2
December
2007

Asma’ binti Abubakar RA

Sumber: “An-Nisaa’ Haula Ar-Rasuul” (diterjemahkan menjadi “Tokoh-tokoh Wanita di Sekitar Rasulullah SAW”) yang disusun oleh Muhammad Ibrahim Salim. Diketik oleh Hanies Ambarsari.
Dia seorang wanita muhajir yang mulia dan tokoh yang besar karena akal dan kemuliaan jiwa
serta kemauannya yang kuat. Asma’ dilahirkan tahun 27 sebelum Hijrah. Asma’ 10 tahun lebih tua dari
pada saudaranya seayah, Aisyah, Ummul Mu’minin dan dia adalah saudara sekandung dari Abdullah bin
Abu Bakar.

Asma’ mendapat gelar Dzatun nithaqain (si empunya dua ikat pinggang), karena dia mengambil
ikat pinggangnya, lalu memotongnya menjadi dua. Satu dia gunakan untuk sufrah (bungkus makanan
untuk bekal) Rasulullah SAW, dan yang lain sebagai pembungkus qirbahnya pada waktu malam, ketika
Rasulullah SAW dan Abu Bakar Ash-Shiddiq keluar menuju gua.

Penduduk Syam mengolok-olok Ibnu Zubair dengan julukan “Dzaatun nithaqain” ketika mereka
memeranginya. Maka Asma’ bertanya kepada puteranya itu, Abdullah bin Zubair :”Mereka mengolok-olok
kan kamu ?” Abdullah menjawab :”Ya.” Maka Asma’ berkata :”Demi Allah, dia adalah benar.” Ketika Asma
menghadap Al-Hajjaj, dia berkata: “Bagaimana engkau mengolok-olok Abdullah dengan julukan Dzatun
nithaqain ? Memang, aku mempunyai sepotong ikat pinggang yang harus dipakai oleh orang perempuan
dan sepotong ikat pinggang untuk menutupi makanan Rasulullah SAW.”

Asma’ telah lama masuk Islam di Mekkah, sesudah 17 orang dan berbai’at kepada Nabi SAW, serta
beriman kepadanya dengan iman yang kuat.

Pengamalan Islam Asma’ yang Baik
——————————————————-
Pada suatu ketika, datang Qatilah binti Abdul Uzza kepada puterinya, Asma’ binti Abu Bakar Ash-
Shiddiq, sedangkan Abu Bakar telah menalaknya di zaman jahiliyyah, membawa hadiah-hadiah berupa
kismis, samin dan anting-anting. Namun Asma’ menolak hadiah tersebut dan tidak mengizinkannya memasuki
rumahnya. Kemudian dia memberitahu Aisyah :”Tanyakan kepada Rasulullah SAW ….?” Aisyah menjawab :
“Biarlah dia memasuki rumahnya dan dia (Asma’) boleh menerima hadiahnya.”

Tindakan Asma’ yang Baik
—————————————–
Abu Bakar r.a. membawa seluruh hartanya yang berjumlah 5.000 atau 6.000 ketika Rasulullah SAW
pergi hijrah. Kemudian kakeknya, Abu Quhafah datang kepada Asma’ sedangkan dia seorang buta. Abu
Quhafah berkata :”Demi Allah, sungguh aku lihat dia telah menyusahkan kalian dengan hartanya, sebagaimana
dia telah menyusahkan kalian dengan dirinya.”

Maka Asma’ berkata kepadanya:”Sekali-kali tidak, wahai, Kakek! Beliau telah meninggalkan kebaikan
yang banyak bagi kita.” Kemudian Asma’ mengambil batu-batu dan meletakkanya di lubang angin, di mana
ayahnya pernah meletakkan uang itu. Kemudian dia menutupinya dengan selembar baju. Setelah itu Asma’
memegang tangannya (Abu Quhafah) dan berkata: “Letakkan tangan Anda di atas uang ini.” Maka kakeknya
meletakkan tangannya di atasnya dan berkata :”Tidaklah mengapa jika dia tinggalkan ini bagi kalian, maka
dia (berarti) telah berbuat baik. Ini sudah cukup bagi kalian.” Sebenarnya Abu Bakar tidak meninggalkan
sesuatu pun bagi keluarganya, tetapi Asma’ ingin menenangkan hati orang tua itu.

