanahu wa ta’ala tidak akan menguasakan musuh ini (iblis) atas mereka. Bahkan Allah subhanahu wa ta’ala menjadikan di sekitar mereka pagar pelindung yang begitu kuat, sebagai perlindungan dari Allah subhanahu wa ta’ala.

Allah subhanahu wa ta’ala membekalinya dengan senjata yang tidak mungkin musuh bisa menandinginya, yaitu kesempurnaan iman dan tawakal mereka kepada Rabb-nya.

“Sungguh mereka tidak memiliki kekuatan atas orang-orang yang beriman dan bertawakal kepada Rabb mereka.” (QS. An Nahl: 99).

Juga Allah subhanahu wa ta’ala bantu mereka dalam menghadapi musuh yang nyata itu di antaranya dengan menurunkan kitab-kitab yang mencakup ilmu yang bermanfaat, nasehat yang mengena yang memberi semangat untuk melakukan kebajikan dan memperingatkan dari kejelekan. Selain itu, Allah subhanahu wa ta’ala juga mengutus para Rasul yang membawa kabar gembira kepada mereka yang beriman kepada Allah subhanahu wa ta’ala dan mentaati-Nya dengan pahala.

Juga memperingatkan orang-orang kafir, yang mendustakan dan berpaling dari Allah, dengan berbagai macam hukuman. Allah subhanahu wa ta’ala juga menjamin orang yang mengikuti petunjuk yang terkandung di dalam kitab-Nya yang dibawa oleh rasul-Nya tidak sesat semasa di dunia dan tidak sengsara kelak di akhirat, tidak takut, serta tidak tertimpa perasaan sedih.

Demikian juga Allah subhanahu wa ta’ala bimbing mereka melalui kitab dan para rasul-Nya kepada hal-hal yang bisa melindungi mereka dari musuh yang nyata ini. Allah subhanahu wa ta’ala pun menerangkan kepada hamba-Nya, misi yang dibawa setan dan strateginya dalam menjaring manusia ke dalam perangkapnya. Juga Allah subhanahu wa ta’ala bimbing mereka kepada jalan yang menyelamatkan mereka dari kejahatan setan dan fitnahnya, dan membantu dengan bantuan yang di luar kemampuan mereka. Karena, ketika mereka mengeluarkan segala daya upaya dan minta bantuan kepada Allah subhanahu wa ta’ala, akan mudah bagi mereka jalan mana saja yang dituju.

Setelah itu Allah subhanahu wa ta’ala sempurnakan nikmat kepada Adam alaihishalatu was sallam dengan menciptakan istrinya Hawa dari dirinya dan jenisnya. Ini dimaksudkan agar tercapai ketenangan dan tujuan-tujuan lain seperti pernikahan, kebersamaan, dan adanya anak keturunan.

Allah subhanahu wa ta’ala juga memperingatkan Adam dan istrinya, untuk berhati-hati dari setan karena sesungguhnya setan adalah musuh bagi mereka berdua. Jangan sampai iblis mengeluarkan Adam dan Hawa dari surga Allah subhanahu wa ta’ala. Ketika itu, Allah mempersilahkan mereka makan buah-buahan apa saja yang ada di dalam surga dan menikmati segala kenikmatan yang ada padanya, kecuali pohon tertentu. Allah subhanahu wa ta’ala katakan kepada mereka berdua:
“Dan jangan kalian dekati pohon ini sehingga kalian menjadi orang-orang yang dzalim.” (QS. Al A’raf: 19)

“Sungguh kamu tidak akan lapar padanya dan tidak telanjang dan sungguh engkau tidak akan dahaga padanya, dan tidak tertimpa panas matahari.” (QS. Thaha: 119)

Maka keduanya tinggal di surga selama dikehendaki Allah subhanahu wa ta’ala dengan segala kenikmatannya. Akan tetapi musuh mereka berdua terus mengintai dan mencari kesempatan. Maka ketika setan melihat senangnya Adam alaihishalatu was sallam di dalamnya dan keinginannya yang besar untuk tetap tinggal di dalamnya, setan datang dengan cara yang lembut seolah seorang yang jujur sedang menasehati, ia katakan:
‘Wahai adam apakah engkau mau kutunjukkan sebuah pohon yang jika kamu memakannya kamu akan kekal di surga ini dan akan langgeng kerajaan ini serta tidak akan rusak’. Terus menerus ia rayu Adam alaihishalatu was sallam. Ia janjikan, ia bisikkan, ia berikan harapan dan seolah terus memberi nasehat padahal itu adalah penipuan yang besar. Hingga setan pun berhasil menipu mereka berdua dan akhirnya keduanya makan dari pohon terlarang itu. Maka ketika makan, terlepaslah pakaian mereka berdua sehingga terlihat auratnya, akhirnya keduanya cepat-cepat mengambil daun-daun surga untuk menutupi badan mereka yang telanjang sebagai pengganti pakaian mereka. Seketika itu pula nampak hukuman Allah subhanahu wa ta’ala atas maksiat yang mereka lakukan, lalu Allah subhanahu wa ta’ala menyeru mereka berdua:

“Tidakkah Aku telah melarang kalian berdua makan dari pohon ini dan Aku katakan kepada kalian berdua sungguh setan adalah musuh yang nyata buat kalian berdua.” (QS. Al A’raf: 22).

Kemudian Allah tumbuhkkan pada hati mereka taubat yang sungguh-sungguh.
“Adam memperoleh beberapa kalimat dari Robbnya.” (QS. Al Baqarah: 22).

Maka keduanya berkata: “Wahai Rabb kami, sungguh kami telah berbuat dzalim pada diri kami, jikalau Engkau tidak mengampuni dan mengasihi kami, benar-benar kami akan menjadi orang-orang yang merugi.” (QS. Al A’raf: 23).

Maka Allah terima taubat mereka dan Allah hapus dosa yang telah menodai mereka. Akan tetapi keluar dari surga jika mereka memakan dari pohon itu, sudah menjadi keputusan yang pasti sehingga keluarlah mereka ke bumi yang kebaikannya dicampuri dengan keburukannya, kesenangan dicampuri dengan kesusahannya.

Allah kabarkan kepada keduanya bahwa Allah subhanahu wa ta’ala pasti akan memberikan cobaan pada keduanya dan anak cucunya, serta orang-orang yang beriman. Yang beramal shalih akan mendapatkan balasan yang baik, sebaliknya yang mendustakan lagi berpaling, akibatnya adalah kesengsaraan yang abadi dan adzab yang kekal. Allah subhanahu wa ta’ala ingatkan anak cucu Adam akan hal itu, kata-Nya:
“Wahai anak Adam jangan sekali-kali kalian dapat ditipu oleh setan seperti telah mengeluarkan ayah ibu kalian dari surga, ia tanggalkan pakaian keduanya untuk memperlihatkan kepada keduanya aurat. Sesungguhnya ia dan pengikutnya melihat kamu dari seuatu tempat yang kamu tidak dapat melihat mereka.” (QS. Al A’raf: 27)

Allah subhanahu wa ta’ala kemudian mengganti pakaian yang ditanggalkan oleh setan dari Adam dan Hawa dengan pakaian yang menutupi aurat mereka dan menghiasi mereka secara lahir. Juga dengan pakaiaan yang lebih baik dari itu yaitu pakaian ketakwaan, yakni pakaian hati dan rohani dengan iman, keikhlasan, taubat dan hiasan dengan segala akhlak yang indah serta menanggalkan segala akhlak yang hina. Lalu Allah subhanahu wa ta’ala tebarkan dari Adam alaihishalatu was sallam dan istrinya anak turun yang banyak laki-laki maupun perempuan di muka bumi. Allah ganti mereka generasi demi generasi untuk dilihat oleh-Nya apa yang mereka lakukan.

Faedah yang dapat dipetik
:

Allah subhanahu wa ta’ala jadikan kisah itu sebagai ibrah untuk kita yaitu bahwa sesungguhnya sombong, dengki, dan ambisi merupakan akhlak yang berbahaya buat seorang hamba. Kesombongan dan kedengkian iblis membawanya kepada apa yang kita lihat, demikian juga keinginan kuat Adam alaihishalatu was sallam dan istrinya mengantarkan mereka memakan buah pohon itu. Kalaulah rahmat Allah subhanahu wa ta’ala tidak segera menyelamatkan, sungguh perbuatan mereka itu akan menyampaikan kepada kebinasaan. Akan tetapi rahmat-Nya segera menyempurnakan yang kurang, memperbaiki yang rusak, menyelamatkan yang binasa dan mengangkat yang telah jatuh.

Sumber URL: http://www.asysyariah.com/syariah.php?menu=detil&id_online=31

2
December
2007

Yusuf bin Ya’qub AS0

Nabi Yusuf

Dua pelajaran diperolehi daripada kisah Nabi Yusuf. Pertama, mengenai makna sepatah perkataan Arab di dalam al-Qur’an. Perkataan itu ialah “rasul” yang lazimnya diguna untuk “Rasul Allah”, atau “Utusan Allah”. Akan tetapi, pada sebuah ayat dalam surah Yusuf perkataan itu digunakan oleh Allah untuk seorang utusan atau pembawa berita kepada seorang raja. Inilah ayatnya:

“Raja berkata, ‘Datangkanlah dia (Yusuf) kepadaku.’ Apabila rasul (utusan) datang kepadanya, dia (Yusuf) berkata, ‘Kembalilah kepada pemelihara (raja) kamu, dan tanyalah dia, ‘Bagaimanakah dengan wanita-wanita yang memotong tangan mereka?’ Sesungguhnya Pemeliharaku mengetahui muslihat mereka.’” (Qur’an 12:50).

Maka perkataan rasul bukan sahaja diguna untuk Rasul Allah, malah ia boleh digunakan untuk orang yang tugasnya seperti utusan atau pembawa berita bagi orang lain.

Rasul di dalam ayat tadi adalah orang suruhan bagi seorang raja yang dihantar, atau diutus, untuk berjumpa dan membawa Nabi Yusuf dari penjara ke istana. Begitulah sedikit kisah Nabi Yusuf yang menarik disebut di sini.

Dengan itu, membawa kepada pelajaran kedua dalam kisah Nabi Yusuf dengan adik-beradik, ibu dan bapanya. Cerita-cerita mereka merupakan suatu pelajaran juga, seperti kata Allah:

“Sesungguhnya dalam cerita-cerita mereka adalah pelajaran bagi orang-orang yang mempunyai minda” (12:111).

Kisah Nabi Yusuf tersurat dalam Surah ke-12 al-Qur’an. Nama surah itu pun mengambil sempena nama Nabi Yusuf, iaitu Yusuf. Menurut suatu sumber, baginda dikatakan tinggal di sekitar tahun 1700 S.M, iaitu kira-kira 3,700 tahun dahulu. Atau, kurang lebih dua ribu tiga ratus tahun sebelum kemunculan Nabi Muhammad.

Kisah Nabi Yusuf adalah cerita yang paling baik dalam al-Qur’an. Firman-Nya:

“Kami menceritakan kepada kamu cerita yang paling baik dalam apa yang Kami mewahyukan kamu, al-Qur’an ini” (12:3).

Cerita bermula dengan mimpi Nabi Yusuf semasa dia kanak-kanak. Mimpi itu diceritakannya kepada bapanya Yaakub, yang juga menjadi seorang Nabi.

“Apabila Yusuf berkata kepada bapanya, ‘Ayah, saya melihat sebelas bintang, dan matahari, dan bulan; saya melihat mereka sujud kepada saya” (12:4).

Setelah mendengar cerita Yusuf, bapanya melarang mimpi itu daripada diceritakan kepada saudara-saudaranya. Dia juga memberi tahu Yusuf bahawa Tuhan telah memilihnya dan mengajarnya interpretasi mimpi.

Abang-abangnya tidak suka padanya kerana mereka sangka Yusuf dan adiknya lebih dicintai oleh bapa mereka daripada mereka. Lalu mereka bercadang untuk membunuh atau membuang Yusuf ke tempat lain. Akan tetapi,

“Seorang daripada mereka berkata, ‘Tidak, janganlah membunuh Yusuf, tetapi lemparlah dia ke dasar perigi, dan sebahagian pengembara akan memungutnya, jika kamu mahu melakukan’” (12:10).

Setelah menetapkan rancangan itu mereka pergi kepada bapa mereka, meminta kebenarannya, supaya Yusuf dapat pergi bersama mereka untuk bersuka-suka dan bermain-main pada keesokan hari.

Pada mulanya bapa mereka keberatan untuk membenarkan Yusuf pergi bersama mereka, dengan berkata “Ia menyedihkan aku bahawa kamu pergi dengannya, dan aku takut akan serigala memakannya sedang kamu lalai daripadanya” (12:13).

“Maka apabila mereka pergi dengannya, dan mereka bersetuju untuk meletakkan dia di dasar perigi, lalu Kami mewahyukannya, ‘Kamu akan memberitahu mereka mengenai perbuatan mereka ini apabila mereka tidak menyedari’” (12:15).

Mereka balik kepada bapa mereka pada waktu isyak, menangis dan berkata, “Ayah, kami pergi berlumba lari, dan meninggalkan Yusuf dengan barang-barang kami, lalu serigala memakannya. Tetapi ayah tidak akan mempercayai kami, walaupun kami berkata benar.”

Dan, mereka menunjukkan baju Yusuf dengan darah palsu padanya. Bapanya berkata, “Tidak, tetapi jiwa kamu menghasut kamu untuk melakukan sesuatu perkara. Tetapi marilah, kesabaran yang manis! Dan pertolongan Allah dipohonkan terhadap apa yang kamu menyifatkan.”

Tidak lama kemudian, pengembara-pengembara datang ke perigi di mana Yusuf berada di dasarnya. Mereka mengutus seorang pengambil air lalu dia menurunkan timbanya. Tiba-tiba dia berkata, “Oh, berita gembira! Ini seorang anak lelaki muda.”

Mereka mengambil Yusuf dan merahsiakannya sebagai barang dagangan; dan Allah mengetahui apa yang mereka buat. Kemudian mereka menjual Yusuf dengan harga yang murah, hanya beberapa dirham sahaja, kerana mereka tidak menghargainya.

Orang yang membelinya, dari Mesir, berkata kepada isterinya, “Berilah dia tempat tinggal yang mulia, dan boleh jadi dia akan bermanfaat kepada kita, atau kita mengambil dia sebagai anak sendiri.”

Dengan itu, Tuhan meneguhkan Yusuf di bumi supaya Dia mengajarnya interpretasi mimpi.

Maka tinggallah Nabi Yusuf bersama orang Mesir yang membelinya sehingga dewasa. Dia menjadi seorang lelaki yang amat kacak. Kekacakan beliau membuatkan perempuan, yang di rumahnya dia tinggal, tergoda.

Perempuan itu menutup pintu-pintu seraya berkata, “Marilah kepadaku!” Yusuf menjawab, “Pada Allah berlindung! Sesungguhnya tuanku telah memberi aku tempat tinggal yang baik!”

Kalau tidak kerana pertolongan Allah, Nabi Yusuf turut tergoda pada perempuan itu. Kedua-duanya lari ke pintu, dan perempuan tersebut mengoyakkan baju Yusuf dari belakang.

Mereka mendapati ketua mereka di depan pintu. Perempuan itu berkata, “Apakah balasan bagi orang yang menghendaki kejahatan terhadap keluarga kamu, melainkan bahawa dia dipenjarakan, atau satu azab yang pedih?”

Yusuf berkata, “Dia yang menggoda saya”. Lalu seorang daripada ahli keluarga itu memberi suatu penjelasan, “Jika bajunya dikoyakkan di bahagian depan, maka perempuan itu telah berkata benar, dan Yusuf berdusta, tetapi jika bajunya dikoyakkan di bahagian belakang, maka perempuan itulah yang berdusta, dan Yusuf orang yang benar.”

Apabila ketua mereka melihat bajunya dikoyakkan dari belakang, dia berkata, “Ini muslihat perempuan daripada kamu; sesungguhnya muslihat kamu besar. Yusuf, berpalinglah daripada ini, dan kamu, perempuan, mintalah ampun atas kesalahan kamu; sesungguhnya kamu bersalah.”

Kejadian itu sampai ke telinga wanita-wanita tertentu di kota. Mereka berbisik, “Isteri Gabenor menggoda pemudanya yang menundukkan hatinya dengan cinta!”

Setelah isteri Gabenor mendengar bisikan-bisikan licik mereka, dia mengutus kepada mereka, dan menyediakan bagi mereka tempat-tempat bersandar, kemudian dia memberikan tiap-tiap seorang daripada mereka sebilah pisau.

Kemudian, dia menyuruh Yusuf pergi kepada perempuan-perempuan tersebut. Apabila mereka melihatnya, mereka sangat kagum padanya, lalu mereka memotong tangan-tangan mereka, dengan berkata, “Dijauhkan Allah! Bukanlah ini manusia; dia tidak lain, hanyalah seorang malaikat yang mulia.”

Lalu isteri Gabenor berkata, “Inilah dia orangnya yang kamu mencela aku dengannya. Benar, aku telah menggoda dia, tetapi dia menolak. Dan, jika dia tidak membuat apa yang aku memerintahkannya, dia akan dipenjarakan.”

Yusuf berkata, “Pemeliharaku, penjara lebih aku menyukai untukku daripada apa yang mereka menyeru aku kepadanya, dan jika Engkau tidak memalingkan muslihat mereka daripada aku, tentu aku akan berkeinginan benar pada mereka, dan aku menjadi orang yang bodoh.”

Pemeliharanya pula menyahutinya, dan Dia memalingkan daripadanya muslihat perempuan-perempuan itu; sesungguhnya Dialah Yang Mendengar, Yang Mengetahui.

Maka Yusuf dimasukkan ke dalam penjara. Bersama dia adalah dua orang pemuda. Seorang daripada mereka berkata, “Aku bermimpi bahawa aku memerah anggur.” Berkata yang lain, “Aku bermimpi bahawa aku membawa roti di atas kepalaku dan burung-burung makan sebahagiannya. Beritahulah kami interpretasinya. Kami melihat bahawa kamu adalah orang yang berbuat baik.”

Yusuf berkata, “Wahai rakan-rakanku yang sepenjara, bagi seorang daripada kamu, dia akan menuangkan minuman arak untuk tuannya; bagi yang satu lagi, dia akan disalib, dan burung akan makan sebahagian daripada kepalanya.”