Az-Zubair ibnul Awwam menikah dengannya, sementara dia tidak mempunyai harta dan sahaya
maupun lainnya, kecuali kuda. Maka Asma’ memberi makan kudanya dan mencukupi kebutuhan serta
melatihnya. Menumbuk biji kurma untuk makanan kuda, memberinya air minum dan membuat
adonan roti. Suatu ketika Az-Zubair bersikap keras terhadapnya, maka Asma’ datang kepada ayahnya dan
mengeluhkan hal itu. Maka sang ayahpun berkata : “Wahai anakku, sabarlah! Sesungguhnya wanita itu apabila
bersuami seorang yang sholeh, kemudian suaminya meninggal dunia, sedang isterinya tidak menikah lagi,
maka keduanya akan berkumpul di surga.”

Asma’ datang kepada Nabi SAW, lalu bertanya :”Wahai, Rasulullah,aku tidak punya sesuatu di rumahku,
kecuali apa yang diberikan oleh Az-Zubair kepadaku. Bolehkah aku memberikan dan menyedekahkan apa
yang diberikan kepadaku olehnya ?” Maka Nabi SAW menjawab :”Berikanlah (bersedekahlah) sesuai kemampuanmu
dan jangan menahannya agar tidak ditahan pula suatu pemberian terhadapmu.”
Maka Asma’ adalah termasuk seorang wanita dermawan. Dari Abdullah bin Zubair r.a. dia berkata :”Tidaklah
kulihat dua orang wanita yang lebih dermawan daripada Aisyah dan Asma’.” Kedermawanan mereka berbeda.
Adapun Aisyah, sesungguhnya dia suka mengumpulkan sesuatu, hingga setelah terkumpul padanya, diapun
membagikannya. Sedangkan Asma’, maka dia tidak menyimpan sesuatu untuk besoknya. Asma’ adalah
seorang wanita yang dermawan dan pemurah. Dia tidak menyimpan sesuatu untuk hari esok. Pernah dia
menderita sakit, lalu dia bebaskan semua hamba sahayanya.

Asma’ ikut dalam Perang Yarmuk bersama suaminya, Az-Zubair, dan menunjukkan keberaniannya
yang baik. Dia membawa sebilah belati dalam pasukan Said bin Ash di masa fitnah, lalu diletakkannya di balik
lengan bajunya. Kemudian ditanyakan kepadanya :”Apa yang kamu lakukan dengan membawa ini ?” Asma’
menjawab :”Jika ada pencuri masuk kepadaku, maka aku tusuk perutnya.” Umar ibnul Khaththab r.a.
memberi tunjangan untuk Asma’ sebanyak 1000 dirham.

Asma’ meriwayatkan 58 hadits dari Nabi SAW; dan dalam suatu riwayat dikatakan : bahwa dia
meriwayatkan 56 hadits [Al-Kazaruni, “Mathaali’ul Anwaar”]. Telah sepakat antara Bukhari dan Muslim atas
14 hadits. Bukhari meriwayatkan sendiri atas 4 hadits, sedangkan Muslim juga meriwayatkan sebanyak itu pula.
[Al-Hafih Al-Maqdisi, Al-Kamaal fii Ma’rifatir Rijaal]. Dalam satu riwayat : Diceritakan bahwa Asma’ meri-
wayatkan 22 hadits dalam Shahihain. Sedangkan yang disepakati Bukhari dan Muslim 13 hadits. Bukhari
meriwayatkan sendiri 5 hadits, sedangkan Muslim meriwayatkan 4 hadits. [Ibnul Jauzi, “Al-Mujtana”]

Asma’ Sebagai Penyair dan Pemberani
————————————————————
Asma’ adalah wanita penyair dan pemberani yang mempunyai logika dan bayan. Dia berkata
mengenai suaminya, Az-Zubair, ketika dibunuh oleh Amru bin Jarmuz Al-Mujasyi’i di Wadi As-Siba’
(5 mil dari Basrah) ketika kembali dari Perang Jamal :
Ibnu Jarmuz mencurangi seorang pendekar dengan sengaja
di waktu perang, sedang dia tidak lari
Hai, Amru, kiranya kamu ingatkan dia
tentu kamu mendapati dia
bukan seorang yang bodoh, tidak kasar
hati dan tangannya
semoga ibumu menangisi, karena kamu
bunuh seoranng Muslim
dan kamu akan terima hukuman
pembunuhan yang disengaja