Kemudian dia berkata kepada orang yang dia menyangka akan diselamatkan antara keduanya, “Sebutlah aku kepada tuan kamu.” Akan tetapi, syaitan menjadikan dia lupa untuk menyebutnya, supaya dia tetap di dalam penjara selama beberapa tahun.

Suatu hari, raja berkata, “Aku melihat dalam mimpi tujuh ekor lembu yang gemuk, dan tujuh yang kurus memakan mereka; dan tujuh tangkai bijirin yang hijau, dan tujuh yang lain kering. Wahai pembesar-pembesarku, putuskanlah kepadaku mimpiku.”

Tiada seorang pun antara mereka yang tahu. Kemudian pemuda yang telah diselamatkan dahulu berkata, setelah teringat, “Aku sendiri akan memberitahu kamu interpretasinya, maka utuslah aku.”

“Wahai Yusuf orang yang benar, putuskanlah kepada kami mengenai tujuh ekor lembu yang gemuk, yang tujuh yang kurus memakan, dan tujuh tangkai bijirin yang hijau, dan tujuh yang lain kering, supaya aku kembali kepada mereka agar mereka mengetahui.”

Yusuf berkata, “Kamu menyemai tujuh tahun seperti biasa; apa yang kamu tuai, tinggalkanlah ia pada tangkainya, kecuali sedikit daripadanya kamu makan. Kemudian sesudah itu, akan datang kepada kamu tujuh tahun yang keras yang memakan apa yang kamu menyediakan bagi mereka, semua, kecuali sedikit yang kamu simpan. Selepas itu, akan datang satu tahun yang manusia diberi pertolongan hujan, dan padanya mereka memerah.”

Raja berkata setelah mendengar interpretasi mimpi oleh Yusuf yang dibawa oleh utusannya, “Datangkanlah dia kepadaku.” Apabila utusan itu tiba, Yusuf berkata, “Kembalilah kepada tuan kamu, dan tanyalah dia, mengenai wanita-wanita yang memotong tangan mereka?”

Raja bertanya, “Apakah urusan kamu, perempuan-perempuan, apabila kamu menggoda Yusuf?” Mereka menjawab, “Dijauhkan Allah! Kami tidak mengetahui kejahatan padanya.”

Isteri Gabenor berkata, “Sekarang yang benar akhirnya menjadi nyata. Sayalah yang menggodanya.”

Raja berkata, “Datangkanlah dia kepadaku. Aku akan mendekatkannya dengan diriku.” Setelah Yusuf berada dengannya, dia berkata kepada Yusuf, “Pada hari ini, kamu berkedudukan teguh dalam sokongan kami, dan dalam kepercayaan kami.”

Yusuf berkata, “Lantiklah saya kepada perbendaharaan bumi ini; saya adalah penjaga yang alim (berpengetahuan).”

“Maka Kami meneguhkan Yusuf di bumi untuk dia menetap di mana sahaja dia kehendaki, dan Kami tidak mensia-siakan upah orang-orang yang berbuat baik” (12:56).

Suatu hari, saudara-saudara Yusuf datang lalu masuk kepadanya. Dia kenal akan mereka, tetapi mereka tidak mengenalinya. Mereka datang untuk meminta pertolongan makanan.

Setelah Yusuf menyiapkan bekal untuk mereka, dia berkata, “Datangkanlah kepadaku saudara kamu yang tertentu daripada bapa kamu. Tidakkah kamu melihat aku menepati sukatan, dan aku yang terbaik daripada penerima-penerima tamu? Tetapi jika kamu tidak mendatangkan dia kepadaku, maka tidak akan ada sukatan bagi kamu denganku, dan tidak juga kamu dapat mendekatiku.”

Mereka menjawab, “Kami akan memujuk bapa kami; itu kami akan buat.”

Lalu Yusuf menyuruh budak-budak suruhannya meletakkan balik barang-barang mereka (yang dibawa untuk mengganti bekalan makanan daripada Yusuf) ke dalam pundi-pundi mereka supaya mereka mengenalinya apabila mereka balik kepada keluarga mereka.

Apabila mereka kembali kepada bapa mereka, mereka berkata, “Ayah, sukatan itu akan dinafikan kepada kami, maka utuslah bersama kami saudara kami supaya kami mendapatkan sukatan itu. Sesungguhnya kami akan menjaganya.”

Bapa mereka berkata, “Adakah aku akan mempercayai kamu kepadanya seperti aku mempercayai kamu kepada saudaranya dahulu?”

Dan, apabila mereka membuka barang-barang mereka, mereka mendapati barang-barang mereka dikembalikan kepada mereka. Mereka berkata, “Ayah, apakah yang kita menginginkan lagi? Barang-barang kita dikembalikan kepada kita, dan kita mendapat bekalan makanan untuk keluarga kita, dan kita akan menjaga saudara kita; kita akan mendapat tambahan beban seekor unta. Itulah sukatan yang mudah.”

“Aku tidak akan mengutusnya bersama kamu sehingga kamu memberi aku satu janji yang teguh dengan Allah, bahawa kamu pasti akan mendatangkannya kembali kepadaku, kecuali kamu diliputi.” Apabila mereka telah memberikannya janji mereka, dia berkata, “Allah menjadi Wakil atas apa yang kami ucapkan.”

Maka apabila mereka masuk kepada Yusuf sekali lagi, dia mengambil saudaranya kepadanya, seraya berkata, “Aku saudara kamu; maka janganlah kamu berdukacita terhadap apa yang mereka buat.”

Kemudian, apabila Yusuf menyiapkan persiapan untuk mereka, dia meletakkan gelas minumannya ke dalam pundi saudara yang diambilnya.

Sedang mereka mula bertolak untuk kembali kepada keluarga mereka, datang pula orang yang menyeru, “Hai kafilah, kamu adalah pencuri!”

Mereka bertanya sambil mendekati orang yang menyeru, “Apa yang kamu hilang?”

“Kami kehilangan gelas berkaki kepunyaan raja. Sesiapa mendatangkannya akan mendapat beban seekor unta; itu aku jamin.”

Mereka berkata, “Demi Allah, kamu mengetahui bahawa kami tidak datang untuk membuat kerosakan di bumi. Kami bukanlah pencuri.”

“Apakah balasannya jika kamu adalah pendusta?”

“Balasannya - dalam pundi sesiapa ia didapati, maka dialah balasannya. Begitulah kami membalas orang-orang yang zalim.”

“Maka dia (Yusuf) memulakan dengan karung-karung mereka sebelum karung saudaranya, kemudian dia mengeluarkannya daripada karung saudaranya. Begitulah Kami membuat muslihat untuk Yusuf; dia tidak boleh mengambil saudaranya, menurut agama (pengadilan) raja, kecuali apa yang Allah menghendaki.

Mereka berkata, “Jika dia seorang pencuri, seorang saudaranya adalah seorang pencuri dahulu.” Tetapi Yusuf merahsiakannya di dalam dirinya, dan tidak menampakkannya kepada mereka, dengan berkata, “Kedudukan kamu lebih buruk; Allah sangat mengetahui apa yang kamu menyifatkan.”

Mereka berkata, “Wahai al-aziz (yang perkasa), dia mempunyai bapa yang sangat tua; maka ambillah salah seorang antara kami untuk mengganti tempatnya; kami melihat bahawa kamu adalah antara orang-orang yang berbuat baik.”

Berkata, “Allah menegah bahawa kami patut mengambil sesiapa sahaja kecuali orang yang kami mendapati barang kami padanya, kerana jika kami berbuat demikian, tentulah kami menjadi orang-orang yang zalim” (12:76-79).

Apabila mereka kembali kepada bapa mereka dan menceritakan hal saudaranya yang mencuri dan ditahan di Mesir kedukaan bapanya bertambah,

“Dan dia berpaling daripada mereka, dan berkata, ‘Aduhai, dukacitaku untuk Yusuf!’ Dan kedua-dua matanya menjadi putih kerana kesedihan yang mencekiknya di dalam dirinya” (12:84).

Kemudian dia berkata, “Wahai anak-anakku, pergilah dan carilah berita mengenai Yusuf dan saudaranya. Janganlah berputus asa daripada kesenangan Allah; daripada kesenangan Allah, tiada yang berputus asa melainkan kaum yang tidak percaya (kafir).”

Lalu mereka pergi kepada Yusuf dan berkata, “Wahai al-aziz, penderitaan telah menyentuh kami dan keluarga kami. Kami datang dengan barang-barang yang tidak berharga. Tepatilah kepada kami sukatan, dan bersedekahlah kepada kami; sesungguhnya Allah membalas orang-orang yang bersedekah.”

Yusuf bertanya, “Adakah kamu mengetahui apa yang kamu melakukan terhadap Yusuf dan saudaranya, ketika kamu orang-orang yang bodoh?”

Mereka menjawab, “Mengapa, adakah kamu benar-benar Yusuf?”

Dia berkata, “Aku Yusuf. Ini saudaraku. Sungguh, Allah telah berbudi baik kepada kami. Sesiapa bertakwa dan bersabar, maka sesungguhnya Allah tidak mensia-siakan upah orang-orang yang berbuat baik.”

Mereka berkata, “Demi Allah, sesungguhnya Allah lebih menyukai kamu daripada kami, dan sesungguhnya kami bersalah.”

Yusuf berkata, “Tidak ada celaan pada hari ini kepada kamu; Allah mengampuni kamu; Dia yang paling berpengasihan daripada yang berpengasihan. Pergilah, ambil baju ini, dan kamu lemparlah ia kepada muka ayahku, dan dia akan memperoleh kembali penglihatannya; kemudian datangkanlah kepadaku keluarga kamu kesemuanya.”

Maka, apabila kafilah telah berangkat, bapa mereka berkata, “Sesungguhnya aku mendapati bau Yusuf, melainkan kamu menuduh aku nyanyuk.”

Mereka berkata, “Demi Allah, sungguh kamu adalah dalam kesesatan kamu yang dahulu.”

Tetapi apabila pembawa berita gembira datang kepadanya dan melemparkan baju Yusuf ke mukanya, tiba-tiba dia kembali dapat melihat. Dia berkata, “Tidakkah aku mengatakan kepada kamu bahawa aku mengetahui daripada Allah apa yang kamu tidak tahu?”

Mereka berkata, “Ayah kami, mintalah ampun untuk kami atas kesalahan-kesalahan kami; sesungguhnya kami bersalah.”

“Sungguh, aku akan meminta Pemeliharaku untuk mengampuni kamu; sesungguhnya Dialah Yang Pengampun, Yang Pengasih.”

Kemudian mereka berangkat ke Mesir untuk menemui Yusuf.

“Maka, apabila mereka masuk kepada Yusuf, dia mengambil ibu dan bapanya kepadanya, dengan berkata, ‘Masuklah kamu ke Mesir, jika Allah mengkehendaki, dalam keadaan aman.’

Dan dia menaikkan ibu dan bapanya ke atas singgahsana; dan yang lain, jatuh bersujud kepadanya. Berkata, ‘Ayah, inilah interpretasi mimpi saya yang dahulu; Pemelihara saya telah membuatnya benar. Dia telah berbudi baik kepada saya apabila Dia mengeluarkan saya dari penjara, dan Dia mendatangkan kamu dari gurun setelah syaitan menyelisihkan antara saya dan saudara saya. Pemelihara saya halus terhadap apa yang Dia mengkehendaki; sesungguhnya Dialah Yang Mengetahui, Yang Bijaksana.

Wahai Pemeliharaku, Engkau telah memberikan aku untuk memerintah, dan Engkau telah mengajar aku interpretasi mimpi. Wahai Pemula langit dan bumi, Engkau Waliku (Pelindungku) di dunia dan akhirat. Matikanlah aku dalam kemusliman, dan satukanlah aku dengan orang-orang yang salih” (12:99-101).

Apakah pelajaran atau pelajaran-pelajaran yang anda perolehi daripada kisah Nabi Yusuf dengan saudara-saudaranya?

2
December
2007

Abubakar Ash-Shiddiq RA0

ABU BAKAR ASH-SHIDDIQ r.a

Abu Bakar, khalifah Islam yang pertama dan orang paling terpercaya serta pembantu Nabi yang sangat setia, dilahirkan di Makkah dua setengah tahun setelah tahun Gajah, atau lima puluh setengah tahun sebelum dimulainya hijrah. Di masa pra Islam dikenal sebagai Abul Ka’ab dan waktu masuk Islam, Nabi memberinya nama Abdullah dengan gelar ash-Shiddiq (orang terpercaya). Ia termasuk suku Quraisy dari Bani Taim, dan silsilah keturunannya sama dengan Nabi SAW. dari garis ke-7. Dia salah seorang pemimpin yang sangat dihormati, sebelum dan sesudah mereka memeluk agama Islam. Nenek moyangnya berdagang dan sekali-kali mengadakan perjalanan dagang ke Syria atau Yaman. Sering Abu Bakar mengunjungi Nabi dan ketika turun wahyu, ia sedang berada di Yaman. Setelah kembali ke Makkah ia mendengar para pemimpin Quraisy, seperti Abu Jahal, Ataba dan Shoba mengejek pernyataan pengangkatan Muhammad menjadi Rasul Allah. Abu Bakar menjadi sangat marah, lalu bergegas ke rumah Nabi dan langsung memeluk agama Islam. Menurut Shuyuti, pengarang Tarikh ul-khulafa, Nabi berkata, “Apabila saya menawarkan agama Islam kepada seseorang, biasanya orang itu menunjukkan keragu-raguannya sebelum memeluk agama Islam. Tapi Abu Bakar adalah suatu perkecualian. Dia memeluk agama Islam tanpa sedikitpun keragu-raguan pada dirinya.”

Pemeluk agama Islam pertama-tama di antara orang dewasa adalah Abu Bakar, di antara kaum muda tercatat nama Ali, sedang di antara kaum wanita adalah Khadijah. Abu Bakar sebagai seorang yang kaya raya, telah menyerahkan seluruh harta kekayaannya untuk digunakan Nabi. Ketika itu Madinah sebagai ibu kota Islam sangat terancam oleh gerombolan-gerombolan musuh. Nabi menghimbau perlunya dana untuk membiayai kampanye guna mempertahankan diri dari bahaya yang akan tiba. Maka Umar yang juga kaya raya seketika itu juga ingin mengambil kesempatan emas ini, sehingga ia berharap bisa menandingi Abu Bakar dalam berbakti kepada Islam. Beliau bergegas pulang ke rumah dan kembali membawa sejumlah besar harta kekayaannya. Nabi sangat senang melihat tindakan sahabatnya itu, dan bertanya,
“Apakah ada yang anda tinggalkan untuk keturunan Anda?”
“Sebagian dari kekayaan telah saya sisihkan untuk anak-anak saya,” jawab Umar.

Demikian pula ketika Abu Bakar membawa pulang hartanya, pertanyaan yang sama juga diajukan kepadanya. Beliau langsung menjawab,
“Yang saya tinggalkan untuk anak-anak saya hanyalah Allah dan Rasul-Nya.”

Sangat terkesan akan ucapan Abu Bakar, Umar berkata, “Tidak akan mungkin bagi saya melebihi Abu Bakar.”

Di samping itu, ia membeli dan membebaskan sejumlah budak belian, termasuk Bilal yang mendapat siksaan secara kejam sebelum masuk Islam. Bilal harus menjalani segala macam penderitaan, intimidasi dan siksaan demi berbakti kepada kepercayaan barunya (Islam). Abu Bakar mempunyai 40.000 dirham ketika masuk agama Islam, tapi kemudian hanya tinggal 5.000 dirham saja pada waktu hijrah. Beliau ikut hijrah ke Madinah menemani Nabi, dan meninggalkan isteri serta anak-anaknya pada lindungan Allah.

Ia juga berjuang bahu-membahu dengan Nabi dalam pertempuran mempertahankan diri, di saat para pemeluk agama baru itu sedang berjuang untuk eksistensinya. Abdur Rahman bin Abu Bakar, putra Abu Bakar, mengatakan kepada ayahnya bahwa di dalam perang Badar, dengan mudah dia mendapat kesempatan membunuh ayahnya. Abu Bakar langsung menjawab bahwa apabila hal itu terjadi pada dirinya dalam menghadapi anaknya, ia tidak akan menyia-nyiakan kesempatan itu.

Abu Bakar meninggal pada 23 Agustus 634 M dalam usia 63 tahun, dan kekhalifahannya berlangsung selama dua tahun tiga bulan sebelas hari. Jenazahnya dimakamkan di samping makam Nabi.

Pada waktu Nabi wafat, Abu Bakar dipilih menjadi khalifah Islam yang pertama. Setelah terpilih, banyak orang berebut menawarkan bai’at, khalifah lalu menyampaikan pidatonya yang mengesankan di hadapan para pemilih.

Abu Bakar berkata: “Saudara-saudara, sekarang aku telah terpilih sebagai amir meskipun aku tidak lebih baik dari siapa pun di antara kalian. Bantulah aku apabila aku berada di jalan yang benar, dan perbaikilah aku apabila aku berada di jalan yang salah. Kebenaran adalah suatu kepercayaan; kesalahan adalah suatu penghianatan. Orang yang lemah di antara kalian akan menjadi kuat bersamaku sampai (Insya Allah) kebenarannya terbukti, dan orang yang kuat di antara kalian akan menjadi lemah bersamaku sampai (Insya Allah) kuambil apa yang menjadi haknya. Patuhlah kepadaku sebagaimana aku mematuhi Allah dan Rasul-Nya. Jika aku tidak mematuhi-Nya dan Rasul-Nya, janganlah sekali-kali kalian patuh kepadaku.”

Abu Bakar berdiri tegak bagaikan batu karang menghadapi kekuatan-kekuatan yang mengacau setelah Nabi wafat. Nampaknya seluruh struktur Islam yang telah diletakkan Nabi yang baru saja mangkat akan hancur berantakan. Namun Abu Bakar telah membuktikan dirinya menjadi orang yang kuat memegang teguh jalan yang ditunjukkan Nabi. Selama Nabi sakit, satuan tentara yang berkekuatan 7000 orang dimobilisir di bawah pimpinan Usamah bin Zaid menuntut balas atas kekalahan orang-orang Muslim dari tangan pasukan Romawi. Begitu Nabi wafat terjadi pula huru-hara besar di Arab. Maka Abu Bakar mengirim pasukan. Pengukuhan Usamah sebagai panglima pasukan berkuda yang diangkat Nabi dipimpin langsung oleh khalifah sendiri. Tentara Usamah menyelesaikan tugasnya dalam tempo 40 hari. Ekspedisi itu berpengaruh sangat baik terhadap suku-suku bangsa yang mulai membandel dan ragu-ragu tentang kekuatan Islam yang sesungguhnya. Tindakan Abu Bakar yang imajinatif, tepat waktu dan dinamis, telah menyatukan kekuatan Islam.