Tekad Asma’ yang Kuat, Kemuliaan Jiwa dan Keberaniannya
————————————————————————————————
Kata-kata Asma’ kepada puteranya menunjukkan kepada kita tentang makna-makna yang luhur itu.
Suatu saat puteranya, Abdullah, datang menemui ibunya, Asma’ yang buta dan sudah berusia 100 tahun.
Dia berkata kepada ibunya :”Wahai, Ibu, bagaimana pendapat Anda mengenai orang yang telah
meninggalkan aku, begitu juga keluargaku.” Asma’ berkata :”Jangan biarkan anak-anak kecil bani Umayyah
mempermainkanmu. Hiduplah secara mulia dan matilah secara mulia. Demi Allah, sungguh aku berharap
akan terhibur mengenaimu dengan baik.” Kemudian Abdullah keluar dan bertempur hingga ia mati terbunuh.

Konon, Al-Hajjaj bersumpah untuk tidak menurunkannya dari tiang kayu hingga ibunya meminta
keringanan baginya. Maka tinggallah dia di situ selama satu tahun. Kemudian ibunya lewat di bawahnya dan
berkata : “Tidakkah tiba waktunya bagi orang ini untuk turun ?” Diriwayatkan, bahwa Al-Hajjaj berkata kepada
Asma’ setelah Abdullah terbunuh :”Bagaimanakah engkau lihat perbuatanku terhadap puteramu ?” Asma’
menjawab :”Engkau telah merusak dunianya, namun dia telah merusak akhiratmu.”

Asma’ wafat di Mekkah dalam usia 100 tahun, sedang giginya tetap utuh, tidak ada yang tanggal
dan akalnya masih sempurna. [Mashaadirut Tarjamah : Thabaqaat Ibnu Saad, Taarikh Thabari, Al-Ishaabah
dan Siirah Ibnu Hisyam]. Penulis buku, Musthafa Luthfi Al-Manfaluthi mencatat dialog yang terjadi antara
Asma’ dengan Abdullah, dalam sebuah kasidah yang dianggap sebuah karya seni yang indah. Dia berkata :
Asma’ di antara manusia adalah sebaik-baik wanita ia lakukan perbuatan terbaik di saat perpisahan
datang kepadanya Ibnu Zubair menyeret baju besi di bawah baju besi berlumur darah
Ia berkata : Wahai, Ibu, aku telah payah dengan urusanku
antara penawanan yang pahit dan
pembunuhan yang keji.
Teman-teman dan zaman mengkhianatiku,
maka aku tak punya teman selain pedangku
kulihat bintangku yang tampak terang
telah lenyap dariku dan tidak lagi naik.
Kaumku telah berupaya melindungiku,
maka tak ada penolong selain itu jika
aku menerimanya.
Asma’ menjawab dengan kelopak mata
yang kering seakan-akan tidak ada tempat sebelumnya
bagi air mata.
Air mata itu berubah menjadi uap
yang naik dari hatinya yang patah.
Tidaklah diselamatkan kecuali kehidupan
atau ia menjadi tulang-belulang seperti
halnya batang pohon
kematian di medan perang lebih baik bagimu
daripada hidup hina dan tunduk
jika orang-orang menelantarkanmu,
maka sabar dan tabahlah,
karena Allah tidak menelantarkan.
Matilah mulia, sebagaimana engkau hidup mulia
dan hiduplah selalu dalam namamu
yang mulia dan tinggi
tiada di antara hidup dan mati
kecuali menyerang di tengah pasukan itu.

Kata-kata Asma’ kepada puteranya ini akan tetap menjadi cahaya di atas jalan kehidupan yang mulia,
yaitu ketika puteranya berkata :
“Wahai, Ibu, aku takut jika pasukan Syam membunuhku, mereka akan memotong-motong tubuh dan
menyalibku.” Asma’ menjawab dengan perkataan yang kukuh seperti gunung, kuat seperti jiwanya, besar
seperti imannya, dan perkataan itulah yang menentukan akhir pertempuran : “Hai, Anakku, sesungguhnya
kambing yang sudah disembelih tidaklah merasa sakit bila ia dikuliti.”

Al-Manfaluthi menyudahi kasidahnya dengan perkataan :
Datang berita kematian kepada ibunya,
maka ia pun mengeluarkan air matanya
yang tertahan.

Abdullah gugur sebagai syahid dan unggulan nilai-nilai yang tinggi dari ibu teladan. Kisah ini tercatat
dalam lembaran-lembaran yang paling cemerlang dalam sejarah orang-orang yang kekal.

Leave a comment

You must be logged in to post a comment.