Segera Abu Bakar menghadapi krisis yang lain, waktu Nabi wafat, sejumlah Nabi palsu, yaitu para penipu lihai yang muncul di berbagai bagian Arab. Di antara mereka yang terkenal ialah Aswad Asni, Talha Bani Asad, Musailama si pendusta dan Sajah seorang wanita Yaman. Di suatu daerah di Zhul Qassa, khalifah memberikan sebelas peta untuk menyamai jumlah komandannya dan menugaskan mereka di berbagai sektor. Ekspedisi melawan Musailama terasa sangat berat dan baru setelah Khalid bin Walid menggempur dengan dahsyatnya, musuh dapat dihancurkan. Musailama mati terbunuh. Seorang sejarawan, Tabrani mengatakan, “Belum pernah Muslimin bertempur sedahsyat pertempuran ini.”

Tak lama setelah pemilihan khalifah, sejumlah anggota suku mengimbau para pemimpin Islam di Madinah agar mereka dibebaskan dari membayar zakat. Keadaan tampaknya begitu suram, sehingga menghadapi masalah itu orang seperti Umar pun terpaksa mengalah dan ia memohon kepada Abu Bakar: “O, Khalifah Rasul, bersikap ramahlah kepada orang-orang ini, dan perlakukanlah mereka dengan lemah lembut.” Khalifah sangat jengkel dengan pameran kelemahan yang tidak disangka-sangka itu, dan dengan amarah yang amat sangat ia menjawab: “Anda begitu keras pada zaman jahiliyah, tapi sekarang Anda menjadi begitu lemah. Wahyu Allah telah sempurna dan iman kita telah mencapai kesempurnaan. Sekarang Anda ingin merusakkannya pada saat aku masih hidup. Demi Allah, walau sehelai benang pun yang akan dikurangi dari zakat, aku akan berjuang mempertahankannya dengan semua kekuatan yang ada padaku.”

Dalam sejarahnya, khalifah Abu Bakar adalah seorang yang memegang teguh pendirian dan integritasnya, berwatak baja. Ia selalu tampil mempertahankan ajaran dasar agama Islam pada saat-saat yang sangat kritis.

Semua ekspedisi militer yang ditujukan terhadap orang-orang yang ingkar kepada agama dan terhadap suku-suku yang berontak, berakhir dengan sukses menjelang akhir tahun 11 H. pemberontakan dan perselisihan yang mencekam Arab dapat ditumpas untuk selama-lamanya.

Di dalam negeri tidak ada pergolakan lagi, tetapi khalifah harus menghadapi bahaya dari luar yang pada gilirannya dapat menghancurkan eksistensi Islam. Dua orang raja paling berkuasa di dunia, Kaisar dan Kisra, sedang mengintai kesempatan untuk menyerang pusat agama baru itu. Orang-orang Persi selama berabad-abad memerintah Arab sebagai maharaja, yang tentu saja tidak dapat mentolerir setiap kekuatan Arab militan untuk bersatu membentuk kekuatan yang besar. Hurmuz adalah raja lalim yang memerintah Irak atas nama Kisra. Penganiayaan terhadap orang-orang Arab menimbulkan pemberontakan kecil, tapi lalu berkembang menjadi peperangan berdarah. Kini, keadaan yang terjadi malah sebaliknya; orang-orang Persia yang dengan penuh kecongkakan dan selalu meremehkan kekuatan orang-orang Muslim akhirnya tidak dapat menahan gelombang maju pasukan Islam, dan mereka harus mundur dari satu tempat ke tempat lainnya sampai Irak jatuh.

Pada mulanya, Muthanna yang memimpin tentara Islam melawan orang-orang Persi. Dia banyak mendapat kemenangan. Lalu kemudian Khalid bin Walid yang tak terkalahkan dan dikenal sebagai Pedang Allah itu bergabung. Pertempuran yang menentukan melawan Hurmuz dimenangkan orang-orang Muslim, dan saat itulah Hurmuz mati terbunuh di tangan Khalid bin Walid dan orang-orang Persi dihancurkan dengan meninggalkan banyak korban jiwa. Seekor unta dimuati rantai seberat tujuh setengah Maund yang dikumpulkan dari medan tempur, sehingga pertempuran itu dikenal sebagai “Pertempuran Rantai.”

Khalid bin Walid ketika menjabat panglima tentara Islam di Irak memisahkan administrasi sipil dan militer. Said bin No’man diangkat sebagai kepala departemen militer, sedangkan Suwaid memegang kepala administrasi sipil. Sebagian besar daerah Irak direbut selama pemerintahan Khalifah Abu Bakar, sedang sisanya ditaklukkan oleh pemerintahan Umar.

Raja Byzantium, Heraclius, yang menguasai Syria dan Palestina, benar-benar musuh Islam yang paling besar dan paling perkasa. Intrik-intrik dan akal bulusnya menimbulkan beberapa kerusuhan yang dilakukan oleh suku-suku non Islam di Arab. Dialah bahaya laten bagi Islam. Sejak tahun 9 H, Nabi sendiri telah memimpin tentara melawan orang Romawi, kemudian pada masa Abu Bakar, sang khalifah mengirimkan tentaranya untuk menghadang orang-orang Romawi dan membagi kekuatannya dalam empat pasukan di bawah komando Abu Ubaidah, Syarjil bin Hasanah, Yazid bin Sofyan dan Amr bin Ash serta menempatkan mereka di beberapa sektor di Suria. Tentara Islam tanpa persenjataan yang lengkap, tidak terlatih dan rendah mutunya sedangkan angkatan perang Romawi bersenjata lengkap dan baik, terlatih dan jumlahnya lebih banyak. Pasukan Islam dan musuh berhadapan di dataran Yarmuk. Tentara Romawi yang hebat itu berkekuatan lebih dari 3 lakh serdadu bersenjata lengkap, di antaranya 80.000 orang diikat dengan rantai untuk mencegah kemungkinan mundurnya mereka. Tentara Muslim seluruhnya berjumlah 46.000 orang. Sesuai dengan strategi Khalid, mereka dipecah menjadi 40 kontingen untuk memberi kesan seolah-olah mereka lebih besar dari musuh. Operasi militer yang tak terlupakan bagi ummat Islam berakhir dengan kemenangan di pihak kaum Muslimin. Pertempuran Yarmuk, dengan persiapan pendahuluannya yang dimulai sejak khalifah Abu Bakar, dimenangkan pada masa khalifah Umar.

Abu Bakar adalah sahabat Nabi yang paling terpercaya, Nabi berkata, “Saya tidak tahu apakah ada orang yang melebihi Abu Bakar dalam kedermawaannya.” Ketika sakit Nabi semakin parah , beliau meminta Abu Bakar menjadi imam dalam shalat. Abu Bakar mengimami shalat 17 kali selama Nabi hidup.

Nabi berkata, “Saya sudah membayar semua kewajiban saya, kecuali kepada Abu Bakar yang akan mendapatkan ganjarannya pada hari kiamat.”

Menurut Tarmidzi, Umar pernah berkata, “O, Abu Bakar, Anda orang terbaik sesudah Rasul Allah.”

Menurut keterangan Imam Ahmad, Ali pernah berkata, “Orang-orang terbaik di antara umat Islam setelah Nabi adalah Abu Bakar dan Umar.”

Abu Bakar merupakan salah seorang tokoh revolusi besar Islam, ia telah menciptakan berbagai perubahan sosial, politik dan ekonomi yang paling fundamental dalam sejarah manusia. Juga beliau sebagai salah seorang peletak dasar demokrasi yang sebenarnya di dunia ini, lebih dari 1.400 tahun yang lalu, tapi tak pernah ada lagi setelah itu.

Abu Bakar adalah seorang khalifah dan juga merupakan raja. Tapi Abu Bakar berjalan hilir mudik tanpa pengawal atau pun teman. Ia makan makanan yang jelek dan pakaian yang lusuh. Bahkan rakyat awam pun dapat menghubunginya setiap waktu di siang hari, dan menanyakan segala tindakannya secara terbuka.

Beliau pernah memerintahkan pembuatan daftar tuntunan moral bagi tingkah laku para prajurit Islam. Tuntunan ini seyogyannya menjadi contoh bagi dunia yang sekarang di jaman modern ini sudah kacau balau dengan moral yang sudah menyimpang jauh dari nilai-nilai kemanusian apalagi nilai agama. Hanya sedikit sekali prajurit yang masih memegang nilai-nilai etik moral dan keagamaan. Para pembaca yang budiman, pernahkah Anda mendengar seorang prajurit atau perwira di jaman modern ini yang berani menolak atau mengundurkan diri karena diperintah atasan untuk menjalankan tugas yang melanggar hukum Allah? Amat sangat sedikit. maka orang-orang yang berani berkata “tidak” dalam hal yang demikian ini adalah merupakan prajurit dan pejuang sejati.

Kembali kepada khalifah, kepada setiap tentara diberi instruksi: “Jangan melakukan penyelewengan, jangan menipu orang, jangan ingkar kepada atasan, jangan memotong bagian badan manusia, jangan membunuh orang-orang tua, para wanita dan anak-anak, jangan menebang atau membakar pohon buah-buahan, jangan membunuh hewan kecuali disembelih untuk dimakan, jangan menganiaya para pendeta Kristen, dan jangan lupa kepada Allah atas karunia-Nya yang telah anda nikmati.”

Abu Bakar mengangkat Umar sebagai Qadhi Agung. Tapi kehidupan moral rakyat telah terbiasa dengan hidup jujur dan bersih, sehingga tak ada pengaduan yang disampaikan kepada Qadhi selama satu tahun. Adapun Utsman, Ali dan Zaid bin Tsabit bekerja sebagai khatib.

Abu Bakar selalu cermat dalam mengambil uang bantuan dari Baitul Mal. Beliau menggunakan secukupnya saja untuk keperluan hidup minimal setiap hari. Pernah isterinya minta manisan tapi si suami tidak punya uang lebih untuk membelinya. Untung, isterinya punya uang tabungan beberapa dirham selama dua Minggu, yang lalu diberikannya uang itu kepada suaminya untuk membeli manisan. Melihat uang itu, Abu Bakar bilang terus terang kepada isterinya bahwa tabungannya itu telah membuatnya mengambil uang melebihi dari jumlah yang mereka butuhkan. Lalu dikembalikan uang itu kepada Baitul Mal dan dikurangi pengambilan uangnya di masa mendatang.

Abu Bakar senang sekali mengerjakan semua pekerjaan dengan tangannya sendiri, dan tidak pernah mengijinkan siapapun juga untuk ikut membantu melakukan pekerjaan rumah tangganya. Bahkan seandainya tali kekang untanya terjatuh, ia tidak akan pernah meminta siapapun untuk mengambilnya. Ia lebih suka turun dari unta dan mengambilnya sendiri.

Apabila di hadapannya ada orang memujinya, dia berkata, “Ya, Allah! Engkau lebih tahu akan diriku dari pada aku sendiri, dan aku mengetahui diriku sendiri lebih dari pada orang-orang ini. Ampunilah dosa-dosaku yang tidak mereka ketahui, dan janganlah mengakibatkan aku bertanggung jawab atas puji-puji mereka itu.”

Abu Bakar dikenal memiliki kebiasaan hidup sangat sederhana. Pada suatu hari, seorang putra mahkota Yaman dalam pakaiannya yang mewah tiba di Madinah. Dilihatnya Abu Bakar hanya mengenakan dua lembar kain warna cokelat, yang selembar menutupi pinggang dan yang selembar lagi menutupi bagian badan yang lainnya. Putra mahkota itu begitu terharu melihat kesederhanaan khalifah, sehingga dia juga membuang pakaiannya yang indah itu. Dia berkata, “Di dalam Islam, saya tidak menikmati kepalsuan seperti ini.”

Pada akhir perjalanan hidupnya, Abu Bakar bertanya kepada petugas Baitul Mal, berapa jumlah yang telah ia ambil sebagai uang tunjangan. Petugas itu memberi tahu bahwa beliau telah mengambil 6.000 dirham selama dua setengah tahun kekhalifahan. Ia lalu memerintahkan agar tanah miliknya dijual dan seluruh hasilnya diberikan kepada Baitul Mal. Amanatnya sebelum mangkat itu telah dilaksanakan. Dan untuk seekor unta dan sepotong baju seharga seperempat rupee milik pribadinya, ia amanatkan agar diberikan kepada khalifah baru setelah ia meninggal dunia. Ketika barang-barang tersebut dibawa kepada yang berhak, Umar yang baru saja menerima jabatan sebagai khalifah mengeluarkan air mata dan berkata, “Abu Bakar, engkau telah membuat tugas penggantimu menjadi sangat sulit.”

Pada malam sebelum meninggal, Abu Bakar bertanya pada putrinya Aisyah, berapa jumlah kain yang digunakan sebagai kain kafan Nabi. Aisyah menjawab, “Tiga.” Seketika itu juga ia bilang bahwa dua lembar yang masih melekat di badannya supaya dicuci, sedangkan satu lembar kekurangannya boleh dibeli. Dengan berurai air mata Aisyah berkata bahwa dia tidaklah sedemikian miskinnya, sehingga tidak mampu membeli kain kafan untuk ayahnya. Khalifah menjawab, kain yang baru lebih berguna bagi orang yang hidup dari pada orang yang sudah meninggal.

Banyak penghargaan yang diberikan kepada khalifah Abu Bakar tentang kepandaian dan kebaikan hatinya. Baik kawan maupun lawan memuji kesetiaannya kepada agama baru itu, demikian pula watak kesederhanaan, kejujuran, dan integritas pribadinya. Jurji Zaidan, sejarawan Mesir beragama Kristen menulis, “Zaman khalifah-khalifah yang alim adalah merupakan masa keemasaan Islam. Khalifah-khalifah itu terkenal karena kesederhanaan, kealiman dan keadilannya. Ketika Abu Bakar masuk Islam, ia memiliki 40.000 dirham, jumlah yang sangat besar pada waktu itu, akan tetapi ia habiskan semua, termasuk uang yang diperolehnya dari perdagangan, demi memajukan agama Islam. Ketika wafat, tidaklah ia memiliki apa-apa kecuali uang satu dinar. Ia biasa berjalan kaki ke rumahnya di Sunh, di pinggir kota Madinah. Ia juga jarang sekali menunggangi kudanya. Ia datang ke Madinah untuk memimpin sembahyang berjamaah dan kembali ke Sunh di sore hari. Setiap hari Abu Bakar membeli dan menjual domba, dan mempunyai sedikit gembalaan yang sesekali harus ia gembalakan sendiri. Sebelum menjadi khalifah, ia telah terbiasa memerah susu domba milik kabilahnya, sehingga ketika ia menjadi khalifah, seorang budak anak perempuan menyesalkan dombanya tidak ada yang memerah lagi. Abu Bakar kemudian meyakinkan anak perempuan itu bahwa akan tetap memerah susu dombanya. Sebelum wafat, ia memerintahkan menjual sebidang tanah miliknya dan hasil penjualannya dikembalikan kepada masyarakat Muslim sebesar sejumlah uang yang telah ia ambil dari masyarakat sebagai honorarium.”
Referensi : SERATUS MUSLIM TERKEMUKA, Jamil Ahmad

2
December
2007

Hafshoh binti Umar RA0

HAFSHOH binti ‘UMAR radhiallaahu ‘anhuma

Beliau adalah Hafsah putri dari Umar bin Khaththab, seorang shahabat agung yang melalui perantara beliau-lah Islam memiliki wibawa. Hafshoh adalah seorang wanita yang masih muda dan berparas cantik, bertaqwa dan wanita yang disegani.

Pada mulanya beliau dinikahi salah seorang shahabat yang mulia bernama Khunais bin Khudzafah bin Qais As-Sahmi Al-Quraisy yang pernah berhijrah dua kali, ikut dalam perang Badar dan perang Uhud namun setelah itu beliau wafat di negeri hijrah karena sakit yang beliau alami waktu perang Uhud. Beliau meninggalkan seorang janda yang masih muda dan bertaqwa yakni Hafshoh yang ketika itu masih berumur 18 tahun.

Umar benar-benar merasakan gelisah dengan adanya keadaan putrinya yang menjanda dalam keadaan masih muda dan beliau masih merasakan kesedihan dengan wafatnya menantunya yang dia adalah seorang muhajir dan mujahid. Beliau mulai merasakan kesedihan setiap kali masuk rumah melihat putrinya dalam keadaan berduka. Setelah berfikir panjang maka Umar berkesimpulan untuk mencarikan suami untuk putrinya sehingga dia dapat bergaul dengannya dan agar kebahagiaan yang telah hilang tatkala dia menjadi seorang istri selama kurang lebih enam bulan dapat kembali.

Akhirnya pilihan Umar jatuh pada Abu Bakar Ash Shidiq radhiallaahu ‘anhu orang yang paling dicintai Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa sallam karena Abu Bakar dengan sifat tenggang rasa dan kelembutannya dapat diharapkan membimbing Hafshoh yang mewarisi watak bapaknya yakni bersemangat tinggi dan berwatak tegas. Maka segeralah Umar menemui Abu Bakar dan menceritakan perihal Hafshoh berserta ujian yang menimpa dirinya yakni berstatus janda. Sedangkan ash-Shiddiq memperhatikan dengan rasa iba dan belas kasihan. Kemudian barulah Umar menawari Abu Bakar agar mau memperistri putrinya. Dalam hatinya dia tidak ragu bahwa Abu Bakar mau menerima seorang yang masih muda dan bertaqwa, putri dari seorang laki-laki yang dijadikan oleh Allah penyebab untuk menguatkan Islam. Namun ternyata Abu Bakar tidak menjawab apa-apa. Maka berpalinglah Umar dengan membawa kekecewaan hatinya yang hampir-hampir dia tidak percaya (dengan sikap Abu Bakar). Kemudian dia melangkahkan kakinya menuju rumah Utsman bin Affan yang mana ketika itu istri beliau yang bernama Ruqqayah binti Rasulullah telah wafat karena sakit yang dideritanya.

Umar menceritakan perihal putrinya kepada Utsman dan menawari agar mau menikahi putrinya, namun beliau menjawab: “Aku belum ingin menikah saat ini”. Semakin bertambahlah kesedihan Umar atas penolakan Utsman tersebut setelah ditolak oleh Abu Bakar. Dan beliau merasa malu untuk bertemu dengan salah seorang dari kedua shahabatnya tersebut padahal mereka berdua adalah kawan karibnya dan teman kepercayaannya yang faham betul tentang kedudukannya. Kemudian beliau menghadap Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa sallam dan mengadukan keadaan dan sikap Abu Bakar maupun Utsman. Maka tersenyumlah Rasulllah Shallallaahu ‘alaihi wa sallam seraya berkata:

“Hafshoh akan dinikahi oleh orang yang lebih baik dari Abu Bakar dan Utsman sedangkan Ustman akan menikahi wanita yang lebih baik daripada Hafshoh (yaitu putri beliau Ummu Kultsum radhiallaahu ‘anha-red)”

Wajah Umar bin Khaththab berseri-seri karena kemuliaan yang agung ini yang mana belum pernah terlintas dalam angan-angannya. Hilanglah segala kesusahan hatinya, maka dengan segera dia menyampaikan kabar gembira tersebut kepada setiap orang yang dicintainya sedangkan Abu Bakar adalah orang yang pertama kali beliau temui. Maka tatkala Abu Bakar melihat Umar dalam keadaan gembira dan suka cita maka beliau mengucapkan selamat kepada Umar dan meminta maaf kepada Umar sambil berkata “janganlah engkau marah kepadaku wahai Umar karena aku telah mendengar Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa sallam menyebut-nyebut Hafshoh. Hanya saja aku tidak ingin membuka rahasia Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa sallam; seandainya beliau menolak Hafshoh maka pastilah aku akan menikahinya. Maka Madinah mendapat barokah dengan indahnya pernikahan Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa sallam dengan Hafshoh binti Umar pada bulan Sya’ban tahun ketiga Hijriyah. Begitu pula barokah dari pernikahan Utsman bin Affan dengan Ummu Kultsum binti Muhammad Shallallaahu ‘alaihi wa sallam pada bulan Jumadil Akhir tahun ketiga Hijriyah juga.

Begitulah, Hafshoh bergabung dengan istri-istri Rasulullah dan Ummahatul mukminin yang suci. Di dalam rumah tangga Nubuwwah ada istri selain beliau yakni Saudah dan Aisyah. Maka tatkala ada kecemburuan beliau mendekati Aisyah karena dia lebih pantas dan lebih layak untuk cemburu. Beliau senantiasa mendekati dan mengalah dengan Aisyah mengikuti pesan bapaknya (Umar) yang berkata: “Betapa kerdilnya engkau bila dibanding dengan Aisyah dan betapa kerdilnya ayahmu ini apabila dibandingkan dengan ayahnya”.

Hafshoh dan Aisyah pernah menyusahkan Nabi, maka turunlah ayat :”Jika kamu berdua bertaubat kepada Allah, maka sesungguhnya hati kamu berdua telah condong untuk menerima kebaikan dan jika kamu berdua bantu membantu menyusahkan Nabi,maka sesungguhnya Allah adalah pelindungnya dan (begitu pula) Jibril” (Q.S. at-Tahrim: 4).

Telah diriwayatkan bahwa Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa sallam telah mentalak sekali untuk Hafshoh tatkala Hafshoh dianggap menyusahkan Nabi namun beliau rujuk kembali dengan perintah yang dibawa oleh Jibril ‘alaihissalam yang mana dia berkata:

“Dia adalah seorang wanita yang rajin shaum, rajin shalat dan dia adalah istrimu di surga”.

Hafshoh pernah merasa bersalah karena menyebabkan kesusahan dan penderitaan Nabi dengan menyebarkan rahasianya namun akhirnya menjadi tenang setelah Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa sallam memaafkan beliau. Kemudian Hafshoh hidup bersama Nabi dengan hubungan yang harmonis sebagai seorang istri bersama suaminya. Manakala Rasul yang mulia menghadap ar-Rafiiq al-A’la dan Khalifah dipegang oleh Abu Bakar ash-Shiddiq, maka Hafshoh- lah yang dipercaya diantara Ummahatul Mukminin termasuk Aisyah didalamnya, untuk menjaga mushaf Al-Qur’an yang pertama.

Hafshoh radhiallaahu ‘anha mengisi hidupnya sebagai seorang ahli ibadah dan ta’at kepada Allah, rajin shaum dan juga shalat, satu-satunya orang yang dipercaya untuk menjaga keamanan dari undang-undang umat ini, dan kitabnya yang paling utama yang sebagai mukjizat yang kekal, sumber hukum yang lurus dan ‘aqidahnya yang utuh.

Ketika ayah beliau yang ketika itu adalah Amirul mukminin merasakan dekatnya ajal setelah ditikam oleh Abu Lu’lu’ah seorang Majusi pada bulan Dzulhijjah tahun 13 hijriyah, maka Hafshoh adalah putri beliau yang mendapat wasiat yang beliau tinggalkan.

Hafshoh wafat pada masa Mu’awiyah bin Abu Sufyan radhiallaahu ‘anhu setelah memberikan wasiat kepada saudaranya yang bernama Abdullah dengan wasiat yang diwasiatkan oleh ayahnya radhiallaahu ‘anhu. Semoga Allah meridhai beliau karena beliau telah menjaga al-Qur’an al- Karim, dan beliau adalah wanita yang disebut Jibril sebagai Shawwamah dan Qawwamah (Wanita yang rajin shaum dan shalat) dan bahwa beliau adalah istri Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa sallam di surga.

2
December
2007

Asma’ binti Abubakar RA0

Sumber: “An-Nisaa’ Haula Ar-Rasuul” (diterjemahkan menjadi “Tokoh-tokoh Wanita di Sekitar Rasulullah SAW”) yang disusun oleh Muhammad Ibrahim Salim. Diketik oleh Hanies Ambarsari.
Dia seorang wanita muhajir yang mulia dan tokoh yang besar karena akal dan kemuliaan jiwa
serta kemauannya yang kuat. Asma’ dilahirkan tahun 27 sebelum Hijrah. Asma’ 10 tahun lebih tua dari
pada saudaranya seayah, Aisyah, Ummul Mu’minin dan dia adalah saudara sekandung dari Abdullah bin
Abu Bakar.

Asma’ mendapat gelar Dzatun nithaqain (si empunya dua ikat pinggang), karena dia mengambil
ikat pinggangnya, lalu memotongnya menjadi dua. Satu dia gunakan untuk sufrah (bungkus makanan
untuk bekal) Rasulullah SAW, dan yang lain sebagai pembungkus qirbahnya pada waktu malam, ketika
Rasulullah SAW dan Abu Bakar Ash-Shiddiq keluar menuju gua.

Penduduk Syam mengolok-olok Ibnu Zubair dengan julukan “Dzaatun nithaqain” ketika mereka
memeranginya. Maka Asma’ bertanya kepada puteranya itu, Abdullah bin Zubair :”Mereka mengolok-olok
kan kamu ?” Abdullah menjawab :”Ya.” Maka Asma’ berkata :”Demi Allah, dia adalah benar.” Ketika Asma
menghadap Al-Hajjaj, dia berkata: “Bagaimana engkau mengolok-olok Abdullah dengan julukan Dzatun
nithaqain ? Memang, aku mempunyai sepotong ikat pinggang yang harus dipakai oleh orang perempuan
dan sepotong ikat pinggang untuk menutupi makanan Rasulullah SAW.”

Asma’ telah lama masuk Islam di Mekkah, sesudah 17 orang dan berbai’at kepada Nabi SAW, serta
beriman kepadanya dengan iman yang kuat.

Pengamalan Islam Asma’ yang Baik
——————————————————-
Pada suatu ketika, datang Qatilah binti Abdul Uzza kepada puterinya, Asma’ binti Abu Bakar Ash-
Shiddiq, sedangkan Abu Bakar telah menalaknya di zaman jahiliyyah, membawa hadiah-hadiah berupa
kismis, samin dan anting-anting. Namun Asma’ menolak hadiah tersebut dan tidak mengizinkannya memasuki
rumahnya. Kemudian dia memberitahu Aisyah :”Tanyakan kepada Rasulullah SAW ….?” Aisyah menjawab :
“Biarlah dia memasuki rumahnya dan dia (Asma’) boleh menerima hadiahnya.”

Tindakan Asma’ yang Baik
—————————————–
Abu Bakar r.a. membawa seluruh hartanya yang berjumlah 5.000 atau 6.000 ketika Rasulullah SAW
pergi hijrah. Kemudian kakeknya, Abu Quhafah datang kepada Asma’ sedangkan dia seorang buta. Abu
Quhafah berkata :”Demi Allah, sungguh aku lihat dia telah menyusahkan kalian dengan hartanya, sebagaimana
dia telah menyusahkan kalian dengan dirinya.”

Maka Asma’ berkata kepadanya:”Sekali-kali tidak, wahai, Kakek! Beliau telah meninggalkan kebaikan
yang banyak bagi kita.” Kemudian Asma’ mengambil batu-batu dan meletakkanya di lubang angin, di mana
ayahnya pernah meletakkan uang itu. Kemudian dia menutupinya dengan selembar baju. Setelah itu Asma’
memegang tangannya (Abu Quhafah) dan berkata: “Letakkan tangan Anda di atas uang ini.” Maka kakeknya
meletakkan tangannya di atasnya dan berkata :”Tidaklah mengapa jika dia tinggalkan ini bagi kalian, maka
dia (berarti) telah berbuat baik. Ini sudah cukup bagi kalian.” Sebenarnya Abu Bakar tidak meninggalkan
sesuatu pun bagi keluarganya, tetapi Asma’ ingin menenangkan hati orang tua itu.

Az-Zubair ibnul Awwam menikah dengannya, sementara dia tidak mempunyai harta dan sahaya
maupun lainnya, kecuali kuda. Maka Asma’ memberi makan kudanya dan mencukupi kebutuhan serta
melatihnya. Menumbuk biji kurma untuk makanan kuda, memberinya air minum dan membuat
adonan roti. Suatu ketika Az-Zubair bersikap keras terhadapnya, maka Asma’ datang kepada ayahnya dan
mengeluhkan hal itu. Maka sang ayahpun berkata : “Wahai anakku, sabarlah! Sesungguhnya wanita itu apabila
bersuami seorang yang sholeh, kemudian suaminya meninggal dunia, sedang isterinya tidak menikah lagi,
maka keduanya akan berkumpul di surga.”

Asma’ datang kepada Nabi SAW, lalu bertanya :”Wahai, Rasulullah,aku tidak punya sesuatu di rumahku,
kecuali apa yang diberikan oleh Az-Zubair kepadaku. Bolehkah aku memberikan dan menyedekahkan apa
yang diberikan kepadaku olehnya ?” Maka Nabi SAW menjawab :”Berikanlah (bersedekahlah) sesuai kemampuanmu
dan jangan menahannya agar tidak ditahan pula suatu pemberian terhadapmu.”
Maka Asma’ adalah termasuk seorang wanita dermawan. Dari Abdullah bin Zubair r.a. dia berkata :”Tidaklah
kulihat dua orang wanita yang lebih dermawan daripada Aisyah dan Asma’.” Kedermawanan mereka berbeda.
Adapun Aisyah, sesungguhnya dia suka mengumpulkan sesuatu, hingga setelah terkumpul padanya, diapun
membagikannya. Sedangkan Asma’, maka dia tidak menyimpan sesuatu untuk besoknya. Asma’ adalah
seorang wanita yang dermawan dan pemurah. Dia tidak menyimpan sesuatu untuk hari esok. Pernah dia
menderita sakit, lalu dia bebaskan semua hamba sahayanya.

Asma’ ikut dalam Perang Yarmuk bersama suaminya, Az-Zubair, dan menunjukkan keberaniannya
yang baik. Dia membawa sebilah belati dalam pasukan Said bin Ash di masa fitnah, lalu diletakkannya di balik
lengan bajunya. Kemudian ditanyakan kepadanya :”Apa yang kamu lakukan dengan membawa ini ?” Asma’
menjawab :”Jika ada pencuri masuk kepadaku, maka aku tusuk perutnya.” Umar ibnul Khaththab r.a.
memberi tunjangan untuk Asma’ sebanyak 1000 dirham.

Asma’ meriwayatkan 58 hadits dari Nabi SAW; dan dalam suatu riwayat dikatakan : bahwa dia
meriwayatkan 56 hadits [Al-Kazaruni, “Mathaali’ul Anwaar”]. Telah sepakat antara Bukhari dan Muslim atas
14 hadits. Bukhari meriwayatkan sendiri atas 4 hadits, sedangkan Muslim juga meriwayatkan sebanyak itu pula.
[Al-Hafih Al-Maqdisi, Al-Kamaal fii Ma’rifatir Rijaal]. Dalam satu riwayat : Diceritakan bahwa Asma’ meri-
wayatkan 22 hadits dalam Shahihain. Sedangkan yang disepakati Bukhari dan Muslim 13 hadits. Bukhari
meriwayatkan sendiri 5 hadits, sedangkan Muslim meriwayatkan 4 hadits. [Ibnul Jauzi, “Al-Mujtana”]

Asma’ Sebagai Penyair dan Pemberani
————————————————————
Asma’ adalah wanita penyair dan pemberani yang mempunyai logika dan bayan. Dia berkata
mengenai suaminya, Az-Zubair, ketika dibunuh oleh Amru bin Jarmuz Al-Mujasyi’i di Wadi As-Siba’
(5 mil dari Basrah) ketika kembali dari Perang Jamal :
Ibnu Jarmuz mencurangi seorang pendekar dengan sengaja
di waktu perang, sedang dia tidak lari
Hai, Amru, kiranya kamu ingatkan dia
tentu kamu mendapati dia
bukan seorang yang bodoh, tidak kasar
hati dan tangannya
semoga ibumu menangisi, karena kamu
bunuh seoranng Muslim
dan kamu akan terima hukuman
pembunuhan yang disengaja

Tekad Asma’ yang Kuat, Kemuliaan Jiwa dan Keberaniannya
————————————————————————————————
Kata-kata Asma’ kepada puteranya menunjukkan kepada kita tentang makna-makna yang luhur itu.
Suatu saat puteranya, Abdullah, datang menemui ibunya, Asma’ yang buta dan sudah berusia 100 tahun.
Dia berkata kepada ibunya :”Wahai, Ibu, bagaimana pendapat Anda mengenai orang yang telah
meninggalkan aku, begitu juga keluargaku.” Asma’ berkata :”Jangan biarkan anak-anak kecil bani Umayyah
mempermainkanmu. Hiduplah secara mulia dan matilah secara mulia. Demi Allah, sungguh aku berharap
akan terhibur mengenaimu dengan baik.” Kemudian Abdullah keluar dan bertempur hingga ia mati terbunuh.

Konon, Al-Hajjaj bersumpah untuk tidak menurunkannya dari tiang kayu hingga ibunya meminta
keringanan baginya. Maka tinggallah dia di situ selama satu tahun. Kemudian ibunya lewat di bawahnya dan
berkata : “Tidakkah tiba waktunya bagi orang ini untuk turun ?” Diriwayatkan, bahwa Al-Hajjaj berkata kepada
Asma’ setelah Abdullah terbunuh :”Bagaimanakah engkau lihat perbuatanku terhadap puteramu ?” Asma’
menjawab :”Engkau telah merusak dunianya, namun dia telah merusak akhiratmu.”

Asma’ wafat di Mekkah dalam usia 100 tahun, sedang giginya tetap utuh, tidak ada yang tanggal
dan akalnya masih sempurna. [Mashaadirut Tarjamah : Thabaqaat Ibnu Saad, Taarikh Thabari, Al-Ishaabah
dan Siirah Ibnu Hisyam]. Penulis buku, Musthafa Luthfi Al-Manfaluthi mencatat dialog yang terjadi antara
Asma’ dengan Abdullah, dalam sebuah kasidah yang dianggap sebuah karya seni yang indah. Dia berkata :
Asma’ di antara manusia adalah sebaik-baik wanita ia lakukan perbuatan terbaik di saat perpisahan
datang kepadanya Ibnu Zubair menyeret baju besi di bawah baju besi berlumur darah
Ia berkata : Wahai, Ibu, aku telah payah dengan urusanku
antara penawanan yang pahit dan
pembunuhan yang keji.
Teman-teman dan zaman mengkhianatiku,
maka aku tak punya teman selain pedangku
kulihat bintangku yang tampak terang
telah lenyap dariku dan tidak lagi naik.
Kaumku telah berupaya melindungiku,
maka tak ada penolong selain itu jika
aku menerimanya.
Asma’ menjawab dengan kelopak mata
yang kering seakan-akan tidak ada tempat sebelumnya
bagi air mata.
Air mata itu berubah menjadi uap
yang naik dari hatinya yang patah.
Tidaklah diselamatkan kecuali kehidupan
atau ia menjadi tulang-belulang seperti
halnya batang pohon
kematian di medan perang lebih baik bagimu
daripada hidup hina dan tunduk
jika orang-orang menelantarkanmu,
maka sabar dan tabahlah,
karena Allah tidak menelantarkan.
Matilah mulia, sebagaimana engkau hidup mulia
dan hiduplah selalu dalam namamu
yang mulia dan tinggi
tiada di antara hidup dan mati
kecuali menyerang di tengah pasukan itu.

Kata-kata Asma’ kepada puteranya ini akan tetap menjadi cahaya di atas jalan kehidupan yang mulia,
yaitu ketika puteranya berkata :
“Wahai, Ibu, aku takut jika pasukan Syam membunuhku, mereka akan memotong-motong tubuh dan
menyalibku.” Asma’ menjawab dengan perkataan yang kukuh seperti gunung, kuat seperti jiwanya, besar
seperti imannya, dan perkataan itulah yang menentukan akhir pertempuran : “Hai, Anakku, sesungguhnya
kambing yang sudah disembelih tidaklah merasa sakit bila ia dikuliti.”

Al-Manfaluthi menyudahi kasidahnya dengan perkataan :
Datang berita kematian kepada ibunya,
maka ia pun mengeluarkan air matanya
yang tertahan.

Abdullah gugur sebagai syahid dan unggulan nilai-nilai yang tinggi dari ibu teladan. Kisah ini tercatat
dalam lembaran-lembaran yang paling cemerlang dalam sejarah orang-orang yang kekal.